JAKARTA, Bisnistoday – Kebijakan yang diambil Bank Indonesia yang menahan BI Rate sebesar 5,75% dinilai sebagai pro terhadap pertumbuhan. Hal tersebut diungkap Ryan Kiryanto, Ekonom Senior dan Associate Faculty LPPI di Jakarta, Rabu (19/2).
“Keputusan RDG BI tersebut sudah tepat, terukur dan terarah. Kombinasi atau bauran kebijakan pro-stabilitas dan pro-pertumbuhan,” tutur Ryan Kiryanto.
Menurut Ryan, keputusan BI rate telah mempertimbangkan ekspektasi inflasi di tahun ini terkendali sesuai dengan target BI yang 2,5% plua minus 1; serta untuk mendorong kestabilan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah tekanan eksternal yang kuat (terutama terkait dengan perubahan stance kebijakan ekonomi AS di bawah Pres. Donald Trump.
“Keputusan RDG ini semangatnya untuk tetap mendukung peluang pertumbuhan ekonomi ke depan, maka keputusan RDG BI tersebut sudah tepat, terukur dan terarah. Kombinasi atau bauran kebijakan pro-stabilitas dan pro-pertumbuhan ”
Ryan menambahkan, Kebijakan pro perrumbuhan berjalan seiring sehingga diharapkan mampu memberikan pijakan yang kuat bagi pelaku ekonomi dan pelaku sektor keuangan perbankan tetap optimis (namun tetap waspada) dalam melakukan ekspansi (kredit dan bisnis) untuk menopang target obyektif pertumbuhan ekonomi 2025 berkisar 4,9-5,2%.
Apalagi, lanjut Ryan Kiryanto, dengan Realokasi atau refocusing anggaran dalam APBN 2025 supaya lebih efektif, optimal dan produktif yang diharapkan tetap menjadi game changer atau stimulus dan daya ungkit bagi kegiatan perekonomian secara luas.
“Dengan begitu, diharapkan mampu menciptakan multiplier effects yang sebesar-besarnya, terutama membuka lapangan kerja, menyerap tenaga kerja dan menurunkan tingkat kemiskinan. ”


