JAKARTA, Bisnistoday- Para emak-emak, warga miskin kota yang tergabung dalam Serikat Pekerja Rakyat Indonesia (SPRI) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut untas dugaan tindakan pencucian uang. Aksi para emak-emak ini akan digelar dalam waktu dekat di depan Gedung KPK, Jakarta.
Salah satu narahubung aksi, Dika Moehammad, dalam keteranganya mengungkapkan, rakyat miskin baru-baru ini dikejutkan dengan temuan PPTAK terkait transaksi mencurigakan senilai sekitar Rp 300 triliun rekening para pejabat Kemenkeu.
“Tidak berhenti sampai situ, rakyat disakiti gaya hidup Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bergaya hidup mewah, melebihi dari nilai gaji yang diterimanya,” cetusnya.
Padahal, rakyat miskin jumlahnya sangat banyak tidak tersentuh bantuan karena keterbatasan anggaran. Solusinya, menambah anggaran merupakan salah satu konsekuensi paling konkret dalam upaya pengentasan kemiskinan.
“Namun, seringkali negara berdalih anggaran yang terbatas. Sebanyak 2,3 juta keluarga miskin di Indonesia, tidak mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH),” dalam keteranganya.
Menurutnya, hal tersebut terjadi dengan alasan terbatasnya anggaran yang dialokasikan APBN. Tahun 2023 Pemerintah hanya mengalokasikan dana Program Keluarga Harapan (PKH) untuk 10 juta Keluarga Miskin, sebesar Rp 28,7 Triliun.
Karena itu, warga miskin kota tergabung dalam serikat perjuangan rakyat Indonesia (SPRI) akan menggelar aksi di depan Gedung KPK, Jakarta. Aksi para emak-emak ini, mengusung dukungan pengusutan terhadap mafia pencucian uang di Kemenkeu dan lembaga negara lainnya. “Sita harta koruptor untuk dana perlindungan sosial,” tegasnya./








































