JAKARTA, Bisnistoday – Sepanjang tahun 2025, harga emas telah naik +37,88% YTD (USD) dan +40,67% YTD (IDR), sekaligus menjadikan 2025 berpotensi menjadi tahun dengan performa harga emas terbaik sejak 1979.Harga emas mencatatkan sejarah baru pada Oktober 2025, menembus rekor tertinggi sepanjang masa di level USD 4.356/oz pada 20 Oktober 2025, sebelum ditutup di sekitar USD 4.015/oz di akhir bulan. Secara rata-rata, harga emas selama Oktober berada di USD 4.059/oz atau setara Rp 2.164.238 per gram, tumbuh +11% MoM, dan masing-masing +48,46% YoY (USD) serta +56,84% YoY (IDR).
“Bagi konsumen Indonesia, emas kini tidak hanya berfungsi sebagai proteksi nilai, tetapi juga sebagai bagian dari diversifikasi aset keluarga terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global,” ungkap Direktur Investor Relations HRTA, Thendra Crisnanda di Jakarta, Kamis (6/11).
“Lonjakan harga emas global tidak hanya mencerminkan perubahan siklus pasar, tetapi juga pergeseran strategi investor terhadap aset lindung nilai. Dengan penurunan suku bunga di AS dan depresiasi Rupiah di dalam negeri, kami melihat peluang pertumbuhan permintaan emas yang kuat hingga akhir tahun,” urainya.
Thendra menambahkan bahwa November akan menjadi bulan yang dipantau pasar secara ketat, terutama menjelang rilis data ekonomi terbaru dan rapat Bank Indonesia berikutnya. Jika BI kembali memangkas suku bunga, harga emas domestik berpotensi mengalami kenaikan lanjutan.
Sesuai Prediksi Internasional
Selain itu, lanjut Thendra, harga emas dunia kini telah melewati target proyeksi analis internasional. Goldman Sachs yang semula memproyeksikan harga emas di level USD 3.700/oz untuk akhir 2025, kini merevisi perkiraan mereka menjadi USD 4.900/oz untuk Desember 2026. Sementara JP Morgan memperkirakan harga emas akan mencapai USD 5.055/oz pada 2026.
Berdasarkan data yang dikumpulkan tim HRTA dari berbagai sumber, kenaikan tajam ini dipicu oleh kombinasi faktor makro global, mulai dari pelemahan inflasi AS, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, ketidakpastian ekonomi akibat potensi shutdown pemerintahan AS, hingga meningkatnya tensi geopolitik di awal Oktober. Hasil rapat FOMC 29 Oktober 2025 yang menurunkan suku bunga 25 bps ke level 3,75–4,00% turut memperkuat sentimen bullish terhadap emas, meskipun The Fed belum memberikan kepastian pemangkasan lanjutan pada Desember.
Di dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4,75% pada Oktober untuk menahan depresiasi Rupiah yang ditutup pada IDR 16.600/USD. Kondisi ini menciptakan double impact bagi pasar emas domestik: ketika harga emas global sempat terkoreksi, harga emas dalam Rupiah tetap bertahan tinggi, bahkan meningkat, karena pelemahan nilai tukar.


