JAKARTA, Bisnistoday – Langit Indonesia kembali dihiasi fenomena alam spektakuler, gerhana Bulan total 2025 atau yang populer disebut blood moon. Peristiwa ini terjadi pada Minggu malam (7/9) hingga Senin dini hari (8/9), dan berhasil menyedot perhatian masyarakat di berbagai wilayah.
Fenomena gerhana Bulan total merah darah ini merupakan yang pertama kali terjadi sejak 2022. Selama lebih dari lima jam, masyarakat bisa menyaksikan perubahan Bulan purnama dari kuning terang menjadi merah bata kecoklatan.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fase totalitas dimulai pukul 00.30 WIB, mencapai puncaknya pada 01.12 WIB, dan berakhir pukul 01.53 WIB.
“Durasi totalitas gerhana bulan kali ini cukup panjang, sekitar 1 jam 22 menit. Hal ini jarang terjadi, sehingga menjadi momen spesial bagi masyarakat untuk mengamatinya,” ujar Kepala Pusat Seismologi BMKG, Dr. Ratna Dewi.
Antusiasme Warga di Berbagai Daerah
Fenomena blood moon 2025 ini terlihat jelas dari hampir seluruh wilayah Indonesia. Warga Jakarta, Bandug, Yogyakarta, Surabaya, hingga Makassar berbondong-bondong keluar rumah, bahkan menggelar nonton bareng gerhana Bulan.
“Saya sampai membawa teleskop kecil agar bisa melihat lebih detail. Indah sekali, seperti melihat lukisan langit langsung di depan mata,” kata Alya (22), mahasiswa asal Bandung.
Di Yogyakarta, ratusan warga berkumpul di Alun-Alun Utara untuk menyaksikan gerhana bulan merah darah ini. Sementara itu, komunitas astronomi di Surabaya menggelar kegiatan pengamatan bersama, lengkap dengan teleskop dan penjelasan ilmiah bagi masyarakat.
Mengapa Bulan Bisa Merah?
BMKG menjelaskan, gerhana Bulan total terjadi ketika posisi Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan. Cahaya Matahari yang seharusnya mengenai Bulan terhalang oleh Bumi, sehingga Bulan masuk ke dalam bayang-bayang Bumi (umbra).
Namun, sebagian cahaya Matahari tetap menembus atmosfer Bumi dan dibiaskan ke arah Bulan. Proses inilah yang membuat Bulan tampak berwarna merah darah atau disebut juga blood moon.
“Warna merah pada gerhana bulan terjadi karena efek atmosfer Bumi yang membelokkan cahaya Matahari. Ini sama seperti fenomena langit merah saat matahari terbit atau terbenam,” tambah Dr. Ratna Dewi./berbagai sumber/
















![Seorang petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di wilayah Lege-Cap-Ferret, Prancis barat, pada 24 Juli 2026 [Caroline Blumberg/AP]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/07/Karhutla-680x533.jpg)
























