YOGYAKARTA, Bisnistoday- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga mengajak semua pihak termasuk perusahaan swasta membantu pengusaha usaha kecil dan menengah (UKM) perempuan yang saat ini masih membutuhkan dukungan keuangan dan keahlian untuk terus berkembang.
“Peran perempuan dalam menumbuhkan perekonomian nasional cukup tinggi mengingat 43 persen UKM formal dimiliki perempuan dan berkontribusi untuk 9,1 persen total PDB,” kata Bintang Puspayoga kepada pers di sela Plenary Meeting Kedua G20 Empower di Yogyakarta, Rabu (18/5).
Salah satu dukungan yang telah dan akan terus digaungkan oleh Kementerian PPPAadalah makin bertambahnya jumlah advokat yang bersedia memberikan bimbingan kepada pengusaha UKM perempuan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. “Jumlah advokat terus bertambah dari yang semula 26 kini sudah bertambah menjadi 60 advokat,” katanya.
Advokat, katanya, akan terus melakukan pendampingan dan bimbingan kepada pengusaha UKM perempuan dan akan terus melakukan evaluasi sudah sejauh mana kemajuan yang sudah dilakukan para pengusaha perempuan.
Sampai saat ini, kata Bintang, advokat sudah menginisiasi 142 desa yang disebut “Ramah Ibu dan Anak” dengan terus melakukan pendampingan. “Jumlahnya Ramah Ibu dan Anak diharapkan akan terus bertambah dengan semakin banyaknya perempuan pengusaha UKM,” katanya.
Bintang menambahkan, salah satu bentuk bantuan dari pihak swasta dalam memberdayakan pengusaha UKM perempuan adalah yang dilakukan oleh XL Axiata dengan programnya yang disebut Sisternet yang telah menyasar hampir di seluruh wilayah di Indonesia.
Chair G20 Empower yang juga merupakan Direktur & Chief Strategic Transformation & IT Officer XL Axiata, Yessie D Yosetya menyebutkan bahwa fokus pertemuan ini sejalan dengan tema besar G20 Presidensi Indonesia 2022 Recover Together, Recover Stronger dan tema utama kedua G20 Empower 2022 yaitu Mendorong Peran UMKM milik perempuan sebagai penggerak ekonomi.
“Agenda utama pertemuan kedua G20 Empower ini adalah membahas urgensi peran perempuan dalam UMKM sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi. Pemerintah dan kalangan usaha swasta perlu mendorong penerapan kebijakan dan praktik lebih jauh sebagai dukungan kepada UMKM milik perempuan agar mampu menghadapi segala tantangan yang ada,” kata Yessie.
Usaha Kuliner
Sementara itu, Menteri Koperasi dan UKM (MenkopUKM), Teten Masduki menilai pemberdayaan perempuan melalui sektor UMKM pada masa pascapandemi dapat ditempuh dengan menggeluti bidang usaha kuliner seperti yang sudah terbentuk saat ini.
“Seperti diketahui 64 persen UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan. Sebagian besar bergerak di bidang kuliner,” kata Teten. Oleh karenanya, lanjut dia, jika ingin meningkatkan pemberdayaan perempuan, terutama setelah pandemi, maka peluang yang bisa dimanfaatkan terjun ke bidang makanan dan minuman.
Menurut Teten, UMKM yang bergerak di bidang kuliner memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bersaing dengan usaha kuliner yang dikelola pengusaha besar karena UMKM kuliner hadir lebih dekat dengan masyarakat dan permintaan cukup besar.
“Karena hadir lebih dekat dengan masyarakat, maka produk yang dihasilkan bisa dijangkau lebih mudah. Apalagi harga yang ditawarkan pun biasanya cukup kompetitif,” katanya. Yog/










































