JAKARTA, Bisnistoday- Aksi jual asing kembali mewarnai perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BE) pada perdagangan Selasa (30/3). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merosot.
IHSG yang merupakan barometer perdagangan saham di BEI tersebut melemah 95,38 poin atau 1,55 persen ke posisi 6.071,44. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 terkoreksi 16,64 poin ke posisi 916,88.
Menurut analis dari BCA Sekuritas, Achmad Yaki, pelemahan IHSG pada perdagangan saham Selasa (30/3) dipengaruhi oleh kekhawatiran data inflasi Amerika Serikat (AS) dan data inflasi Indonesia pada 1 April 2021, serta data Credit Default Swap (CDS) yang masih bergerak naik.
Sementara itu, menurut Analis Bina Artha Sekuritas, Nafan Aji pelamahan IHSG juga dipengaruhi oleh belum adanya data makro ekonomi domestik maupun global yang berpotensi memberikan pengaruh positif terhadap pergerakan IHSG.
Selain itu, lanjutnya, dampak dari Archegos Capital Management yang gagal memenuhi margil call turut memberikan sentimen negatif pada pasar saham di BEI.
Pada perdagangan Selasa (30/3), IHSG dibuka langsung melemah dan tak mampu meranja dari zona merah hingga penututan perdagangan.
Bahkan, menjelang penutupan perdagangan masih diiringi aksi jual oleh investor asing. Ini ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing yang mencapai Rp365,63 miliar.
Sementara frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1.064.798 kalitransaksi, dengan jumlah saham yang diperdagangan sebanyak 14,9 miliar lembar senilai Rp10,43 triliun. Tercatat 122 jenis saham naik, 374 sahamturun, dan 133 saham stagnan.
Rupiah Pun Merosot
Sementara itu, kurs rupiah pada perdagangan Selasa (30/3) juga ditutup melemah 35 poin ke posisi Rp14.480 per dolar AS. Pelemahan ini karena tertekan naiknya imbal hasil obligasi AS.
Analis Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail dalam kajiannya menyebutkan, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun saat ini naik ke level 1,76 persen dari sebelumnya 1,72 persen. Kenaikan ini didorong oleh naik tajamnya dataDallas The Fed Manufacturing Index pada Maret menjadi 28,9 atau lebih tinggi dibanding perkiraaan sebesar 18. “Ini menjadi sinyal kuatnya aktivitas sektor manufaktur AS pada Maret,” katanya./






































