JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu (5/5) ditutup menguat 12,09 poin ke posisi 5.975,91, sementara indeks LQ-45 naik 1,5 poin ke posisi 890,42. Penguatan ini setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal 1/2021.
Analis Foster Asset Menagement, Suharto mengatakan selain rilis data PDB, penguatan IHSG juga didorong dari penguatan sektoral seperti industri dasar yang naik 0,78 persen, aneka industri 0,77 persen, dan sektor agribisnis 0,61 persen.
Seperti diberitakan BPS mencatat perekonomian Indonesia pada triwulan I-2021 masih tumbuh negatif atau mengalami kontraksi 0,74 sebesar persen (yoy). Pertumbuhan tersebut mulai memperlihatkan perbaikan karena adanya tren yang menanjak sejak ekonomi triwulan II-2020 terkontraksi 5,32 persen.
Dibuka menguat, IHSG tetap berada di teritori positif pada sesi pertama dan sesi kedua perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor saham terkoreksi dimana sektor kesehatan turun paling dalam yaitu minus 0,92 persen, diikuti sektor energi dan sektor properti & real estat masing-masing minus 0,77 persen dan minus 0,76 persen.
Sedangkan saham tujuh sektor meningkat dimana sektor teknologi naik paling tinggi yaitu 5,38 persen, diikuti sektor perindustrian dan sektor barang baku masing-masing 0,66 persen dan 0,5 persen.
Penutupan IHSG diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau “net foreign buy” sebesar Rp165,6 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 966.640 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 17,51 miliar lembar saham senilai Rp9,22 triliun. Sebanyak 245 saham naik, 234 saham menurun, dan 163 saham tidak bergerak nilainya.
Rupiah Melemah Tipis
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarata ditutup melemah tipis 5 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp14.435 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.430 per dolar AS.
“Dolar mencoba untuk memperpanjang reli pada hari Rabu karena obrolan tentang kemungkinan suku bunga AS yang lebih tinggi dan aksi jual saham teknologi memperburuk sentimen risiko untuk keuntungan mata uang safe-haven,” kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi.
Lonjakan tersebut sebagian dipicu oleh komentar dari Menteri Keuangan AS Janet Yellen yang mengatakan bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk menghentikan ekonomi yang terlalu panas karena rencana pengeluaran Presiden AS Joe Biden.
Yellen kemudian mengklarifikasi pada hari itu bahwa dia tidak melihat tanda-tanda inflasi dan tidak memprediksi pergerakan suku bunga The Federal Reserve.
Investor tengah menunggu data ekonomi mendatang lainnya dari AS, termasuk Institute of Supply Management (ISM) Non-Manufacturing Purchasing Managers Index (PMI) dan Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP./




