www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 8 Agustus 2026
Home EKONOMI Memaknai Hutan sebagai Ruang Hidup Melalui Sedekah Hutan
EKONOMI

Memaknai Hutan sebagai Ruang Hidup Melalui Sedekah Hutan

Hutan diperlakukan sebagai ruang hidup yang memiliki makna, ingatan, dan hubungan sosial.

Kegiatan Sedekah Hutan di FIB UI, Sabtu (8/8/2026) (dok:Adi/Bisnistoday)
Kegiatan Sedekah Hutan di FIB UI, Sabtu (8/8/2026) (dok:Adi/Bisnistoday)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Sabtu (8/8/2026) pagi, ratusan orang yang umumnya mengenakan budaya tradisional itu, berkumpul di depan pelataran Gedung IX Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Diiringi tetabuhan musik tradisional, mereka lantas bergerak menuju kawasan hutan dan danau di sekitar Jembatan Teksas  yang menghubungkan FIB (dulu Fakultas Sastra) dengan Fakultas Teknik UI.

Selain kirab budaya, rombongan ini hendak melangsungkan ritual Sedekah Hutan. Kegiatan ini antara lain diisi dengan menanam pohon jati merah (Tectona grandis) serta menebar ribuan bibit ikan, dan melepasliarkan ratusan ekor burung.

Acara rutin tahunan yang digagas Komunitas Bakul Budaya FIB UI ini bertujuan untuk merawat lingkungan, khususnya di sekitar kampus. Tahun ini, tema yang diusung adalah Hutan Bukan Mainan.  

Menurut Dewi Marhaeni, Ketua Bakul Budaya sekaligus pelaksana kegiatan, hutan bukan sekadar ruang hijau yang menjadi latar kehidupan kampus. Ia diperlakukan sebagai ruang hidup yang memiliki makna, ingatan, dan hubungan sosial.”Kamu rutin menggelar acara ini, dan tahun ini merupakan yang keempat kalinya,’ ujar Dewi.

Kegiatan yang tahun ini melibatkan Kementerian Kehutanan, Yayasan Jati Nusantara, dan pihak Fakultas Ilmu Budaya ini membawa pesan yang lebih dalam daripada sekadar seremonial.

Kata “sedekah” mengandung gagasan tentang memberi kembali. Manusia tidak ditempatkan semata-mata sebagai pengguna alam, melainkan sebagai bagian dari jejaring kehidupan yang memiliki kewajiban untuk merawat dan mengembalikan sesuatu kepada lingkungan tempat ia hidup. “Kegiatan ini mencoba menghadirkan kembali hubungan semacam itu,” terang Dewi.

Gagasan masa depan

Dengan begitu, menurut dia, hutan tidak dibiarkan menjadi ruang kosong. Ia adalah ruang yang dihidupkan oleh interaksi manusia dan makhluk lainnya.

Penanaman Jati Merah menjadi salah satu simbol penting dalam acara tersebut. Sebatang pohon yang ditanam hari itu tidak berhenti sebagai objek penghijauan. Ia merupakan penanda waktu, sesuatu yang ditanam oleh manusia hari ini dan pertumbuhannya akan dinikmati oleh manusia pada masa yang mungkin tidak lagi sama, apalagi di tengah iklim yang kian cepat berubah.

Dalam pengertian itu, menanam pohon dan melepasliarkan hewan adalah tindakan budaya yang mengandung gagasan tentang masa depan. Ia merupakan bentuk kesediaan untuk berbuat untuk kelangsungan mahluk hidup. //

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menkop Meletakkan Batu Pertama Pembangunan KDMP Dekai di Yahukimo

YAHUKIMO, Bisnistoday - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono melakukan peletakan batu pertama...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Wamenkop Lepas 86 Pekerja Migran ke Jepang

TANGERANG, Bisnistoday – Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Farida Farichah melepas secara simbolis...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Program KDKMP Wujud Pemikiran Soemitro Djojohadikusumo

JAKARTA, Bisnistoday - Pemikiran Ekonom Indonesia, Prof. Soemitro Djojohadikusumo yang menegaskan kemerdekaan...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kemenkop Komitmen Jaga Integritas Anti Korupsi Guna Sukseskan Program KDKMP

JAKARTA, Bisnistoday –  Kementerian Koperasi menegaskan komitmennya menjaga integritas dan kepercayaan publik...