www.bisnistoday.co.id
Senin , 10 Agustus 2026
Home GLOBAL Tingkatkan Diplomasi Jaga Keutuhan Kawasan ASEAN
GLOBAL

Tingkatkan Diplomasi Jaga Keutuhan Kawasan ASEAN

Tentara
KEDEPANKAN DIPLOMASI : Tentara bersenjata api lengkap dalam pertempuran, baru-baru ini./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday  –  Pakar kebijakan dan strategi meminta Pemerintah Indonesia harus lebih berperan dalam meningkatkan diplomasi serta kerjasama antara negara Kawasan regional untuk menjaga stabilitas Kawasan untuk mencegah konflik seperti Rusia-Ukraina. Pemerhati hubungan internasional menilai keretakan hubungan Rusia-Ukraina akibat diplomasi setengah hati dan ketidakjujuran. 

“Perang Rusia dan Ukraina kali ini harus menjadi wake-up call bagi kita semua, untuk benar-benar mampu menjalankan kerja diplomasi dan komunikasi politik publik di kawasan secara optimal. Jangan sampai Asia Tenggara, khususnya Indonesia, menjadi ajang medan pertempuran dan adu pelanduk di antara dua kekuatan besar di Kawasan,” ungkap A. Khoirul Umam, PhD, Dosen Paramadina Graduate School of diplomacy, dalam diskusi Ekonomi bertajuk “Dampak Perang Rusia-Ukraina : Ekonomi dan Politik Global” pada Sabtu (26/2).

Khoirul Umam mengatakan, perlu komitmen semua negara di kawasan harus terus ditegakkan, untuk menghadirkan kerja-kerja diplomasi dan komunikasi politik yang jujur, transparan, dan akuntabel. Begitupun proses diplomasi dan komunikasi politik publik harus benar-benar diletakkan dalam koritor relasi bilateral maupun multilateral yang kontruktif dan tidak bias kepentingan.

Berita Terkait : Konflik Rusia-Ukraina Tak Selamanya Berdampak Buruk

Menurutnya, upaya penguatan terhadap sistem demokrasi yang mengahdirkan model checking and balancing benar-benar harus terus dijalankan secara simultan, agar output kepemimpinan politik tidak dibelokkan oleh “ego kekuasaan”. 

“Di sinilah, teori perdamaian demokrasi (democratic peace theory) yang meyakini bahwa perdamaian kawasan akan lebih mudah dicapai ketika masing-masing negara menjalankan sistem demokrasi yang sehat dan transparan, akan kembali menemukan justifikasi dan relevansinya dalam konteks teori maupun praktik hubungan internasional,” tuturnya. 

Dikatakan, Indonesia juga harus mengantisipasi perluasan konflik agar ancaman instabilitas ini tidak berpindah ke kawasan Asia Tenggara. Ada sejumlah kekuatan besar yang sedang berusaha mengonsolidasikan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik. Upaya konsolidasi kekuatan itu salah satunya ditandai oleh hadirnya deklarasi pakta pertahanan Australia, United Kingdom dan United States of America (AUKUS) pada September 2021 lalu. 

“Telah menjadi rahasia umum, pakta pertahanan AUKUS ini dihadirkan sebagai upaya perimbangan kekuatan (balance of power) terhadap China yang semakin mengokohkan pengaruh dan kekuatan ekonomi-politik serta pertahanannya di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik secara general,” terangnya.

Anatomi Konflik

Dari segi anatomi konflik, menurut Khoirul Umam,  terdapat tiga faktor utama yang patut diantisipasi bersama. Pertama, pentingnya mengelola fungsi diplomasi dan komunikasi politik, dalam konteks bilateral maupun multilateral antar-negara, utamanya dalam konteks relasi yang telah memiliki akar sejarah konflik masa lalu yang panjang. 

Kedua, lebih berhati-hati agar tidak terjebak dalam bias kalkulasi kepentingan strategis (strategic miscalculation). Dalam konteks ini, kejernihan menimbang dan mengkalkulasikan strategi pencapaian kepentingan nasional (national interests), sangat ditentukan oleh kompleksitas aktor yang terlibat. 

“Artinya, tingginya kepercayaan diri Ukraina dalam menghadapi Rusia tentu tidak lepas dari ekosistem kekuatan yang mengelilinginya, khususnya keterlibatan NATO dan juga Amerika Serikat sendiri yang menjanjikan aliansi dukungan pertahanan yang kuat sebagai back up kekuatan,” ujarnya. 

Ketiga, ditambahkannya, pentingnya mengelola “ego kekuasaan” yang dimainkan oleh elit politik, pemerintahan, atau negara. Dalam konteks ini, konflik yang selanjutnya tersulut menjadi perang terbuka seringkali tidak lepas dari hadirnya sosok pemimpin yang meledak-ledak, tidak mudah diterka (erratic leader), memiliki ego yang tinggi, serta kadang menikmati hadirnya atmosfer ketegangan hingga perang (warlike leader)./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Politikus Partai Demokrat Abdul El-Sayed (Dok:Reuters)
GLOBAL

Kemenangan El-Sayed Permalukan Kubu Pro-Israel

JAKARTA, Bisnistoday – Kemenangan Abdul El-Sayed di Michigan dalam pemilihan pendahuluan Partai...

Kapal Tanker (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
GLOBAL

AS Mengklaim Perundingan Selat Hormuz Mengalami Kemajuan

JAKARTA, Bisnistoday - Menteri Luar Negeri Amerika Marco Rubio mengatakan pihaknya secara...

Demo Antiperang (dok:Unsplash.comev-Mz6vYiI8CSA)
GLOBAL

Babak Baru Perundingan AS-Iran Dimulai Hari Ini

JAKARTA, Bisnistoday - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negosiasi dengan Iran...

Para pendukung gerakan Democratic Socialists of America. (Dok:DSA)
GLOBAL

Jalan Berliku Perjuangan Kaum Sosialis di Amerika

JAKARTA, Bisnistoday - Para kandidat berhaluan kiri di Amerika Serikat yang berafiliasi...