www.bisnistoday.co.id
Selasa , 17 Maret 2026
Home NASIONAL & POLITIK Lingkungan Dari Lahan Sampah Menjadi Kawasan Hijau: Kisah Transformasi Mangrove Banyu Urip
Lingkungan

Dari Lahan Sampah Menjadi Kawasan Hijau: Kisah Transformasi Mangrove Banyu Urip

Lahan Mangrove
KAWASAN Hijau Mangrove, Desa Banyuurip, Kec. Ujung Pangkah, Kab. Gresik, Jatim./
Social Media

GRESIK, Bisnistoday – Tak ada yang menyangka, lahan bekas pembuangan sampah dan limbah rumah tangga di Desa Banyu Urip, Kabupaten Gresik, kini menjelma menjadi kawasan hijau pembibitan mangrove. Perubahan itu terwujud berkat kolaborasi masyarakat setempat bersama PT Saka Energi Indonesia (PGN Saka), yang sejak 2014 konsisten mendorong pelestarian pesisir.

Kepala Desa Banyu Urip, Ikhsanul Haris, mengingat kembali masa awal inisiatif ini.“Dulu tempat pembuangan limbah dan kulit kerang, sekarang jadi lahan hijau. Kita mulai dari nol, belajar dari sentra Tuban, lalu berkembang hingga lahirlah Banyu Urip Mangrove Center (BMC),” ujarnya.

Program pembibitan ini berdiri secara resmi pada Agustus 2023, dengan modal awal 80.000 bibit mangrove. Kini, lebih dari 70.000 bibit telah ditanam di berbagai lokasi pesisir, seperti Kali Lewean di Pangkah Kulon, Mangrove Center Banyuurip, Kali Sumbalan, hingga Kali Rojula. Menurut data Kelompok Muara Tangguh Desa Pangkah Wetan yang diketuai Aunillah, stok bibit mangrove saat ini sudah mencapai 92.000 batang.

“Kita membeli bibit seharga Rp300 per batang. Kalau sudah tumbuh 3–5 daun siap tanam, bisa dijual Rp1.500 per pohon,” jelas Aunillah.

Menantang Lumpur dengan “Pancalan”

Proses penanaman bibit mangrove bukanlah pekerjaan ringan. Para penanam menghadapi ombak besar, panas terik, hingga lumpur yang dalam. Untuk itu digunakan alat tradisional bernama pancalan, semacam ski lumpur.

“Kalau tanpa pancalan, orang bisa terperosok di lumpur. Menggunakannya pun perlu keseimbangan tubuh,” terang Aunillah. Setiap kali menanam 10.000 bibit, dibutuhkan sekitar 30–35 pekerja yang mahir memainkan pancalan.

Dukungan PGN Saka

External Relations Supervisor PGN Saka, Subali, mengakui tantangan terbesar bukan hanya teknis, melainkan mengubah pola pikir masyarakat.
“Kebiasaan nelayan adalah pagi berangkat, siang pulang dan langsung dapat uang. Sementara menjadi petani bibit butuh waktu tiga hingga empat bulan untuk panen. Mengubah mindset itu tidak mudah,” katanya.

PGN Saka pun menggandeng Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University untuk memberikan edukasi. Melalui program bertajuk PANCALAN (Pangkah, Cantik, Lestari, Berkelanjutan), warga diedukasi bahwa mangrove tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga mendukung keberlanjutan tambak udang, kepiting bakau, dan kerang.

“Bila mangrove lestari, sirkulasi air tambak makin lancar. Hasil laut jadi lebih baik dan berkelanjutan,” tambah Subali.

Harapan untuk Masa Depan

Kini, kawasan pesisir Gresik tidak hanya terbebas dari degradasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi baru. Warga yang dulunya hanya menggantungkan hidup dari laut, kini bisa merawat bibit mangrove sambil menjaga lingkungan.

“Setidaknya program ini memberi sambilan bagi nelayan. Pagi mereka bisa ke laut, siang merawat bibit. Ada manfaat ganda bagi masyarakat,” tutur Ikhsanul Haris.

Program pembibitan mangrove ini menjadi bukti bahwa sinergi antara masyarakat dan perusahaan dapat menghadirkan perubahan nyata: dari lahan sampah yang kumuh menjadi pusat pembibitan yang hijau, produktif, dan lestari.//

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

GagasanLingkunganOPINI

Mengantisipasi El Nino

Beberapa waktu lalu, istilah megathrust ramai diperbincangkan. Kini giliran El Nino yang...

suhu panas (ilustrasi)
HumanioraLingkungan

Awas, Panas Ekstrem dapat Menggerus Produktivitas Manusia

JAKARTA-Bisnistoday: Sebuah studi pada jurnal penelitian lingkungan, Health, Selasa (10/3/2026) menyebutkan panas...

Lingkungan

Dibalik Megahnya Konser Legacy of Stars dan Strategi BBS Menyiapkan Pemimpin Dunia

JAKARTA, Bisnistoday,- Perjalanan panjang selama seperempat abad telah mengukuhkan posisi Bina Bangsa...

Emsi Karbon
EnergiHumanioraLingkungan

PBB Setujui Kredit Karbon untuk Proyek Kompor Kayu Bebas Emisi

JAKARTA, Bisnistoday- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kamis (4/3/2026) menyetujui pemberian kredit karbon pertama...