JAKARTA, Bisnistoday – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kini memasuki tahap uji coba di 100 kabupaten/kota dari 38 provinsi di Indonesia. Meskipun masih dalam tahap percakapan dan evaluasi, tujuan dari program ini adalah untuk mengidentifikasi berbagai potensi masalah yang mungkin muncul serta mempersiapkan pelaksanaan program dengan biaya yang tidak sedikit.
Prof Dr. Henry Indraguna SH MH, politisi senior Partai Golkar, memberikan pandangannya terkait pelaksanaan program ini. Menurutnya, meski sangat penting dan ambisius, program MBG bukanlah hal yang mudah. Diperlukan upaya besar dan koordinasi dari seluruh penyelenggara negara untuk menjamin kelancaran program ini serta mendukung terwujudnya generasi unggul pada tahun 2045 yang siap bersaing di kancah internasional.
“Program ini menuntut komitmen yang tinggi dari seluruh pihak, terutama dalam memastikan distribusi makanan bergizi tepat sasaran. Kita ingin anak-anak kita menjadi lebih sehat dan cerdas, serta siap menghadapi tantangan dunia global,” ujar Prof Henry, dalam keterangannya, Minggu (3/1/2025).
Dia yang juga menyoroti pembentukan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga non-kementerian yang memiliki peran penting dalam menjaga pemenuhan gizi di seluruh penjuru tanah air.
Prof Henry memberikan apresiasi terhadap langkah Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang telah menginisiasi pembentukan BGN sebagai bagian dari komitmen mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi. Dengan keberadaan BGN, diharapkan dapat mempercepat pemerataan distribusi pangan bergizi di seluruh wilayah Indonesia.
Salah satu aspek yang ditekankan oleh Prof Henry adalah peran penting Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam pelaksanaan MBG. Menurutnya, keterlibatan TNI, yang sudah memiliki pengalaman dan pelatihan dalam operasi di wilayah terpencil, adalah langkah yang sangat tepat untuk memastikan distribusi makanan bergizi sampai ke seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau.
“Keberadaan TNI yang memiliki jaringan dan kemampuan distribusi yang baik akan sangat membantu dalam memastikan bahwa program ini sampai ke daerah-daerah yang membutuhkan, terutama di kawasan perbatasan dan pedesaan,” tambah Prof Henry.
Selain itu, Prof Henry juga menyoroti pentingnya fokus pada anak-anak usia sekolah dalam pelaksanaan MBG. Dengan memberikan akses makanan bergizi kepada anak-anak, dampak positif program ini diharapkan dapat dirasakan dalam jangka panjang, seperti mengurangi angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Indikator keberhasilan MBG menurut Prof Henry tidak hanya dapat dilihat dari aspek kesehatan, tetapi juga dari dampaknya terhadap pendidikan. Jika pelaksanaan MBG berhasil, maka diharapkan bisa meningkatkan kehadiran di sekolah, konsentrasi belajar yang lebih baik, serta menurunkan angka perundungan di kalangan pelajar. Oleh karena itu, pengawasan yang ketat dan tata kelola yang transparan sangat diperlukan agar program ini berjalan dengan efektif.
“Penting bagi kita untuk memastikan bahwa program ini juga menyasar daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, karena mereka adalah kelompok yang paling membutuhkan akses makanan bergizi,” ujar Prof Henry, yang mengusulkan agar uji coba MBG bisa lebih luas dengan memperhatikan daerah-daerah miskin agar dampaknya lebih menyeluruh.
Melalui program MBG, Prof Henry berharap Indonesia dapat menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap berkompetisi di dunia internasional. Program ini, yang terwujud melalui Perpres Nomor 83/2024, memiliki potensi besar untuk membantu tumbuh kembang anak-anak dari PAUD hingga SMA, serta ibu hamil dan ibu menyusui.









































