BANDUNG, Bisnistoday – Sudah hampir satu dekade Shalli menjalankan usahanya sebagai agen BRILink di kawasan Pajajaran. Sejak 2016, ia melayani berbagai kebutuhan transaksi keuangan warga yang memilih cara praktis tanpa harus datang ke kantor bank.
Keberadaan layanan tersebut sempat memberikan dampak positif terhadap perekonomiannya. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi usaha mengalami perubahan, terutama setelah pandemi Covid-19 yang memunculkan semakin banyak pelaku usaha serupa.
“Ya kalau perubahan secara ekonomi pasti meningkat ya dengan adanya ini. Cuman kan sekarang banyak pesaing juga otomatis ya rada turun sih sekarang-sekarang mah semenjak corona kayaknya,” kata Shalli.
Meski persaingan semakin ketat, Shalli tetap melayani warga yang datang silih berganti setiap hari. Banyak di antaranya memanfaatkan agen BRILink karena tidak memiliki ATM atau membutuhkan bantuan untuk mengirim uang kepada keluarga dan kerabat.
Bagi Shalli, hubungan yang terjalin dengan pelanggan lebih dari sekadar transaksi. Ia melihat kehadiran agen BRILink sebagai bentuk saling membantu antara dirinya dan masyarakat yang membutuhkan layanan keuangan yang mudah dijangkau.
“Kalau misalnya dia nggak punya ATM, kan ke sini lumayan ngebantu juga. Saling bantu aja lah, dia kaya ngirim ke orang lain kebantu, saya juga kebantu secara ekonomi,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Di balik aktivitas yang terlihat sederhana, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi dalam menjalankan usaha tersebut. Ketersediaan modal menjadi salah satu kendala utama yang harus dipersiapkan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan lancar.
Selain persoalan modal, gangguan sistem juga kerap menjadi hambatan saat transaksi berlangsung. Kondisi itu terkadang menimbulkan risiko yang harus ditanggung sendiri oleh agen ketika terjadi kesalahan dalam proses pengiriman dana.
“Tantangannya, yang pasti modal. Kedua kalau misalnya BRI-nya sistemnya lagi error, sistemnya error, terus ngirim dua kali, ya ditanggung ditelen sendiri aja. Gitu sih sebenernya. Itu aja,” ungkapnya.
Saat sistem mengalami gangguan, Shalli tidak memiliki banyak pilihan selain menunggu hingga layanan kembali normal. Langkah tersebut menjadi cara yang menurutnya paling aman untuk menghindari persoalan yang lebih besar.
“Kalau error gitu ya mau nggak mau nunggu, nunggu sampai sistemnya baik-baik aja baru ini,” katanya.
Bagi sebagian orang, pergi ke kantor bank mungkin bukan persoalan besar. Namun, bagi warga yang menginginkan layanan lebih dekat dan praktis, keberadaan agen BRILink menjadi alternatif yang memudahkan berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari.
Shalli menilai kemudahan akses menjadi alasan utama mengapa layanan seperti ini tetap dibutuhkan masyarakat. Warga dapat memperoleh layanan keuangan tanpa harus menempuh jarak yang lebih jauh.
“Kalau sepenting apa saya kurang ini ya, cuman kalau yang males ke bank, kalau ada yang deket kenapa harus yang jauh sih,” tuturnya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan peran yang dijalankan Shalli selama delapan tahun terakhir. Di tengah persaingan usaha dan tantangan operasional yang dihadapi, ia tetap menjadi salah satu titik layanan yang membantu warga memenuhi kebutuhan transaksi keuangan secara cepat, mudah, dan dekat dari lingkungan tempat tinggal mereka.E2








































