SEJUMLAH peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi sepanjang pekan ini, yakni di kawasan lereng Gunung Bromo, Jawa Timur dan Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sementara di Bangka Tengah, sepanjang Juli-Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat 51 kejadian serupa.
Menurut pihak berwenang, dugaan sementara yang memicu peristiwa ini adalah faktor kelalaian manusia, entah puntung rokok yang lupa dimatikan dan dibuang sembarangan, api unggun yang belum sempurna dipadamkan, dan semacamnya. Lanskap yang kering dan kencangnya tiupan angin, membuat percikan api berkobar, menjalar tak terkendali.
Tapi, apa pun pemicunya, kobaran api yang menghanguskan ratusan hektare lahan ini harus menjadi peringatan serius. Apalagi, sebagian besar wilayah di Indonesia saat ini sedang mengalami musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berulang kali telah memperingatkan bahwa musim kemarau tahun ini akan mencapai puncaknya pada Juli hingga September, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan rentan memicu kebakaran.
Mereka yang beraktivitas di sekitar hutan, terutama para pendaki amatir, mesti waspada. Jangan buang puntung rokok sembarangan. Jika memasak atau membuat api unggun, pastikan apinya benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
Jika pihak berwenang menutup suatu kawasan atau melarang penyalaan api, anggaplah instruksi tersebut sebagai sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar saran. Sebab, api tak bisa memahami instruksi untuk padam sendiri. Kitalah yang mesti menyalakan kewapadaan tinggi.
Selalu Waspada
Berbagai peristiwa karhutla ini telah memberikan bukti bahwa kecerobohan kecil dapat berdampak besar. Puluhan peristiwa karhutla di Bangka Tengah, meluasnya area yang terbakar di Bromo, serta munculnya kembali titik api di sekitar Rinjani, tidak boleh dipandang sebagai peristiwa terpisah. Semua itu menjadi pengingat betapa vegetasi kering, hembusan angin, dan satu sumber pemicu api, dapat saling berinteraksi.
Sebetulnya kita tidak perlu mengeluarkan ongkos mahal menyewa helikopter, pesawat nirawak (drone), ataupun satelit untuk memantau titik api. Terkadang, yang diperlukan hanyalah tindakan yang jauh lebih sederhana; pastikan selalu waspada, terutama saat beraktivitas yang dapat memicu percikan api. //
Oleh: Adiyanto, wartawan Bisnis Today





































