BANTUL, Bisnistoday – Ribuan pelayat mengiringi perjalanan terakhir Sri Susuhunan Paku Buwono XIII, raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang dimakamkan di kompleks Makam Raja-Raja Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (5/11). Prosesi pemakaman berjalan khidmat dan penuh makna, menegaskan warisan panjang tradisi Mataram Islam yang tetap lestari hingga kini.
Paku Buwono XIII wafat pada Minggu (2/11) pagi, sekitar pukul 07.30 WIB, setelah menjalani perawatan intensif akibat komplikasi penyakit. Sejak kabar duka tersebar, suasana duka menyelimuti Keraton Surakarta. Ratusan abdi dalem, kerabat keraton, dan masyarakat berdatangan ke kompleks keraton untuk memberikan penghormatan terakhir.
Seperti tradisi raja-raja terdahulu, jenazah Paku Buwono XIII terlebih dahulu dimandikan secara adat di lingkungan keraton. Proses siraman jenazah dilakukan oleh para abdi dalem khusus yang telah ditunjuk, menggunakan air dari tujuh sumber mata air suci. Usai dimandikan dan dikafani, jenazah disemayamkan di Bangsal Dalem Probosuyoso agar masyarakat dan kerabat dapat melayat.
Lantunan doa, tahlil, dan gending Jawa mengiringi suasana haru di dalam keraton. Para abdi dalem tampak berbaris rapi mengenakan busana adat Surakarta, sementara gamelan pelog slendro ditabuh lembut sebagai tanda penghormatan terakhir bagi sang raja.
Kirab Adat dari Solo ke Imogiri
Rabu pagi, jenazah Paku Buwono XIII dikirab keluar dari keraton menggunakan kereta jenazah pusaka berusia lebih dari seabad. Kereta kayu berornamen emas itu ditarik oleh delapan ekor kuda putih, diiringi barisan prajurit keraton dan abdi dalem yang membawa ubarampe adat.
Prosesi kirab melewati jalur utama Kota Solo: mulai dari Alun-Alun Selatan, Plengkung Gading, hingga Loji Gandrung rumah dinas Wali Kota Surakarta sebagai titik transit sebelum menuju Imogiri. Sepanjang jalan, ribuan warga tampak menundukkan kepala, menaburkan bunga, dan mengucapkan doa saat kereta pusaka melintas.
“Ini bukan sekadar kirab jenazah, melainkan bentuk penghormatan rakyat kepada raja yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat,” ujar GKR Alit, salah satu kerabat keraton.
Perjalanan Menuju Makam Raja-Raja Imogiri
Sekitar pukul 11.00 WIB, jenazah diberangkatkan ke Imogiri menggunakan ambulans khusus, dikawal iring-iringan polisi dan pengawal keraton. Setibanya di kompleks Makam Pajimatan Imogiri, jenazah disambut dengan penghormatan oleh para abdi dalem Yogyakarta.
Setelah salat jenazah di masjid setempat, jenazah kemudian ditandu secara bergantian melewati 409 anak tangga menuju puncak kompleks pemakaman raja-raja. Prosesi ini dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh tata krama adat. Puluhan penandu dari pasukan Lombok Abang terlihat menahan air mata saat menaiki tangga terjal yang dipercaya sebagai simbol perjalanan ruh menuju alam baka.
Di puncak makam, liang lahat keluarga Kasunanan telah dipersiapkan. Dengan doa dan tabuhan gamelan bedhaya ketawang gending sakral yang hanya dimainkan untuk raja, jenazah Paku Buwono XIII akhirnya dimakamkan berdampingan dengan para leluhurnya.
Simbol Warisan Budaya dan Spiritualitas Jawa
Pemakaman di Imogiri bukan hanya peristiwa duka, tetapi juga simbol kuat keberlanjutan tradisi Mataram. Kompleks makam ini didirikan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma pada abad ke-17 dan menjadi tempat peristirahatan raja-raja besar dari dinasti Surakarta dan Yogyakarta.
“Setiap detail prosesi dari kirab, busana adat, hingga gamelan menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya Jawa masih hidup. Paku Buwono XIII menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini,” ujar sejarawan budaya Jawa, R. Darmawan Santosa.
Bagi masyarakat, kepergian Paku Buwono XIII bukan hanya kehilangan sosok pemimpin spiritual keraton, tetapi juga simbol penjaga tradisi yang memelihara kearifan lokal di tengah arus modernitas.
Langit Imogiri tampak mendung sore itu. Taburan bunga dan aroma dupa memenuhi udara, sementara suara gamelan mengalun pelan dari kejauhan. Di antara tangis pelayat, upacara adat berakhir dengan doa dan tabik hormat terakhir bagi Sang Raja Surakarta.
Paku Buwono XIII kini telah kembali ke pangkuan leluhur menutup satu bab sejarah panjang Kasunanan Surakarta, sekaligus mengingatkan bahwa kemuliaan adat dan budaya Jawa akan selalu hidup di hati rakyatnya./dari berbagai sumber/



