JAKARTA, Bisnistoday- Forum Guru Besar dan Doktor INSAN CITA menggelar diskusi bertajuk Resiliensi Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global. Diskusi tersebut menyoroti berbagai tekanan global yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional, mulai dari konflik geopolitik hingga dinamika perdagangan internasional.
Dr. Aryo Irhamna menjelaskan bahwa saat ini terdapat empat guncangan ekonomi dunia yang secara langsung berdampak pada Indonesia. Ia menekankan bahwa eskalasi konflik Timur Tengah berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca eksternal Indonesia.
“Kenaikan 10 USD per barel telah menekan Current Account Defisit (CAD) Indonesia senilai 3–4 miliar USD yang langsung tercatat di neraca pembayaran,” ujar Aryo dalam diskusi tersebut.
Selain itu, ia juga menyoroti derasnya arus produk industri dari China ke pasar domestik Indonesia yang dinilai sulit dibendung. Menurutnya, Indonesia berada pada posisi terjepit dalam dinamika ekonomi global.
“Kita terjepit, karena 34 persen impor mesin Indonesia dari China, juga 25 persen total impor kita dari China, tapi sekitar 12–13 miliar dolar US ekspor kita ke USA,” jelasnya.
Dari sisi energi, Aryo mengakui Indonesia masih menjadi net importir minyak. Namun ia menegaskan bahwa secara keseluruhan Indonesia tetap memiliki kekuatan sebagai eksportir energi.“Betul bahwa kita net impor minyak, tapi kita juga net eksportir energi,” tegas Aryo.
Ia menambahkan, nilai ekspor energi Indonesia yang meliputi batu bara, LNG, dan CPO mencapai 54,5 miliar dolar AS pada 2025. Sementara impor BBM berada di angka 28,5 miliar dolar AS, sehingga Indonesia masih mencatat surplus energi sekitar 26 miliar dolar AS.
Dampak Konflik Global
Sementara itu, Dr. Halim Alamsyah menyoroti dampak konflik global terhadap sistem keuangan domestik. Menurutnya, gejolak geopolitik mendorong perubahan perilaku investor global yang beralih ke aset aman seperti emas.
“Masyarakat dunia terutama para orang kaya lebih melihat risiko yang berubah. Berbagai risiko geopolitik menyebabkan orang cenderung melepas USD dan membeli emas,” kata Halim. Ia juga mengingatkan bahwa arus keluar modal dari Indonesia menjadi perhatian serius.“Capital outflow Indonesia saat ini merupakan yang terburuk dalam 20 tahun,” ungkapnya.
Menurut Halim, jalur ekspektasi pasar menjadi faktor paling cepat memicu gejolak ekonomi dibandingkan jalur perdagangan maupun fiskal. Ketika pelaku pasar memperkirakan inflasi atau risiko ekonomi meningkat, pergerakan dana dapat terjadi dalam waktu singkat.
Diskusi Forum Guru Besar INSAN CITA tersebut menegaskan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia masih terjaga, meskipun menghadapi tekanan global yang kompleks. Kekuatan ekspor energi, pengelolaan risiko fiskal, serta stabilitas keuangan menjadi kunci utama menjaga resiliensi ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global./






































