JAKARTA, Bisnistoday – Sesuai rencana, bahwa Presiden terpilih, Donald John Trump dilantik pada 20 Januari 2025, pukul 12:00 waktu setempat atau Selasa, 21 Januari 2025 tengah malam, sebagai Presiden Amerika Serikat ke 47 atau sebagai pribadi, bahwa Presiden Trump yang kedua kalinya menjabat Presiden AS ke 45 periode 2017-2021, sebagai pimpinan tertinggi negara adidaya ini.
Masa kembalinya kempemimpina Presiden Trump ini tentu akan mengingat masa lalu, ketika Presiden Trump menjabat periode 2017-2021. Tidak sedikit yang menduga Presiden Trump dari Partai Republik ini akan memberikan warna yang berbeda dari Presiden Joe Bidden dari Demokrat dalam percaturan ekonomi dunia.
Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas memperkirakan, pasar negara berkembang seperti Indonesia akan lebih volatile dibanding masa sebelumnya. Bahwa kecenderungan menaikkan FFR (Fed Rate) akan lebih berpeluang pada masa Trump ini. “Tentu saja, hal ini akan mendapat reaksi pasar di Indonesia, baik saham maupun obligasi,” ujarnya kepada Bisnistoday, Senin (20/1).
Apalagi, The Fed juga masih memiliki ruang untuk menaikkan rate sekitar 50% lagi, tentu akan menjadi tantangan bagi negara berkembang. Diperkirakan juga pada periode hingga Desember 2025 ini, The Fed berpeluang untuk menaikkan sekitar 2,7% menjadi 2,9%. Tentu kebijakan ini, akan mempertimbangkan seberapa pulihnya daya beli konsumsi domestic AS recovery.
Seperti diketahui, lanjut Nafan, pada Januari 2025 The Fed cenderung mempertahankan bunga FFR, hingga pelantikan Presiden Trump pada 20 Januari 2025. “ Kedepan, tentu cenderung volatile, dan disini The Fed akan terus menyesuaikan dinamika pekembangan ekonomi domestiknya.”
Disisi lain, bahwa pasar domestik Indonesia mengapresiasi terhadap keputusan BI Rate yang turun diluar ekspektasi menjadi 5,75%. Hal ini tentu sebagai langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (pro growth) serta mempertimbangkan inflasi masih dalam rentang prediksi Bank Indonesia plus minus 1 dari 2,5%.
“Respon positif juga terlihat di IHSG yang hingar bingar, namun begitu dari sisi nilai tukar rupiah, agak terdegradasi. Pasar uang menilai sentimen penurunan BI Rate wajar dan bersifat temporay saja.”
Untuk pasar uang ini, lanjut Nafan, relatif masih berpotensi terdepresiasi karena faktor dinamika pemeritah AS kedepan. Sedangkan pasar obligasi domestik juga terdampak karena capital outflow juga tidak bisa dihindari. “Sepertinya tetap price in (lebih cenderung proteksi) untuk kebijakan kepemimpinan Amerika Seriktat.”
Cenderung Menarik Diri
Executive Director Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengutarakan, kebijakan Trump kedepan cenderung isolasionais. Seperti kecenderungan AS untuk lebih menarik diri terhadap kebijakan WTO serta isu global dibawah World Bank atau IMF.
“Kebijakan isolasionis atau menarik diri dari Presiden Trump itu pasti akan membahayakan berbagai acara-acara ataupun berbagai inisiatif di tingkatan multilateral dan global,” ujar Yose./









































