Kegiatan wisata merupakan perilaku kebutuhan manusia baru selain pangan, sandang dan papan, di dunia modern di era 5.0 secara global. Manusia modern membutuhkan pengalaman eksentrik yang didapat karena pengalaman atas kegiatan, apa yang dilihat dan dinikmatinya.
Dan Indonesia, dengan kekayaan budaya serta alam yang indah termasuk alur navigasi sungai yang jumlahnya sekitar 2.397 aliran sungai itu (berdasarkan data Kemenhub 2023), memiliki potensi menyediakan kebutuhan manusia modern itu lewat industri wisata daerah khususnya di kawasan daerah aliran sungai yang dapat memberikan pengalaman yang eksentrik lewat angkutan sungai.
SURABAYA, Bisnistoday – Ada banyak sungai utama nasional berpotensi dikembangkan untuk mengeksplorasi potensi pariwisata daerah yang mengkombinasikan faktor-faktor tujuan, obyek dan kegiatan wisata di sepanjang banyak sungai utama nasional. Di Kalimantan misalnya Sungai Mahakam di Kalimantan Timur dengan panjang 920 km, Sungai Barito di Kalimantan Tengah (909 km) Sungai Batanghari di Jambi (800 km), Sungai Musi di Sumatera Selatan(750 km) hingga Sungai Mamberamo di Merauke Papua Selatan (670 km).
Wilayah kota Sungai di atas memiliki kekayaan budaya dan alam yang potensial menjadi unggual wisata daerah itu masing-masing. Sekaligus menjadi merupakan jalur angkutan mobilisasi masyarakat selain melewati angkutan darat atau kereta api.
Hanya saja banyak kota-kota sungai dominan nasional tersebut masih belum dapat memaksimalkan geliat wisata air. Utamanya yang terkait dengan angkutan wisata (crusing), olah raga air (yacht and sport), serta wilayah marina khususnya untuk operasi angkutan kapal penumpang cepat. Di masa mendatang, potensi ini yang perlu dieksplorasi lebih baik khususnya angkutan wisata dengan memanfaatkan alur navigasi perairan dalam khususnya sungai (inland waterway).
Banyak praktek empiris angkutan wisata berbasis sungai yang dapat dijadikan rujukan. Seperti di Sungai Chao Phraya (Bangkok), Sungai Saigon (Vietnam), Sungai Rhein di Eropa, Sungai Yangtze di China dan Sungai Chicago di USA. Model pengelolaan angkutan wisata dari berbagai sungai ini sangat didukung oleh aset alur perairan sungai yang handal, bersih, disertai dengan armada kapal penumpang yang laik-layar (umumnya katamaran).
Serta sinergis dengan berbagai lokasi atraksi yang menarik di sepanjang sungai yang dikunjungi. Juga, pengelolaan sungai-sungai tersebut dapat dilakukan secara efektif karena diusahakan secara kolektif dan kolaboratif atas aspek infrastruktur, regulasi, operasi kapal serta penanganan buangan limbah dan sampah ke badan sungai.
Thailand mungkin dapat dijadikan contoh empirik yang dekat sebagai tetangga kita. Negara ini telah mengelola aset sungai dengan baik untuk tidak saja angkutan barang dari ke wilayah hinterland (sumber asal-tujuan barang) saja namun juga angkutan wisata. Ambil contoh di Sungai Chao Phraya yang telah dikelola dengan berbagai angkutan wisata dengan realisasi sekitar 10-11 juta orang wisatawan nasional dan mancanegara tiap tahunnya. Ada tiga faktor yang menciptakan geliat wisata lewat angkutan sungai di sungai ini yaitu dukungan armada kapal yang handal, kesehatan lingkungan sungai yang dijaga, serta penciptaan daya tarik wisata di sepanjang sungai.
Model organisasi pengelolaan sungai untuk potensi wisata daerah di masa mendatang perlu dilakukan secara terintegrasi.
Secara umum ada dua model umum armada angkutan penumpang untuk tujuan wisata di kota Bangkok ini. Yaitu kapal tipe jukung dan kapal katamaran. Kapal jukung dengan kapasitas sekitar 15-20 orang, dapat dikategorikan sebagai kapal konvensional dengan panjang dengan rentang 5-8 meter dengan lebar 1-2 meter.
Sementara yang armada yang lebih maju dan menjadi pilihan para wisatawan adalah tipe katamaran. Kapal dengan model ini memiliki dua lambung kapal yang dihubungkan dengan dek atau struktur bridging di atasnya. Rentang parameter teknisnya seperti panjang keseluruhan 30–40 meter, lebar 5–7 meter, kedalaman 2-3 meter. Dan dilengkapi dengan dua dek penumpang dengan sekitar 140-150 orang dan dek atas (upper-deck) 70–80 orang penumpang.
Sungai yang membelah kota Bangkok ini juga dijaga kesehatan lingkungannya akibat sampah, atau limbah yang datang dari kota, dan dari trafik kapal dengan pengumpulan, pengolahan dan monitoring sungai setiap harinya. Hal ini dilakukan dengan armada pembersih sungai atas sampah, enceng gondok serta buangan cairannya serta fasilitas pengolahanya sekaligus di kapal atau di darat. Di sepanjang Sungai Chao Phraya juga terdapat berbagai tujuan wisata menarik terkait wisata rohani, sumber daya alam, budaya atas berbagai ekosistem masyarakat serta kegiatan belanja serta makanan-minuman khas.
Kondisi Eksis Dan Pengembangan di Indonesia
Sementara itu, di dalam negeri, berbagai masalah utama angkutan sungai nasional khususnya untuk mendukung kegiatan wisata utamanya akibat tingkat kesehatan sungai yang rendah, armada kapal wisata yang terbatas kehandalannya, serta minimnya tujuan, kegiatan dan nilai tambah wisata yang dapat ditawarkan.
Sungai-sungai nasional dihadapkan pada resiko banjir (inflasi limpahan aliran sungai ke wilayah sekitar) dan sebaliknya, serta pendangkalan sungai akibat destruktifnya aktivitas hulu sungai yang berdampak pada debit aliran di hilir. Di samping itu pembuangan sampah dan limbah baik yang berasal dari wilayah daratan (lingkungan sekitar sungai) seperti kota, industri, ekosistem ekonomi sekitar daerah aliran sungai (DAS) secara signifikan mengurangi kualitas sungai guna mengakomodasi berbagai kegiatan angkutan atau kegiatan ekonomi lainnya.
Dampaknya, kedalaman alur navigasi perairan sungai menjadi lebih terbatas. Akibat lanjutannya adalah ukuran kapal yang dapat dioperasikan khususnya kedalaman kapal menjadi terlimitasi. Konsekuensinya skala ekonomi atas mobilisasi penumpang menjadi tidak efisien atau harganya menjadi lebih mahal. Pilihan angkutan sungai akhirnya beralih ke moda angkutan darat yang konsekuensinya mendorong opsi unimodal angkutan darat ini mengakibatkan banyak persoalan seperti kemacetan, mahalnya investasi angkutan darat serta persoalan ketersediaan lahan.
Armada kapal yang melayani angkutan perairan sungai nasional khususnya untuk angkutan penumpang termasuk untuk kegiatan wisata juga masih relatif terbatas. Kapal tipe jukung penumpang dengan kisaran kapasita angkut 0-10 gross tonnage (GT) dengan kapasitas hingga 20-30 orang penumpang.
Kapal tipe ini biasanya melaksanakan berbagai fungsi angkutan yang konvensional (indigeneous transport) untuk kepentingan ekonomi-sosial lokal sekitar sungai. Selanjutnya kapal-kapal untuk kemampuan lebih dari itu hingga kapasitas 50-100 orang relatif jarang ditemukan dengan tingkat kehandalan khususnya keselamatan dan keamanannya yang masih rendah. Khususnya atas aspek konstruksi, permesinan serta fasilitas yang baik untuk penumpang
Selanjutnya, spot tujuan wisata yang berada sekitar sungai juga tidak ditata dengan baik serta dikelola dengan menarik. Penataan wilayah sungai atas daerah pemukiman, pasar, serta aktivitas jasa yang terkait dengan aktivitas kota, tidak memiliki nilai wisata yang tinggi khusunya terkait budaya, olah raga, hiburan, dan kegiatan menarik lainnya. Padahal, ada banyak potensi budaya daerah, bukti sejarah, alam yang indah, serta makanan tradisional yang dapat memberikan pengalaman yang eksentrik dan tidak terlupakan bagi wisatawan nasional dan internasional.
Untuk itu, usaha mempertahankan kesehatan dan kebersihan lingkungan sungai sangat mempengaruhi tingkat keselamatan, efisiensi dan kontinuitas jasa angkutan perairan untuk kargo dan manusia atau penumpang. Hal ini dapat dilakukan lewat usaha membersihkan badan sungai lewat usaha pengumpulan, pembuangan (disposal) serta pengolahan berbagai sampah dan limbah dapat bermanfaat untuk pemanfaatan energi.
Ketersediaan armada kapal serta operasi pengumpulan dan penyimpanan sampah (solid) di badan sungai merupakan kegiatan atau program yang perlu dilakukan secara kontinu untuk menjaga tingkat keselamatan operasi pelayaran dalam khususnya angkutan sungai di Indonesia.
Model organisasi pengelolaan sungai untuk potensi wisata daerah di masa mendatang perlu dilakukan secara terintegrasi. Koordinasi dan sinergi perlu dilakukan secara kolektif oleh Kementerian dan Lembaga serta berbagai dinas teknis infrastruktur di tingkat propinsial, kota hingga kecamatan dan desa.
Kolaborasi publik-swasta juga menjadi tuntutan. Khususnya antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, badan usaha negara, serta badan usaha swasta. Usaha bersama dalam bentuk kolaborasi itu diperlukan untuk melakukan usaha pengelolaan, proteksi serta pemantauan terhadap lingkungan dari wilayah sungai termasuk kegiatan pengerukan, reklamasi serta usaha konservasi lingkungan navigasi perairan sungai.
Pemerintah daerah dan pemerintah pusat, diharapkan dapat menyediakan infrastruktur dasar, fasilitas utilitas, aksesibilitas darat yang baik serta peralatan navigasi yang cukup untuk opperasi pergerakan kapal di sungai baik di waktu siang dan malam. Termasuk penyediaan infrastruktur terminal kapal penumpang di sepanjang sungai serta kepastian keamanan dan keselamatan di wilayah alur sungai maupun terminal.
Pihak pelaku usaha baik skala kecil, menengah dan besar dapat mengusahakan ketersediaan armada angkut penumpang yang laik layar (river worthiness). Termasuk menerapkan prosedur penanganan sampah, limbah serta emisi gas buang yang baik sesuai dengan standar konvensi Marpol (marine pollution) 1973/1978 oleh International maritime organization (IMO).
Surabaya, November 2024
Oleh : Saut Gurning, Guru Besar Logistik Maritim ITS

