JAKARTA, Bisnistoday- Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,58% ke posisi 6.402 pada penutupan perdagangan Jumat (14/8). Sementara, asing masih mencatat net sell Rp. 397 miliar. Sejumlah saham TINS, BBRI, dan ANTM mencatat foreign inflow terbesar, sementara tekanan terkonsentrasi pada saham TPIA, CUAN, dan ISAT.
Sentimen turut ditopang RAPBN 2027 yang menargetkan pertumbuhan 6,0%, namun tetap menjaga disiplin fiskal dengan defisit 2,40% PDB, lebih rendah dari 2,68% pada APBN 2026.
“Kami melihat kombinasi pro-growth dan fiscal discipline sebagai sinyal awal yang konstruktif, meski pencapaian target pertumbuhan akan sangat bergantung pada efektivitas belanja dan investasi swasta,” ungkap Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto di Jakarta, Selasa (18/8).
“Memasuki perdagangan 18 Agustus, IHSG berpeluang mempertahankan momentum positif, tetapi foreign flow dan Rupiah tetap menjadi konfirmasi utama untuk menilai keberlanjutan rally,”tambahnya.
Sementara, Jessica Tasijawa, Analis PT Mirae Asset Sekuritas menuturkan, RAPBN 2027 menargetkan defisit fiskal yang lebih rendah sebesar 2,40% PDB dari outlook 2026 sebesar 2,85%, dengan pendapatan Rp. 3.426 triliun ( nai 6,8%), belanja Rp.4.097 triliun ( naik 3,9%), dan kebutuhan pembiayaan turun 8,6% menjadi Rp.671,2 triliun.
Namun, pencapaian target tersebut akan sangat bergantung pada realisasi penerimaan, khususnya penerimaan pajak yang ditargetkan tumbuh +12,1% YoY menjadi IDR2.591,4tr, jauh di atas rata-rata pertumbuhan 10 tahun sebesar 7,76%.
Jessica mengutarakan, total belanja K/L diproyeksikan turun tipis menjadi IDR1.504,74tr dari IDR1.510,55tr, dengan BGN tetap menjadi penerima anggaran terbesar sebesar IDR240,20tr meskipun turun dari IDR268,0tr pada 2026.
Penurunan alokasi untuk Pekerjaan Umum dan Kesehatan di tengah kenaikan anggaran pendidikan menunjukkan realokasi belanja dibandingkan ekspansi belanja secara luas, sehingga program prioritas tetap berjalan sekaligus menjaga ruang fiskal.
Sementara, tambah Jessica, harga minyak meningkat tajam seiring eskalasi tensi di Timur Tengah setelah Iran dan AS memutuskan tidak memperpanjang MoU 60 hari, mendorong WTI naik 2,6% ke USD 84,50/barel dan Brent 2,7% ke USD 90,87/barel.
“Risiko pasokan kembali meningkat seiring lalu lintas di Selat Hormuz turun menjadi hanya tiga kapal pada Minggu, dengan rata-rata lima hari sebanyak 12 kapal, jauh di bawah sekitar 130 kapal sebelum konflik.”
Mengenai Rupiah, Jessica memperkirakan terus menguat ke Rp.17.825/USD, sementara yield INDOGB 10Y dan 2Y turun signifikan masing-masing ke 7,18% dan 6,83%, meskipun yield US Tresury meningkat ke 4,66% dan 4,15%. Penyempitan spread menjadi 252,0bps (10Y) dan 268,2bps (2Y) menunjukkan rally SBN masih didominasi faktor domestik pasca pengumuman RAPBN, meskipun penurunan yield lebih lanjut akan semakin membutuhkan keberlanjutan inflow asing./









































