www.bisnistoday.co.id
Jumat , 6 November 2026
Home LIFESTYLE Wisata & Kuliner Wisata Jatiluwih Makin Digemari Wisatawan Eropa dan Asia
Wisata & Kuliner

Wisata Jatiluwih Makin Digemari Wisatawan Eropa dan Asia

Jatiluwih Bali
DESTINASI WISATA Jatiluwih, Tabanan, Bali.
Social Media

TABANAN, Bisnistoday – Destinasi wisata Jatiluwih yang berada di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali menjadi pusaran kedatangan para turis asing terutama dari Eropa. Hanya sebagian kecil turis hadir dari Asia dan domestic. Kini, kawasan Jatiluwih menjadi kawasan mandiri dengan tumpuan pariwisata.

Sebenarnya, menurut John K Purna, Manajer Badan Pengelola Jatiluwih, Tabanan, Bali, turis datang pertama-tama ke kawasan Jatiluwih ini sekitar tahun 1978 silam. Orang Bule Jerman yang tiba di Jatiluwih dengan menikmati pemandangan alam yang sejak indah, dengan kontur sawah teras siring yang rapih. Biasanya para turis Jerman ini lambat laun berdatangan, singgah di Jatiluwih dari Tanah Lot, terus ke Bedugul dan balik ke Hotel.

Jatiluwih telah diusulkan awalnya dinas pariwisata, hingga masuk ke UNESCO, untuk ditetapkan menjadi salah satu warisan  budaya dunia. Kebetulan, dengan proses yang a lot akhirnya kawasan Jatiluwih ini lolos penilaian UNESCO. Selanjutnya, tahun 2014, dibentuk badan yang mengelola kawasan wisata Jatiluwih lebih serius.

“Dibentukanya badan pengelola merupakan gabungan dari berbagai unsur tepatnya lima unsur termasuk ketua SUBAK atau Besakih. Tujuan badan ini mengelola operasional Wisata Jatiluwih dan bertanggungjawab terhadap kunjungan turis asing,” ungkap John K Purna.

Pekembangan selanjutnya, lanjut John, setalah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia, turis asing lambat laun terus makin banyak berkunjung.Paling banyak yang berkujung adalah turis dari Eropa, dan Asia, serta sebagian kecil atau 10 persen dari turis lokal.

“Wisatawan biasanya, berkunjung ke sawah sistem teras siring kebanyakan dari Eropa.Kemudian juga menikmati sepeda santai, dan disiapkan penyewaan, ataupun kalau sedang tracking juga disediakan lokasi dan kebetulan dekat dengan hutan.

Menikmati Pesona Alam

John K Purna mengutarakan, para turis Eropa itu biasanya gemar bersepeda dengan menyewa sepeda elektronik dengan tarif sekitar 150-200 ribu per dua jam lama sewa. Untuk tiket masuk, bagi turis bertarif Rp50 ribu per orang, dan anak-anak Rp15 ribu. Sedangkan turis lokasl 15 ribu dan anak-anak Rp5 ribu. “Dalam setahun kujungan turis bervaerasi, atau rata-rata per bulansekitar 900-1000 turis untuk Januari hingga Juni.”

Sedangkan, jumlah turis terus meningkat ketika memasuki musim Juni hingga Desember. Sebagai perkiraaan, masim turis ke Jatiluwih ini dengan rata-rata kunjungan sekitar 1200-1500 turis, bahkan ada sempat sebulan mencapai 3.000 an kunjungan turis untuk Agustus hingga akhir tahun.

“Disini, saya dibentu asisten dan divisi promoisi maupun parkir serta kelengkapan personel lainnya. Semua orang yang bekerja di Jatiluwih ini adalah orang lokal dalam satu desa. Bahkan, saya sendiri juga orang Jatiluwih, pulang kampung yang sebelumnya bertugas di Denpasar,” kata John K Purna.

Menurutnya, luas aeral sawah di Desa Jatiluwih ini sekitar 300 hektare, namun sekarang perkembanganya menyusut hingga tinggal sekitar 250 hektar di Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.”Di desa yang berpenduduk sekitar 3000 jiwa ini, ada dua adat yakni desa adat Jatiluwih serta desa adat Gunungsari.”

Sebenarnya, sistem pengaturan sawah berundak atau dikenal SUBAK ini sudah tercetus sejak abad 11 silam. Awalnya, penduduk yang membentuk kelompok-kelompok penggarap sawah sepakat dengan sistem pembagian aliran air secara merata atau SUBAK. Kalau terdapat 20 pemilik sawah di grup tersebut, maka besaran aliran air dibagi rata seper duapuluh lebar aliran air.

“Dengan sistem ini, tidak ada yang dirugikan atau yang diuntungkan, karena semua mendapatkan bagian air yang sama.”ujar John K Purna.

Selama ditetapkan Jatiluwih ini sebagai destinasi wisata dunia, maka kunjungan turis ikut meningkat. Karenanya, hasil pemasukan dari para turis inilah digunakan untuk sebagian membantuk para pengelola sawah dengan sistem SUBAK ini.

“Dalam sekali musim, misalnya dibantu Rp600 ribu, untuk pupuk kendati pemerintah tetap membantu. Dengan terganya kunjungan turis ini, telah menjadikan desa Jatiluwih menjadi desa yang mandiri.”

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Shanti dan produk SR Cakery (dok: pribadi)
LIFESTYLEWisata & Kuliner

Berawal dari Iseng, Shanti Merajut Cita Rasa dan Membangun SR Cakery

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Tidak semua usaha besar lahir dari perencanaan matang atau...

Lokakarya Mewujudkan Potensi Pengurangan Susut dan Sisa Pangan untuk Mendukung Transformasi Ekonomi Hijau Indonesia di Bali, akhir Oktober lalu. (dok:IBCSD)
LIFESTYLEWisata & Kuliner

IBCSD Dorong Hotel di Bali Jadi Garda Terdepan Pengurangan Sisa Pangan

Badung, Bisnistoday.co.id – Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian...

Wisata & Kuliner

Jelajah Cita Rasa dan Ragam Hiburan Nusantara di Batavia PIK

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Beragam cita rasa khas Indonesia, mulai dari hidangan Sumatra...

Wisata & Kuliner

K-Food Festa 2026 Berakhir Sukses, Perkuat Pasar Pangan Halal Korea di Indonesia

JAKARTA, Bisnistoday.co.id,- Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan Republik Korea bersama Korea...