BANDUNG, Bisnistoday – Ketergantungan pada penjualan musiman membuat Engkar Kardiah harus memutar otak mencari sumber pendapatan yang lebih stabil. Selama bertahun-tahun, pelaku UMKM asal Kota Bandung yang akrab disapa Eka ini mengandalkan penjualan cookies dan kue kering yang biasanya hanya ramai menjelang Hari Raya Idulfitri.
Meski sempat menjadi andalan, Eka menyadari bahwa mengandalkan produk musiman membuat pemasukan usahanya tidak selalu stabil. Kondisi tersebut mendorongnya untuk mencari produk yang dapat dipasarkan sepanjang tahun.
“Kalau kue Lebaran kan ramainya setahun sekali. Saya berpikir bagaimana caranya punya pendapatan harian atau mingguan, jangan menunggu Lebaran saja,” tuturnya.
Dari kegelisahan itulah, sekitar dua tahun lalu Eka mulai mengembangkan usaha telur gabus keju sebagai alternatif sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan. Namun, menghadirkan produk baru bukan perkara mudah. Ia harus melalui berbagai proses uji coba resep dan belajar secara mandiri melalui media sosial untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginannya.

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Eka berhasil menghadirkan produk Telur Gabus Keju Raffasa, dengan cita rasa yang berbeda dari produk sejenis di pasaran. Ia sengaja menambahkan lebih banyak keju sehingga menghasilkan rasa yang lebih kuat dan menjadi ciri khas produknya.
“Hasil akhirnya adalah telur gabus keju yang benar-benar terasa kejunya. Jadi khasnya punya saya beda dengan yang di pasaran karena sengaja dibuat lebih banyak kejunya,” katanya.
Inovasi tersebut menjadi salah satu langkah penting bagi Eka untuk memperluas pasar sekaligus menciptakan sumber pendapatan yang tidak bergantung pada momen tertentu. Produk telur gabus keju yang awalnya hanya menjadi pelengkap usaha kini berkembang menjadi salah satu produk andalannya.
Kesadaran untuk terus belajar menjadi salah satu kunci yang membantu Eka mengembangkan usahanya. Ia aktif mengikuti berbagai pelatihan guna menambah wawasan dan keterampilan dalam mengelola usaha.
Salah satu wadah yang banyak membantunya adalah Rumah BUMN BRI Bandung. Di sana Eka kerap kali mengikuti berbagai program pelatihan mulai dari pemasaran digital, pengelolaan keuangan, hingga pengembangan produk.
“Saya memang suka mencari wawasan dan pengetahuan baru. Dengan adanya Rumah BUMN sangat membantu karena banyak ilmu yang bisa dipelajari,” ujarnya.
Meski mengaku masih menghadapi tantangan dalam memanfaatkan teknologi secara optimal, Eka menilai pelatihan yang diberikan sangat bermanfaat bagi pelaku usaha mikro dan kecil yang ingin terus berkembang.
“Saya memang masih gaptek. Kadang materi yang diberikan belum semuanya bisa langsung diterapkan karena harus membagi waktu antara produksi, penjualan, dan urusan usaha lainnya. Tapi pelatihannya sangat membantu,” katanya.
Selain memperoleh pengetahuan baru melalui pelatihan, Eka juga mulai memanfaatkan teknologi dalam aktivitas usahanya. Salah satunya melalui penggunaan sistem pembayaran digital QRIS saat mengikuti bazar dan pameran UMKM.
Sebagai pengurus bidang event di komunitas UMKM di lingkungannya, ia cukup sering terlibat dalam berbagai kegiatan yang melibatkan banyak pelaku usaha. Menurutnya, penggunaan QRIS memberikan kemudahan baik bagi penjual maupun pembeli karena proses transaksi menjadi lebih cepat dan praktis.
“Kalau pakai QRIS lebih praktis dan aman. Kita juga tidak perlu repot mencari receh atau menyiapkan uang kembalian saat berjualan,” ungkapnya.
Pemanfaatan transaksi digital juga membantu pelaku UMKM mengikuti perubahan perilaku konsumen yang semakin terbiasa menggunakan pembayaran non-tunai. Khususnya saat mengikuti bazar, banyak pengunjung yang lebih memilih melakukan pembayaran melalui ponsel mereka.
Ke depan, Eka berharap pelatihan bagi pelaku UMKM dapat terus ditingkatkan, termasuk melalui pendampingan yang lebih intensif agar materi yang diberikan dapat lebih mudah diterapkan dalam operasional usaha sehari-hari.
Di balik seluruh proses yang dijalaninya, Eka memiliki satu pesan sederhana bagi para pelaku UMKM yang baru merintis usaha, yakni pentingnya memiliki mental yang kuat.
“Pengusaha harus siap mental karena pasti ada fase jatuh bangun. Kalau usaha sedang sepi jangan diam, harus terus berpikir dan berinovasi mencari peluang baru,” ujarnya.
Baginya, kemampuan untuk terus belajar, berinovasi, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman merupakan modal penting agar UMKM dapat bertahan sekaligus berkembang di tengah persaingan yang semakin ketat.










































