JAKARTA, Bisnistoday – sebagai mitra dagang utama perlambatan ekonomi RRT memberikan dampak tekanan ekonomi Indonesia. Kelesuan ekonomi RRT, disebabkan oleh perang dagang, kelesuan pasar global, juga perubahan faktor pendorong perekonomian, yakni dari ekspor dan investasi menjadi konsumsi rumah tangga. Perubahan tersebut mengakibatkan penurunan permintaan ke Indonesia, meskipun surplus perdagangan bulan September menunjukkan angka yang positif.
Pada periode September 2024, ekspor Industri Manufaktur dari Indonesia ke RRT mengalami penurunan jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, begitu juga dengan impor bahan baku yang juga menunjukkan penurunan. Hal ini dikarenakan ekspor terbesar Industri Manufaktur Indonesia ke RRT merupakan produk hilirisasi. Penurunan permintaaan produk akhir tentu juga akan berdampak pada permintaan produk hulunya.
“Meningkatnya IKI bulan Oktober ini ditopang oleh terjadinya ekspansi 22 subsektor dengan kontribusi terhadap PDB Industri Manufaktur Nonmigas Triwulan II 2024 sebesar 97,7%,” ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif di Jakarta, Kamis (31/10). Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Oktober 2024 mencapai 52,75 (ekspansi), meningkat 0,27 poin dibandingkan dengan bulan September 2024 atau meningkat 2,05 poin dibandingkan dengan Oktober tahun lalu.
Adapun subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Minuman yang peningkatan IKI nya ditopang oleh peningkatan ekspansi seluruh variabelnya. Peningkatan pesanan domestik menjadi faktor utama peningkatan seluruh variabel pembentuk IKI subsektor Industri Minuman. Hal ini didorong oleh persiapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak dan persiapan Hari Raya Natal serta Tahun baru.
Subsektor dengan nilai IKI tertinggi selanjutnya adalah Industri Barang Galian Non Logam. Meski demikian, ekspansi industri ini mengalami penurunan 3,32 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Penyebab penurunan ekspansi ini diduga karena produk RRT yang masih mengambil pangsa pasar dalam negeri. Namun dengan terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 70/2024 terkait Penerapan BMAD keramik yang mulai berlaku pada 28 Oktober 2024 hingga lima tahun ke depan, optimisme pelaku usaha industri ini mulai meningkat. “Pelaku Usaha mengapresiasi terbitnya PMK ini”, ujar Febri.
Sub Sektor Terkontraksi
Sebaliknya, lanjut Febri, subsektor yang mengalami kontraksi adalah Industri Kayu, Barang Dari Kayu Dan Gabus (Tidak Termasuk Furnitur) dsb. Hal ini terjadi salah satunya akibat penurunan ekspor produk kayu ke RRT, yang merupakan mitra terbesar, dimana pada September 2024 ini turun secara nilai hingga 17,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini merupakan imbas perlambatan ekonomi negara tersebut.
Tidak hanya ke RRT, ekspor ke Jepang juga mengalami penurunan khususnya plywood dan blackboard, sebaliknya ekspor ke Uni Eropa mengalami peningkatan ekspor (16,7%(yoy)) di tengah tertekannya harga kayu. Selain itu, isu kebijakan geolokasi di Eropa membuat pembeli masih “wait and see” untuk melakukan pembelian selain isu lingkungan di Pasar Eropa.
Jika dilihat lebih detail, ekspansi IKI bulan ini juga ditunjang oleh berekspansinya ketiga variabel pembentuknya. IKI variabel pesanan baru mengalami ekspansi sebesar 51,62 pada bulan Oktober 2024, meskipun mengalami perlambatan sebanyak 0,33 poin dibandingkan September 2024 ini.
Demikian juga dengan nilai IKI variabel persediaan produk yang mengalami ekspansi sebesar 55,86 atau naik 0,01 poin, serta nilai IKI variabel produksi yang pada bulan ini juga mengalami ekspansi sebesar 52,56 (naik 1,44 poin). Kondisi ini juga tecermin dari persentase kondisi kegiatan usaha pada bulan Oktober yang cenderung stabil dan meningkat sebanyak 77,5%.//





































