BANDUNG, Bisnistoday – Perkembangan layanan keuangan digital telah membawa banyak kemudahan bagi masyarakat. Beragam transaksi kini dapat dilakukan dengan cepat melalui aplikasi maupun layanan perbankan digital.
Namun di balik kemudahan tersebut, ancaman kejahatan siber seperti phishing, penipuan, dan pencurian data pribadi juga terus berkembang.
Regional CEO BRI Region 9 Bandung, Dewi Hestiningrum, menegaskan bahwa edukasi kepada nasabah menjadi salah satu langkah utama untuk mencegah kejahatan digital.
Menurutnya, BRI secara konsisten menjalankan kampanye “Perlindungan Data Nasabah” melalui berbagai kanal, mulai dari aplikasi BRImo, media sosial, hingga ruang publik di kantor cabang.
Pesan yang disampaikan pun sederhana namun sangat penting, yakni nasabah tidak boleh membagikan data pribadi yang bersifat rahasia kepada siapa pun.
“Selain itu, seluruh insan Brilian, terutama Mantri, Relationship Manager, Front Liners, dan Agen BRILink, berperan aktif sebagai edukator pertama yang langsung mengingatkan nasabah saat melakukan transaksi. Edukasi yang dilakukan secara repetitif dan multi-kanal seperti ini terbukti membangun kewaspadaan kolektif,” ujar Dewi, dikutip dalam keterangan tertulisnya, kepada Bisnis Today, Selasa (15/6/2026).
BRI juga menerapkan sistem keamanan berlapis untuk melindungi transaksi dan data nasabah. Berbagai teknologi keamanan digital terus diperkuat dalam setiap produk dan layanan yang digunakan masyarakat.
“Kepercayaan nasabah adalah aset paling berharga. Karena itu kami terus meningkatkan sistem keamanan sekaligus mengedukasi masyarakat agar menjaga informasi pribadi dan tidak memberikannya kepada pihak lain,” katanya.
Pentingnya kewaspadaan dalam bertransaksi digital juga dirasakan langsung oleh Erna Rahmawati, Agen BRILink di Sukawening, Kabupaten Garut. Setiap hari, warung miliknya melayani berbagai kebutuhan transaksi masyarakat, mulai dari tarik tunai, transfer uang, hingga pembayaran tagihan.
Namun, di balik aktivitas yang padat tersebut, Erna pernah mengalami kejadian yang menjadi pelajaran berharga. Ia mengaku pernah menjadi korban penipuan saat menjalankan layanan transaksi keuangan.
“Saya pernah kahipnotis, dari Dana,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut membuat Erna semakin memahami bahwa kemudahan transaksi digital harus diimbangi dengan kewaspadaan yang tinggi. Menurutnya, pelaku penipuan kerap memanfaatkan kelengahan dan kepanikan korban untuk melancarkan aksinya.
“Jadi agen BRILink itu harus lebih teliti,” ujarnya.
Sejak kejadian itu, Erna selalu lebih teliti dalam memproses setiap transaksi. Ia memastikan seluruh detail transaksi sesuai dan tidak terburu-buru ketika menerima permintaan yang mencurigakan.
Ia juga menilai edukasi keamanan digital perlu terus dilakukan kepada masyarakat. Sebab masih banyak warga yang belum memahami risiko penipuan digital, terutama yang berkaitan dengan transfer uang maupun aplikasi pembayaran.
Senada dengan itu, Dewi Hestiningrum mengingatkan masyarakat untuk menjaga kerahasiaan data pribadi seperti username, password, PIN, dan kode OTP sebagaimana menjaga kunci rumah sendiri.
“BRI tidak akan pernah meminta data rahasia tersebut dengan alasan apa pun, melalui kanal apa pun. Selalu pastikan transaksi dilakukan melalui aplikasi resmi dan jaringan internet yang aman. Jika menerima pesan, telepon, atau tautan yang mencurigakan, segera abaikan dan laporkan ke Call Center BRI 1500017,” tegasnya.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kemudahan dan keamanan harus berjalan beriringan. Kewaspadaan masyarakat menjadi lapisan perlindungan pertama yang dapat mencegah terjadinya kejahatan digital.E2








































