www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 15 Agustus 2026
Home EKONOMI PTPN, Pertamina dan Medco Sinergi Kembangkan Bioetanol
EKONOMI

PTPN, Pertamina dan Medco Sinergi Kembangkan Bioetanol

Melalui penandatanganan MoU ini, PTPN Group, Pertamina Group, dan Medco Group akan bekerjasama memanfaatkan potensi, keahlian, serta fasilitas yang dimiliki masing-masing.

Sinergi Pengembangan Bioetanol (Dok PTPN)
Sinergi Pengembangan Bioetanol (Dok PTPN)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Holding Perkebunan Nusantara, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) (PTPN III) menjajaki kerja sama strategis pengembangan bioetanol melalui penandatanganan 3 (tiga) Nota Kesepahaman (MoU) bersama Pertamina Group dan Medco Group.

Inisiaf ini merupakan bagian dari dukungan terhadap program mandatori bioetanol (E20) yang ditargetkan pemerintah pada tahun 2028, guna memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Penandatanganan MoU ini dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil, Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eng. Eniya Listiani Dewi, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantori, CEO Medco Group Yana Sofyan Panigoro, serta Jaksa Utama Muda Kejaksaan Agung RI, Nova Elida Saragih.

Direktur Utama PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, dalam sambutannya menyampaikan bahwa
pengembangan bioetanol merupakan bagian dari implementasi arah kebijakan nasional.

“Pengembangan bioetanol ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo, serta komitmen Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam memperkuat hilirisasi komoditas pertanian sebagai bagian dari strategi besar menuju ketahanan pangan dan energi nasional.”

Menurutnya Indonesia memiliki potensi besar dari komoditas seperti tebu (molases), ubi kayu, dan jagung yang dapat diopmalkan sebagai sumber energi terbarukan.

Ia menegaskan bahwa arah kebijakan pemerintah sudah jelas dalam mendorong kemandirian energi nasional. “Karena itu, pada Rapat Kerja Pemerintah tanggal 8 April 2026, Bapak Presiden menegaskan arah yang jelas: Indonesia harus mempercepat kemandirian pangan dan energi. Salah satu fokus utamanya adalah implementasi bioetanol E20 pada tahun 2028. Artinya, kita harus memastikan kesiapan nyata dari hulu sampai hilir,” lanjutnya.

Tergantung Pasokan

Denaldy menyampaikan bahwa keberhasilan implementasi E20 sangat bergantung pada kekuatan pasokan bahan baku dalam negeri. Untuk mencapai E20, kata dia, kuncinya ada pada feedstock yang kuat dan berkelanjutan.

Sejalan dengan program hilirisasi Kementerian Pertanian, PTPN Group mendapat arahan penugasan
dalam hilirisasi komoditas tebu, ubi kayu dan jagung serta pembangunan 10 (sepuluh) unit pabrik bioetanol di Indonesia (Lampung, Jabar, Jatim, Sulsel, dan NTB). Dalam pengembangan bioetanol
tersebut akan didukung oleh penguatan basis komoditas strategis nasional di antaranya tebu, ubi kayu dan jagung.

Untuk komoditas tebu, PT SGN ditugaskan untuk perluasan lahan hingga tahun 2031
sekitar 500 ribu ha dan pembangunan pabrik bioetanol berbasis molases sebanyak 6 (enam) unit bekerjasama dengan Pertamina NRE (PNRE).

Untuk pengembangan ubi kayu, PTPN III ditugaskan dalam pengembangan areal sekitar 104 ribu ha dan pembangunan pabrik bioetanol berbasis ubi kayu sebanyak 2 (dua) unit bekerjasama dengan Medco & PNRE. Sedangkan untuk komoditas jagung ditargetkan pengembangan areal PTPN I seluas 250 ribu ha dan pembangunan pabrik bioetanol berbasis jagung sebanyak 2 (dua) unit yang juga akan bekerjasama dengan mitra.

Langkah strategis ini menjadi fondasi penting dalam memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku bioetanol nasional secara jangka panjang.

Denaldy juga menekankan pentingnya sinergi antarpelaku industri dalam membangun ekosistem bioetanol nasional: PTPN memastikan bahan baku, Pertamina menggerakkan hilirisasi dan penyerapan
energi, dan Medco memperkuat pengembangan industrinya.

Sebagai langkah awal, pengembangan bioetanol berbasis ubi kayu seluas 10 ribu ha akan difokuskan di wilayah Lampung melalui revitalisasi pabrik eksisting milik Medco dan pembangunan pabrik bioetanol multi feedstock (berbasis ubi kayu & jagung) di Bone, Sulawesi Selatan, yang selanjutnya akan diperluas ke sejumlah daerah lainnya guna membangun ekosistem industri yang lebih luas dan terintegrasi.

“Jika ini berjalan, dampaknya jelas. Petani memiliki kepastian pasar. Industri bioetanol memiliki pasokan yang lebih stabil. Dan Indonesia mulai mengurangi ketergantungan terhadap energi impor,” tambahnya.

Melalui penandatanganan MoU ini, PTPN Group, Pertamina Group, dan Medco Group akan bekerjasama memanfaatkan potensi, keahlian, serta fasilitas yang dimiliki masing-masing pihak dalam rangka pengembangan industri bioetanol. //

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Menteri Koperasi
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Berkapasitas 45 Ton, Menkop Resmikan Pabrik CPO KUD Sejahtera di Musi Banyuasin

MUSI BANYUASIN, Bisnistoday — Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono meresmikan CPO milik...

Rapat KUR
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Bunga PNM Mekaar Turun Jadi 8 Persen, Berlaku Mulai September

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah memastikan suku bunga pinjaman Program Membina Ekonomi Keluarga...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menteri UMKM Tegaskan Ojol Tidak Dikenai Pajak

JAKARTA, Bisnistoday - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menkop Apresiasi Wamena Coffee Festival Jadi Penggerak Ekonomi Lokal

WAMENA, Bisnistoday - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono memberikan apresiasi yang tinggi...