www.bisnistoday.co.id
Selasa , 25 Juni 2024
Home LIFESTYLE Wisata & Kuliner Wisata Jatiluwih Makin Digemari Wisatawan Eropa dan Asia
Wisata & Kuliner

Wisata Jatiluwih Makin Digemari Wisatawan Eropa dan Asia

Jatiluwih Bali
DESTINASI WISATA Jatiluwih, Tabanan, Bali.
Social Media

TABANAN, Bisnistoday – Destinasi wisata Jatiluwih yang berada di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali menjadi pusaran kedatangan para turis asing terutama dari Eropa. Hanya sebagian kecil turis hadir dari Asia dan domestic. Kini, kawasan Jatiluwih menjadi kawasan mandiri dengan tumpuan pariwisata.

Sebenarnya, menurut John K Purna, Manajer Badan Pengelola Jatiluwih, Tabanan, Bali, turis datang pertama-tama ke kawasan Jatiluwih ini sekitar tahun 1978 silam. Orang Bule Jerman yang tiba di Jatiluwih dengan menikmati pemandangan alam yang sejak indah, dengan kontur sawah teras siring yang rapih. Biasanya para turis Jerman ini lambat laun berdatangan, singgah di Jatiluwih dari Tanah Lot, terus ke Bedugul dan balik ke Hotel.

Jatiluwih telah diusulkan awalnya dinas pariwisata, hingga masuk ke UNESCO, untuk ditetapkan menjadi salah satu warisan  budaya dunia. Kebetulan, dengan proses yang a lot akhirnya kawasan Jatiluwih ini lolos penilaian UNESCO. Selanjutnya, tahun 2014, dibentuk badan yang mengelola kawasan wisata Jatiluwih lebih serius.

“Dibentukanya badan pengelola merupakan gabungan dari berbagai unsur tepatnya lima unsur termasuk ketua SUBAK atau Besakih. Tujuan badan ini mengelola operasional Wisata Jatiluwih dan bertanggungjawab terhadap kunjungan turis asing,” ungkap John K Purna.

Pekembangan selanjutnya, lanjut John, setalah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia, turis asing lambat laun terus makin banyak berkunjung.Paling banyak yang berkujung adalah turis dari Eropa, dan Asia, serta sebagian kecil atau 10 persen dari turis lokal.

“Wisatawan biasanya, berkunjung ke sawah sistem teras siring kebanyakan dari Eropa.Kemudian juga menikmati sepeda santai, dan disiapkan penyewaan, ataupun kalau sedang tracking juga disediakan lokasi dan kebetulan dekat dengan hutan.

Menikmati Pesona Alam

John K Purna mengutarakan, para turis Eropa itu biasanya gemar bersepeda dengan menyewa sepeda elektronik dengan tarif sekitar 150-200 ribu per dua jam lama sewa. Untuk tiket masuk, bagi turis bertarif Rp50 ribu per orang, dan anak-anak Rp15 ribu. Sedangkan turis lokasl 15 ribu dan anak-anak Rp5 ribu. “Dalam setahun kujungan turis bervaerasi, atau rata-rata per bulansekitar 900-1000 turis untuk Januari hingga Juni.”

Sedangkan, jumlah turis terus meningkat ketika memasuki musim Juni hingga Desember. Sebagai perkiraaan, masim turis ke Jatiluwih ini dengan rata-rata kunjungan sekitar 1200-1500 turis, bahkan ada sempat sebulan mencapai 3.000 an kunjungan turis untuk Agustus hingga akhir tahun.

“Disini, saya dibentu asisten dan divisi promoisi maupun parkir serta kelengkapan personel lainnya. Semua orang yang bekerja di Jatiluwih ini adalah orang lokal dalam satu desa. Bahkan, saya sendiri juga orang Jatiluwih, pulang kampung yang sebelumnya bertugas di Denpasar,” kata John K Purna.

Menurutnya, luas aeral sawah di Desa Jatiluwih ini sekitar 300 hektare, namun sekarang perkembanganya menyusut hingga tinggal sekitar 250 hektar di Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.”Di desa yang berpenduduk sekitar 3000 jiwa ini, ada dua adat yakni desa adat Jatiluwih serta desa adat Gunungsari.”

Sebenarnya, sistem pengaturan sawah berundak atau dikenal SUBAK ini sudah tercetus sejak abad 11 silam. Awalnya, penduduk yang membentuk kelompok-kelompok penggarap sawah sepakat dengan sistem pembagian aliran air secara merata atau SUBAK. Kalau terdapat 20 pemilik sawah di grup tersebut, maka besaran aliran air dibagi rata seper duapuluh lebar aliran air.

“Dengan sistem ini, tidak ada yang dirugikan atau yang diuntungkan, karena semua mendapatkan bagian air yang sama.”ujar John K Purna.

Selama ditetapkan Jatiluwih ini sebagai destinasi wisata dunia, maka kunjungan turis ikut meningkat. Karenanya, hasil pemasukan dari para turis inilah digunakan untuk sebagian membantuk para pengelola sawah dengan sistem SUBAK ini.

“Dalam sekali musim, misalnya dibantu Rp600 ribu, untuk pupuk kendati pemerintah tetap membantu. Dengan terganya kunjungan turis ini, telah menjadikan desa Jatiluwih menjadi desa yang mandiri.”

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Happy Anniversary Bisnistoday.co.id

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

Kuliner Mal Ciputra
Wisata & Kuliner

Peranakan Food Festival di Mal Ciputra Berlangsung Meriah

JAKARTA, Bisnistoday - Mal Ciputra Jakarta, sebagai pusat perbelanjaan memang tidak dapat...

Wisata & Kuliner

Aktif Promosikan Pariwisata, Dato Sri Mohammed Shaheen Raih Penghargaan APEA

JAKARTA, Bisnistoday - Industri pariwisata terus mengalami peningkatan pasca-pandemi Covid 19. Di Indonesia khususnya,...

Budaya Bali
Wisata & Kuliner

Menteri AHY Buka Pesta Kesenian Bali XLVI Tahun 2024

BALI, Bisnistoday – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN),...

Kereta Ekonomi
Wisata & Kuliner

Kereta Ekonomi New Generation Versi Modifikasi Makin Nyaman

JAKARTA, Bisnistoday - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengoperasikan kereta ekonomi new...