PROBOLINGGO, Bisnistoday – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) terus memperkuat diplomasi bahasa Indonesia di kancah internasional. Salah satu upayanya dilakukan dengan meluncurkan buku saku Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) untuk pelaku wisata di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Sebanyak 70 pelaku wisata, mulai dari pemandu, pengelola hotel, agen perjalanan, hingga penyedia jasa wisata, mengikuti kegiatan ini. Mereka tidak hanya menerima buku saku, tetapi juga diperkenalkan pada buku pedoman, digitalisasi bahan ajar, serta panduan bimbingan teknis untuk memperkuat interaksi dengan wisatawan asing.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan pentingnya diplomasi bahasa di sektor pariwisata.“Tahun ini untuk pertama kalinya pidato resmi pemerintah Indonesia di Sidang Umum UNESCO akan menggunakan bahasa Indonesia. Ini simbol penting kedaulatan bahasa negara di kancah internasional,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa bahasa daerah memiliki peran vital sebagai pemerkaya bahasa Indonesia.“Melestarikan bahasa daerah sama pentingnya dengan upaya membawa bahasa Indonesia ke panggung dunia,” tambah Hafidz.
Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Jawa Timur, Puji Retno Hardiningtyas, menyebut buku saku BIPA sebagai inovasi pertama di Indonesia.“Buku ini sederhana tetapi bermakna. Wisatawan merasa senang sekaligus tertarik untuk belajar, dan pelaku wisata punya alat bantu praktis saat berinteraksi,” ungkapnya.
Antusiasme juga datang dari masyarakat. Kepala Desa Ngadirsari, Sunaryono, menyampaikan kebanggaan warganya.“Biasanya kita belajar ingin bahasa asing, kini kita justru diajak mengenalkan bahasa Indonesia kepada turis. Itu membuat kita lebih mencintai bahasa persatuan ini,” katanya.
Sekretaris Badan Bahasa, Ganjar Harimansyah, menilai pelaku wisata berperan ganda.“Mereka adalah pahlawan devisa sekaligus agen diplomasi bahasa. Interaksi sehari-hari dengan turis adalah kesempatan emas untuk mengenalkan bahasa Indonesia,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Ketua APPBIPA Pusat, Gatut Susanto, yang menilai program ini layak dijadikan contoh nasional.“Buku saku BIPA ini sangat bagus dan bisa direplikasi di balai bahasa lainnya untuk meningkatkan potensi wisata sebagai media diplomasi bahasa,” jelasnya.
Bagi para peserta, pengalaman ini memberi motivasi baru. Eka dan Dea, pelaku wisata asal Bromo, mengaku lebih percaya diri.“Selama ini kami malu berinteraksi dengan turis karena keterbatasan bahasa. Dengan adanya pelatihan ini, kami lebih berani memperkenalkan bahasa Indonesia,” ucap keduanya.
Dengan hadirnya buku saku BIPA, diplomasi bahasa Indonesia tidak hanya tumbuh di forum internasional, tetapi juga lahir dari percakapan sederhana antara pelaku wisata dan wisatawan asing.//




