JAKARTA, Bisnistoday – Sejumlah temuan riset terkait perang-perang di Asia saat Perang Dingin, memperlihatkan perang tidak selalu menyebabkan perdagangan sepenuhnya terhenti. Demikian halnya, perang tidak menghancurkan perdagangan dengan volume dan nilai tinggi antar negara yang berperang. Negara-negara regional seakan perang kedua negara yang berkecamuk tidak lebih hanya “great illusion.”
Mahmud Syaltout, Dosen Paramadina Graduate School of diplomacy berpandangan, pada saat perang, ternyata tidak semua pihak menjadi buntung, rugi, defisit dan mengalami krisis perdagangan maupun ekonomi. Ada beberapa negara yang justru diuntungkan dengan munculnya bukan hanya ketegangan konflik antar negara, tetapi juga sebaliknya perang dapat merembet menjadi terbuka.
Menurutnya, konflik Russia-Ukraina saat ini menunjukkan tesis pada tidak selalu perang menimbulkan keterpurukan di atas masih tetap relevan.
Berita Terkait : Konflik Rusia-Ukraina Perberat Pemulihan Ekonomi Global
“Untung dan rugi secara ekonomi maupun perdagangan dalam konflik Russia – Ukraina ini bukan hanya bergantung pada sisi mana negara berpihak secara politik (Pro Russia atau Pro Ukraina), tapi juga bergantung pada inter-dependensi perdagangan apakah dengan jejaring dagang aliansi besar Rusia ataukah aliansi Ukraina-AS-EU dan juga secara khusus pada komoditas ekspor dan impor,” ungkap Mahmud Syaltout, Dosen Paramadina Graduate School of diplomacy.
“Terakhir menunjukkan bagaimana konflik Russia – Ukraina justru menaikkan sangat drastis beberapa komoditas, khususnya minyak, gas bumi, perak, emas, nikel dan alumunium, serta beberapa mineral lainnya seperti palladium dan lainya,” tutur Mahmud dalam diskusi Ekonomi bertajuk “Dampak Perang Rusia-Ukraina : Ekonomi dan Politik Global” pada Sabtu (26/2).
Dampak Terhadap Indonesia
Dosen Paramadina Graduate School of diplomacy ini menuturkan, sebagai negara net importir minyak bumi, bergantung pada harga migas yang semakin tinggi pasca meningkatnya eskalasi konflik Russia – Ukraina, dalam jangka panjang dapat merugikan Indonesia.
Jika tidak disiasati betul, menurut Mahmud, dengan adanya economic shock terhadap APBN karena Pandemi COVID-19, maka harga minyak dan gas yang tinggi akan semakin membebani. Di lain sisi, Indonesia saat ini dikenal sebagai negara penghasil emas, perak, alumunium dan nikel yang saat ini juga ikutan naik pasca meningkatnya eskalasi konflik Russia – Ukraina.
“Jika kita bisa mengoptimalkan peluang ini, ekonomi kita bukan hanya selamat dari ancaman defisit karena dampak naiknya harga migas, tapi juga bisa untung besar. Namun, untuk mendapatkan untung besar, perlu strategi yang jitu terkait pertambangan, baik di hulu maupun hilirnya, termasuk tentu saja terkait pembangunan smelter dan lain-lainnya.”/




