Press "Enter" to skip to content

Terbuka Potensi Kepengurusan NU Terbelah 

MUKTAMAR NU : Potensi kemenangan Gus Yahya alias Yahya Staquf untuk merebut ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU di Lampung sangat besar.
Social Media

Potensi kemenangan Gus Yahya alias Yahya Staquf untuk merebut ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU di Lampung sangat besar.  Salah satu faktor kemenangan Gus Yahya adalah dukungan wakil ketua DPR, Muhaimin Iskandar atau cak Imin kepada Gus Yahya.

Apalagi nanti dalam pemilihan Ketua Umum PBNU, metode pemilihan dengan cara menggiring suara cabang-cabang NU ke arah aklamasi, atau voting, satu suara satu cabang, tetap saja yang akan menang adalah Gus Yahya.

Dengan adanya penolakan terhadap Gus Yahya sebagai Ketua umum PBNU oleh kubu KH Said Aqil Siradj, maka muktamar NU akan melahirkan dua atau tiga PBNU tandingan. PBNU pertama versi Gus Yahya, PBNU kedua, versi kubu KH Said Aqil Siradj, dan PBNU ketiga, versi Indonesia Timur.

Namun demikian, kemenangan Gus Yahya sebagai ketua umum PBNU,  tidak akan diterima atau ditolak oleh kubu Prof. DR. KH Said Aqil Siradj, MA. Mungkin saja dengan alasan adanya kecurangan dalam pemilihan, dan adanya intervensi pemerintah melalui Kementerian Agama kepada cabang-cabang NU agar tidak memilih kembali KH Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum PBNU.

Direktur Centre for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi, saat berbincang dengan media di Jakarta, belum lama ini.

Dengan adanya penolakan terhadap Gus Yahya sebagai Ketua umum PBNU oleh kubu KH Said Aqil Siradj, maka muktamar NU akan melahirkan dua atau tiga PBNU tandingan. PBNU pertama versi Gus Yahya, PBNU kedua, versi kubu KH Said Aqil Siradj, dan PBNU ketiga, versi Indonesia Timur.

Untuk menghindari PBNU terbelah menjadi tiga (pasca Muktamar NU Lampung), maka persoalan pemilihan Ketua Umum jangan diserahkan kepada PC NU dan PW NU secara langsung atau voting. Lebih baik, dan lebih maslahah memilih metode pemilihan dengan cara AHWA atau PC NU dan PW NU memilih para kyai sepuh untuk menjadi anggota ahlul halli wal aqdi (AHWA).

Lebih baik, dan lebih maslahah memilih metode pemilihan dengan cara AHWA atau PC NU dan PW NU memilih para kyai sepuh untuk menjadi anggota ahlul halli wal aqdi (AHWA).

Nantinya, para kyai sepuh inilah yang akan memilih Ketua Umum PBNU. Dengen begitu, bisa menghindari politik uang, pengaruh politisi busuk, dan mengindari PBNU terbelah berkeping keping menjadi tiga PBNU.

Kemudian, yang harus ingat, komposisi anggota AHWA tidak boleh memasukkan Kyai  Ma’ruf Amin sebagai apapun dalam AHWA. Kalau kyai  Ma’ruf Amin ikut sebagai AHWA, ini sama saja, pemerintah ikut campur dalam urusan internal NU.

Kesempatan terakhir, para kyai sepuh akan rapat, dan milih Ketua Umum PBNU dengan kriteria calon sebagai berikut; pertama tokoh nasional, kedua, punya jaringan luas baik secara nasional dan internasional, dan ketiga dihormati dan disegani oleh para kyai dan tokoh tokoh NU.

Apabila mengacu kepada kriteria AHWA seperti diatas, maka tokoh yang sedang muncul saat ini, salah satunya adalah kyai As’ad Said Ali. Dimana kemunculan kyai As’ad Said Ali bisa menyatukan kembali NU, yang saat ini sedang menuju perpecahan, bukan perpecahaan karena perbedaan wacana, api perpecahaan konflik fisik yang sangat membahayakan pemerintahan Jokowi.

Oleh : Uchok Sky Khadafi, Pengamat Politik Anggaran

Comments are closed.