JAKARTA, Bisnistoday – Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Anis Matta mengatakan, konflik yang dilanjutkan sebagai invasi atau perang antara Rusia dan Ukraina dianggap sebagai perang supremasi antara dua negara raksasa dunia yakni Amerika Serikat dan Rusia beserta sekutunya masing-masing. Konflik Rusia-Ukraina, sebagai awal dari perubahan tatanan baru dunia.
“Kita harus memandang invasi Rusia pada dasarnya perang supremasi bukan perang antar dua negara saja tetapi perang antar dua negara adidaya. Ukraina sebagai korban, sepertihalnya, Irak melawan Kuwait, serta AS datang gagah berani menyelesaikannya, hingga Sadam tertangkap,” ungkap Anis Matta, dalam bicang Gelora Talks, bertajuk perang Rusia vs Ukraina, apa dampaknya pada Peta Geopolitik Dunia? di Jakarta, Rabu (2/3).
Berita Terkait : Konflik Rusia -Ukraina : Indonesia Jangan Berpihak dan Aktif Ambil Peran Perdamaian
Anis mengatakan, perang supremasi antara dua negara adidaya ini tidak ada aturan yang berlaku, dan tidak ada organisasi yang bisa mendamaikannya. Peran PBB juga mengalami disfungsi karena perang negara adidaya, yang notabene pembuat aturan itu sendiri.
“Tidak ada lembaga yang mendamaikan, seakan mendekati titik ledak yang besar bakal terjadi. Peristiwa ini pasti akan berdampak pada Indonesia, baik cepat maupun lambat.”
Yang dilakukan untuk Indonesia, menurut Anis Matta, setidaknya tidak menjadi kolateral demage. Sebagai negara pernah terjajah, seperti Eropa yang pengembangan industrinya menjadikan Indonesia sebagai kolateral. Demikian halnya, Jepang hanya jadikan Indonesia sebagai obyek.
“Intinya perang Rusia-Ukraina dianggap sebagai awal perubahan dari tatanan dunia yang lama menjadi keseimbangan baru. Itu yang terjadi, sedangkan para pemenanglah yang membuat aturan baru nanti. Ini bukan persoalan benar dan salah, tetapi siapa yang kuat dengan yang lain,” tegasnya.
Jangan Jadi Korban
Sebaiknya, menurut Anis Matta, Indonesia harus mampu mengantisipasi sebagai negara bukan sebagai kolateral demage semata atau setidaknya bukan jadi korban. Untuk itu, daripada sekadar menonton, Indonesia harus menginisiasi menyambut tatanan baru dunia ini. Tatanan baru tidak seperti pasca perang dunia II silam, tetapi menapaki dunia baru tanpa konflik.
“Ini merupakan arah baru politik internasional Indonesia ke depan. Menuju tatanan baru tanpa konflik,” terangnya.
Langkah nyata kearah itu, menurut Anis Matta, dengan menyediakan fasilitas untuk perundingan damai. Sebenarnya konflik Rusia ini sudah berlansung lama, sejak Uni Soviet berjaya dan begitupun Amerika Serikat dan sekutunya. “Sekarang ini, kedua negara adidaya tersebut, memiliki kekuatan yang hebat dalam persenjataan nuklir, melalui moderenisai senjata,” tuturnya.
Kondisi sekarang, dimata Amerika Serikat, Presiden Putin sangat sulit ditebak langkahnya. Sedangkan kondisi leadership untuk wilayah Eropa dan Amerika Serikat juga tidak begitu kuat seperti dahulu. “Ini perlu diwaspadai, Joe Bidden juga diawasi oleh partai republic, dan mencari kelemahan sehingga gamang dalam mengambil tindakan.”
Bagi Indonesia, menurut Anis, bersama menyongsong kehidupan baru, ditangah kekacauan global. Indonesia mesti mendorong penurunan tensi konflik Rusia Ukraina, sekaligus bersiap membangun tatanan baru tanpa perang. “Seperti Partai Gelora menyiapkan tatanan baru untuk Indonesia, dan konflik Ukraina merupakan awal dari selamat tinggal tatanan lama, dan selamat datang tatanan baru,” ujarnya./










































