www.bisnistoday.co.id
Rabu , 29 April 2026
Home METRO Jakarta Region Harus Transit di Manggarai, Sungguh Merepotkan
Jakarta RegionMETRO

Harus Transit di Manggarai, Sungguh Merepotkan

Social Media
Sudah seminggu lebih pelaksanaan switch over (SO) 5 diberlakukan dari 30 Mei hingga sekarang, masih dipandang belum membuahkan hasil pelayanan penumpang yang lebih baik. Mengacu banyaknya keluhan akibat transit di Stasiun Manggarai bagi penumpang dari Depok dan Bogor, sebaiknya regulator dan operator kereta api segera mengevaluasi kembali SO5 tersebut

Idealnya perencanaan pelayanaan outcome hanya untuk kemudahan layanan penumpang bukan kepada layanan kemudahan operasi perkeretaapian. Harapan pengguna KRL bahwa layanan di Manggarai dikembalikan seperti sedia kala, yakni pengguna terbanyak dari Bogor/Depok bila mau ke Sudirman/Tanahabang tidak perlu transit. 

Kesuksesan transportasi umum adalah meminimalisasi transit bukan malah menambah transit. Transit adalah proses perpindahan orang antar moda, sehingga diperlukan waktu tambahan dalam total waktu perjalanan transportasi, sehingga untuk SO5 ini diperlukan waktu tambahan 10 – 20 menit (wasting time). Dalam hal ini proses transit di Manggarai sangat tidak diharapkan karena adanya tambahan waktu transit dan secara fisik melelahkan.

Apabila tetap tidak berubah pelayanan SO5 tersebut, maka lebih baik dengan kondisi eksisting saat ini di Manggarai, maka perbandingan perka antara KRL loop / feeder Angke / Tanahabang / Sudirman ( dari Cikarang/Bekasi) dan Pejalanan Kereta (perka) Bogor/Depok adalah 1 : 1 sehingga ada jadual KRL yang terintegrasi. 

Kalau jumlah sarana KRL masih terbatas paling tidak harapan perbandingannya 1 : 1,5. Jika perbandingan berimbang maka dipastikan tidak ada lagi penumpukan di Manggarai.   Diharapkan lagi ada penambahan tangga untuk transit dari lantai 3 ke lantai 1 untuk kemudahan penumpang transit. 

Sebenarnya bila lebih kreatif dalam desain stasiun, transit dapat dilakukan hanya dalam 1 peron. 1 peron dengan 2 jalur dengan lintas KRL berbeda tujuan  untuk transit atau 1 jalur 1 peron dengan 2 lintas KRL tujuan yang berbeda untuk transit. Dalam desain seperti ini akan lebih memudahkan pengguna KRL dalam transit, sehingga tidak perlu repot bersusah-payah naik turun lantai 1 dan 3 untuk transit. 

Hingga sekarang, desakan dari mayoritas pengguna KRL khususnya dari pengguna dari Bogor/Depok yang merasa dirugikan oleh kebijakan SO5 tersebut terus mengalir. Desakan ini dapat dibenarkan karena moyaritas pengguna adalah dari lintas Bogor dan Depok, sehingga terjadi “kekacauan” ketika transit di Stasiun Manggarai ketika peak pagi atau sore hari. 

Sebelumnya pengguna KRL dari Bogor/Depok tanpa harus transit ketika melakukan perjalanan menuju Stasiun Sudirman dan Tanahabang, namun kini harus transit di Manggarai. Keluhan pengguna transit di Manggarai karena naik turun dari lantai 1 ke 3 dan sebaliknya dan akses transit hanya ada tangga manual dan escalator yang sempit sehingga sangat tidak nyaman untuk proses transit yang membutuhkan waktu cepat dalam transit 5-7 menit untuk mengejar KRL lintas yang lain. Proses transit tersebut menambah derita bagi difable (disabilitas, manula, ibu hamil, anak-anak dan orang dengan bawaan berat)

Dalam catatan KCI terjadi jumlah pengguna transit di Manggarai sebanyak 120.000 per hari (masih kondisi PPKM/belum normal). Apabila dilihat dari desain Stasiun Manggarai baru saat ini, dapat dikatakan kemampuan stasiun masih kurang layak untuk menampung jumlah pengguna transit 120.000 orang / hari. 

Kurang layaknya adalah karena ruang akses transitnya terbatas, jumlah tangga kurang dan lebar tangga kurang mencukupi. Kenyataan seperti inipun di Manggarai seperti Stasiun Tanahabang sebagai stasiun lama di kala peak yang juga tidak layak lagi sebagai sebagai stasiun transit. Tanahabang kapasitas normal 30.000 orang per hari dipaksa menampung 100.000 penumpang per hari. Belajar dari ketidakmampuan Stasiun Tanahabang, sebenarnya tidak perlu terjadi lagi di Manggarai karena sebagai stasiun baru. 

Dengan pakai data perbandingan penumpang sebelum pandemic covid-19, pengguna KRL mayoritas dari Bogor/Depok sebesar 59,34%, sementara dari Rangkasbitung/Serpong 16,30%, Cikarang/Bekasi 15,97% dan Tangerang 8,40%. Dalam data tersebut adalah sangat ironis bahwa pengguna yang terbanyak dari lintas Depok/Bogor malah harus transit di Manggarai. Jadi tidak heran pengguna dari lintas Bogor/Depok tersiksa ketika transit. 

Sebenarnya kondisi sebelum SO5, transit di Manggarai sudah adil, artinya pengguna KRL dari loop/feeder Angke / Tanahabang / Sudirman tujuan Bogor/Depok tidak perlu transit lagi. Di tahun 2019 pengguna dari Bogor Ke Sudirman/Tanahabang/Angke sebesar  73.848.157 orang / tahun sementara dari Cikarang/Bekasi lebih sedikit yakni 53.673.499 orang / tahun. 

Dari data tersebut sebenarnya malah blunder bila data penumpang terbanyak malah diminta transit di Manggarai. Hasil SO5 tersebut membuktikan bahwa perencanaan pola pelayanan di Manggarai hanya berdasar atas kemudahan melayani kereta api bukan kepada hakikat kemudahan pelayanan penumpang atas tarikan perjalanan. 

Dalam hitungan kami, bila ditilik saat ini jumlah perjalanan kereta (perka) setelah SO5 KRL dari Bogor/Depok ke Manggarai sebanyak 167 perka dan sementara KRL loop feeder dan KRL Cikarang/Bekasi ke Sudirman/Tanahabang/Duri/Angke hanya sebanyak 75 perka. Jumlah perka sangat tidak berimbang, berbanding 1 : 2,2 sehingga tidak dapat dikatakan sebagai dintegrasi jadual KRL. 

Dengan asumsi KRL loop feeder dengan headway rerata 10 menit, bila berbanding 1 : 2,2 maka pengguna lintas Bogor/Depok berpotensi menunggu headway sampai 20 menit di Manggarai bila akan melanjutkan ke Sudirman atau Tanahabang. Kondisi tidak berimbangnya perka tersebut akan mengakibatkan pengguna KRL menumpuk di peron Manggarai.  

Oleh : Deddy Herlambang, Direktur Eksekutif INSTRAN

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Related Articles

EKONOMIJakarta Region

Kecelakaan Kereta KRL dan KA Argo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur

JAKARTA, Bisnistoday- PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta menyampaikan...

Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno
Jakarta Region

Pemprov DKI Jakarta Hormati Proses Hukum Kasus TPST Bantargebang dan Percepat Perbaikan Tata Kelola Sampah

JAKARTA, Bisnistoday - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menghormati sepenuhnya proses hukum...

Pejabat DKI Jakarta
Jakarta Region

Lantik Pejabat Baru, Gubernur Pramono Pesan Junjung Tinggi Integritas

JAKARTA, Bisnistoday – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meminta 11 pejabat Pimpinan...

LingkunganMETRO

Jakarta Berpotensi Hujan di Hari Ke-2 Lebaran

JAKARTA-Bisnistoday: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) RI mengimbau masyarakat untuk meningkatkan...