www.bisnistoday.co.id
Rabu , 19 Agustus 2026
Home EKONOMI Sektor Riil Percepat Ekonomi Sirkular, Pelaku Rantai Nilai Tekstil Dorong Kolaborasi
Sektor Riil

Percepat Ekonomi Sirkular, Pelaku Rantai Nilai Tekstil Dorong Kolaborasi

Kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat mendorong terbentuknya rantai nilai tekstil yang lebih sirkular, inklusif, dan berdaya saing.

Peserta Roundtable Discussion “Mewujudkan Aksi Kolaborasi Ekonomi Sirkular dalam Rantai Nilai TPT. (dok:Ist)
Roundtable Discussion “Mewujudkan Aksi Kolaborasi Ekonomi Sirkular dalam Rantai Nilai TPT. (dok:Ist)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Para pelaku industru tekstil yang tergabung dalam Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) berkolaborasi dengan Rantai Tekstil Lestari (RTL)   menyelenggarakan Roundtable Discussion “Mewujudkan Aksi Kolaborasi Ekonomi Sirkular dalam Rantai Nilai TPT” sebagai bagian dari rangkaian menuju Indonesia Sustainability 360 Forum 2026.

Forum yang digelar pada Selasa (18/8/2026) ini  mempertemukan pelaku dari berbagai bagian rantai nilai tekstil, mulai dari manufaktur, brand, pengumpul, pendaur ulang, penyedia solusi, lembaga riset, asosiasi industri, hingga pemerintah untuk mengidentifikasi tantangan, peluang, dan aksi kolaboratif yang dapat mempercepat penerapan ekonomi sirkular di sektor tekstil.

Untuk diketahui, sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor prioritas dalam Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045, dengan kontribusi sebesar 1,3% terhadap PDB Indonesia pada tahun 2023.

Namun, penerapan ekonomi sirkular masih menghadapi tantangan seperti rendahnya tingkat daur ulang limbah tekstil yang baru mencapai 12% berdasarkan baseline 2023, terbatasnya pemanfaatan kembali material, serta belum optimalnya sirkularitas di rantai nilai TPT dari hulu ke hilir.

Selain itu, koordinasi antarpelaku industri, kesiapan teknologi, dan infrastruktur daur ulang masih perlu diperkuat, termasuk penguatan kebijakan agar lebih operasional di tingkat industri.

Dr. Indah Budiani, Direktur Eksekutif IBCSD, menekankan bahwa ekonomi sirkular membutuhkan pendekatan menyeluruh karena setiap pelaku memiliki peran yang saling terhubung. “Diskusi hari ini bukan lagi hanya membicarakan permasalahan ekonomi sirkular di sektor tekstil, tetapi bagaimana kolaborasi harus terjadi, siapa yang perlu terlibat, dan intervensi apa yang dapat mulai dikerjakan bersama. Kami ingin mendorong agar diskusi ini menghasilkan business-actionable solutions dan peluang pilot project yang benar-benar dapat dijalankan,” ujar Indah.

Dari perspektif rantai nilai industri, Basrie Kamba, Chairman of the Executive Board Rantai Tekstil Lestari (RTL), menyoroti pentingnya membangun ekosistem yang mampu menghubungkan berbagai pelaku dan kebutuhan dalam implementasi ekonomi sirkular.

“Kolaborasi tidak boleh berhenti pada forum atau diskusi, tetapi perlu diterjemahkan menjadi aksi nyata. Kita perlu memperkuat kapasitas pengolahan, edukasi, akses terhadap informasi dan teknologi, sekaligus membuka lebih banyak peluang untuk pemanfaatan kembali material dan daur ulang textile-to-textile. Yang tidak kalah penting adalah memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan agar ekosistem ekonomi sirkular dapat berkembang dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dorong terbentunya rantai nilai tekstil

Kolaborasi tersebut juga perlu berjalan beriringan dengan kebijakan dan langkah implementasi di tingkat industri. Diana Muji Hartati, Ketua Tim Kerja Koordinasi Standardisasi, Implementasi Industri 4.0, Industri Hijau, dan Industri Halal Direktorat Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki, Kementerian Perindustrian, menyampaikan, rencana aksi ekonomi sirkular tidak dapat berjalan secara otomatis tanpa langkah konkret di lapangan.

“Implementasinya membutuhkan peran bersama, baik dari pemerintah, asosiasi, maupun pelaku industri. Berbagai inisiatif yang dikembangkan perlu diarahkan untuk mendorong efisiensi penggunaan sumber daya, pemanfaatan kembali material, serta memperkuat implementasi ekonomi sirkular di sektor industri,” tegasnya.

Dalam sesi diskusi, peserta mendiskusikan pengalaman implementasi dari masing-masing bagian rantai nilai, bottleneck utama, peluang pasar, intervensi yang dibutuhkan, kebutuhan kolaborasi, serta potensi penciptaan green jobs dan green skills. Diskusi juga diarahkan untuk mengidentifikasi aksi prioritas yang siap didorong bersama.

Hasil roundtable akan menjadi masukan bagi penyusunan Textile Waste Value Chain Assessment serta Textile Waste Value Chain Business Strategy & Action Plan, juga pengembangan Multi-Stakeholder Platform for Textile Circularity yang telah diinisiasi oleh Rantai Tekstil Lestari. Proses ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi intervensi prioritas, skema kolaborasi, action plan bersama, serta pipeline pilot project yang dapat diimplementasikan bersama oleh para pemangku kepentingan.

Melalui tindak lanjut tersebut, kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat mendorong terbentuknya rantai nilai tekstil yang lebih sirkular, inklusif, dan berdaya saing, sekaligus mendukung efisiensi sumber daya, penciptaan lapangan kerja hijau, dan implementasi Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia.//

 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Sektor Riil

IM3 Hadirkan Lebih Banyak Manfaat dalam Satu Paket Prabayar

JAKARTA, Bisnistoday – Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) melalui brand IM3...

Sektor Riil

Resmi Berlakukan Mandatori B50, Prabowo Klaim Indonesia Stop Impor Solar Bulan Ini

JAKARTA - Pemerintah secara resmi mengumumkan penghentian total kebijakan impor Bahan Bakar...

Kunjungan Denso
Sektor Riil

Pabrikan Manufaktur Denso Minta Penyederhanaan Administrasi serta Peningkatan Infrastruktur

JAKARTA, Bisnistoday – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menerima perwakilan principal Denso...

Kota Riyadh
Sektor Riil

Perubahan Bea Masuk Arab Saudi, Kemendag Tetap Dorong Daya Saing Produk Indonesia

JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Perdagangan RI mendorong produk Indonesia untuk tetap berdaya...