JAKARTA, Bisnistoday – Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Rabu (2/6/2026), memperingatkan prospek ekonomi global bergantung pada berapa lama perang di Timur Tengah berlangsung.
Jika perang berlanjut hingga tahun depan, mereka memprediksi resesi akan terjadi di sejumlah negara dengan tingkat inflasi yang jauh lebih tinggi.
Sebaliknya, jika konflik tersebut berakhir, produksi minyak dan gas di kawasan Teluk secara bertahap dapat kembali ke tingkat normal seperti sebelum krisis, mulai kuartal ketiga. Namun, pasokan untuk Asia kemungkinan masih terbatas yang dapat diimbangi dengan stok cadangan atau pengiriman dari kawasan lain di luar Teluk.
Dengan skenario dasar tersebut, OECD, seperti dikutip Channel News Asia, memprediksi pertumbuhan global bakal turun dari 3,4 persen pada tahun 2025 menjadi 2,8 persen pada tahun 2026, sebelum meningkat menjadi 3,1 persen pada tahun 2027.
Namun, jika gangguan pasokan energi berlanjut hingga tahun depan, pertumbuhan global dapat melambat tajam menjadi 2,1 persen pada tahun 2026 dan 1,8 persen pada tahun 2027, tingkat yang jarang terjadi di luar krisis besar seperti krisis keuangan 2008 hingga 2009 atau pandemi COVID-19.
Menurut OECD, beberapa negara dapat jatuh ke dalam resesi. Negara-negara Asia yang bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, kemungkinan akan terdampak paling parah.
Inflasi Global
Selain itu, kenaikan harga energi dapat menambah inflasi global sebesar 0,4 poin persentase pada tahun 2026 dan 1,3 poin persentase pada tahun 2027, yang kemungkinan akan mendorong bank sentral untuk menaikkan suku bunga sebesar 0,5 hingga 0,75 poin persentase dalam jangka pendek.
Dalam skenario dasar, OECD memperkirakan inflasi di seluruh negara G20 akan mencapai puncaknya pada 4 persen tahun ini, sebelum melambat menjadi 3,1 persen tahun depan dengan suku bunga sebagian besar tetap stabil tahun ini dan pemotongan suku bunga diperkirakan terjadi tahun depan.
Pertumbuhan perdagangan global diperkirakan akan melambat setelah kinerja yang kuat pada tahun 2025, meskipun permintaan yang kuat untuk barang dan investasi terkait AI, terutama di Asia, seharusnya dapat menjadi sedikit penolong.
Untuk diketahui, konflik di Timur Tengah bermula ketika AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu. Serangan ini memicu kemarahan Iran dengan balik menyerang Israel dan sekutu AS lainnya di Kawasan Teluk. Iran juga menutup Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur distribusi seperlima pasokan energi global.
Meski telah diterapkan gencatan senjata, kubu yang bertikai sesekali masih saling serang, terutama pasukan Israel yang bentrok dengan pejuang Hizbullah yang pro-Iran di Lebanon.//

