JAKARTA, Bisnistoday – PT Tripatra Engineering (TRIPATRA), fokus menggarap proyek-proyek energi baru terbarukan, termasuk Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Khususnya di sektor penerbangan, TRIPATRA menjadi bagian dalam Studi Global CAEP/14 ICAO tentang Life Cycle Assessment (LCA) untuk jalur POME–HEFA (Palm Oil Mill Effluent-Hydroprocessed Esters and Fatty Acids) berbasis di Indonesia.
Dari hasil penelitian tersebut, International Civil Aviation Organization (ICAO) telah mencantumkan Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) dalam dokumen resmi “CORSIA Default Life Cycle Emissions Values for CORSIA Eligible Fuels.”
“Limbah cair industri kelapa sawit yang selama ini berpotensi menghasilkan emisi metana juga dapat dikonversi menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan SAF dengan emisi lebih rendah, seperti telah diakui oleh ICAO,” ungkap Raymond Rasfuldi, President Director & CEO, Tripatra di Jakarta, Rabu (17/12).
Pendekatan ini, lanjut Raymond, menggambarkan penerapan ekonomi sirkular dimana limbah industri diolah menjadi produk energi bernilai tinggi yang memberi manfaat ekonomi sekaligus menekan dampak lingkungan. Melalui keterlibatan dalam studi internasional dalam pengembangan POME di Indonesia, Tripatra menegaskan komitmen dan posisinya sebagai katalis kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem SAF dan mendukung visi Indonesia menuju transisi energi yang berkelanjutan dan berdaya saing.
“Hasil tersebut juga menunjukkan peran strategis Tripatra sebagai pengembang SAF berbasis POME yang berkontribusi langsung terhadap upaya dekarbonisasi sektor transportasi dan energi nasional.”
Studi telah diajukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan dengan dukungan Kementerian Luar Negeri, serta tim ahli dari TRIPATRA bersama IPOSS (Indonesia Palm Oil Stategic Studies).
Sedangkan, proses pengajuan POME dimulai sejak bulan November 2024, mencakup pengumpulan data lapangan pada pabrik kelapa sawit (PKS), penyusunan working paper untuk ICAO Working Group 5, serta diskusi teknis dengan berbagai negara anggota.
POME diajukan sebagai residu proses pengolahan sawit yang tidak memiliki beban Indirect Land Use Change (ILUC), sehingga dinilai memenuhi kriteria keberlanjutan ICAO untuk jalur HEFA.
Setelah proses evaluasi teknis selama satu tahun, dengan melalui perbandingan dengan studi akademik dari Hasselt University dan verifikasi oleh Joint Research Centre (JRC), POME memperoleh nilai Life Cycle Assessment (LCA) sebesar 18,1 gCO₂e/MJ, yang menunjukkan emisi lebih rendah dibandingkan avtur konvensional. Nilai ini selanjutnya dapat digunakan sebagai default value dalam skema CORSIA bagi produsen SAF di seluruh dunia.
Bahan Baku Berkelanjutan
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F Laisa dalam keternaganya mengutarakan, bahwa Indonesia sebagai negara anggota ICAO berkomitmen untuk menjadi salah satu produsen utama SAF mengingat besarnya potensi bahan baku (feedstock) yang kita miliki oleh karena itu kita mengusulkan perhitungan nilai default LCA. “Persetujuan ICAO ini menegaskan bahwa POME secara resmi diakui sebagai bahan baku SAF dengan nilai emisi yang sangat kompetitif, mampu memberikan emission saving hingga 80% dibandingkan bahan bakar fosil. Ini adalah momentum besar bagi Indonesia untuk memasuki pasar SAF global,” jelasnya.
Lebih lanjut Lukman menambahkan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolaboratif. “Kami berterima kasih atas dukungan Kementerian Luar Negeri serta kontribusi teknis dari Tripatra dan IPOSS. Upaya lintas institusi ini menunjukkan komitmen kuat Indonesia dalam memperjuangkan posisi nasional di forum internasional.”//







































