www.bisnistoday.co.id
Selasa , 17 Maret 2026
Home EKONOMI Industri Perlu Beralih dari Batubara ke Energi Terbarukan
EKONOMI

Industri Perlu Beralih dari Batubara ke Energi Terbarukan

TRANSISI ENERGI: Transisi ke energi terbarukan tidak hanya di sektor pembangkit listrik, tapi juga terjadi di sektor manufaktur
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Transisi ke energi terbarukan tidak hanya di sektor pembangkit listrik, tapi juga terjadi di sektor manufaktur.  Perubahan iklim yang sedang terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya telah meluas.

Sektor industri yang paling besar menggunakan energi adalah industri makanan dan minuman, pupuk dan kimia, dan semen yang berarti bahwa industri ini menghasilkan emisi yang sangat besar. Beberapa di antara mereka telah beralih menggunakan energi terbarukan.

Di Indonesia, batu bara adalah sumber energi fosil yang paling banyak digunakan dibandingkan dengan energi lainnya, mencapai 38 persen dari total energi nasional pada 2021.

Peneliti Keuangan Iklim dan Energi Perkumpulan AEER, Siti Shara menyatakan, peralihan ke energi terbarukan oleh industri hendaknya dilakukan secara signifikan, bukan sebatas greenwashing. Perusahaan yang belum melakukan transisi ke energi terbarukan kian memiliki resiko tinggi terhadap citra produknya.

 Perkumpulan AEER mencatat transisi ini terjadi di beragam sektor. Dalam sektor makanan dan minuman, Danone-Aqua (Danone Indonesia) sebagai perusahaan minuman terbesar di Indonesia telah membangun 4 PLTS Atap di sepanjang tahun 2018-2021 dan menargetkan pemasangan panel surya di 21 pabrik Danone-AQUA di Indonesia dengan total kapasitas lebih dari 15 MWp pada 2023.

Di sektor pupuk dan kimia, ada  PT Chandra Asri Petrochemical Tbk yang telah membangun instalasi panel surya pada tahun 2019 dan dilanjutkan dengan penambahan panel pada tahun 2021.

Berikutnya ada PT Pupuk Kaltim yang memasang pembangkit tenaga surya dengan sistem rooftop on grid pada tahun 2022. Di sektor semen, ada (PT Semen Padang) dan PT Semen Tonasa yang sudah keluar dari ketergantungan terhadap batu bara. Mereka menghasilkan listrik dari pembangkit listrik tenaga surya di plant mereka.

Beberapa  industri lain juga telah  mengambil  tindakan  dan menegosiasikan  percepatan  transformasi  energi  dari  fosil ke  energi  terbarukan. Namun jumlah ini masih kalah jauh dengan jumlah industri yang belum melangkah menuju energi bersih.

“Jika  lima  perusahaan  makanan  terbesar  di  Indonesia yaitu  PT  Indofood  CBP  Sukses  Makmur  Tbk,  PT Sido  Muncul  Tbk,  PT  Akasha  Wira  International  Tbk,  dan  PT  Tiga  Pilar  Sejahtera  Food  Tbk membangun PLTS  dengan  kapasitas  yang  sama  dengan  Danone Indonesia, ini akan  mengurangi  emisi  lebih  dari  83.000  ton  CO2/tahun,” ungkap Siti Shara dalam keterangannya, Senin (21/3).

Di sektor pupuk, ada PT Pupuk Indonesia sebagai produsen pupuk dan kimia terbesar di Indonesia dan memiliki 9 anak perusahaan yang belum beralih ke energi ramah lingkungan. Mereka masih menggunakan energi fosil untuk sumber listriknya. Selain itu, PT Lotte Chemical Titan Nusantara, PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), PT Kaltim Pasifik Amoniak, PT Lautan Luas Tbk sebagai industri terkemuka belum mengganti sumber energinya ke energi hijau.

Meski 2 anak perusahaan PT Semen Indonesia sudah melakukan transisi energi, masih terdapat anak perusahaan lainnya yang belum beralih meninggalkan energi batu bara. PT Semen Indonesia menguasai 53,1% pasar semen nasional. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dan PT Semen Jawa juga sama.

Siti Shara menambahkan, menggunakan energi batu bara memiliki dampak yang sangat buruk untuk lingkungan dan mengalami kerugian secara ekonomi. Pilihan terbaik adalah menggantinya dengan energi bersih. Industri dapat mencapai efisiensi energi untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan.

“Kami meminta kepada industri-industri yang belum menggunakan energi terbarukan untuk mengambil langkah konkrit menghapus batubara dari sumber energi listrik mereka,” katanya.

Menurutnya, industri sudah harus meninggalkan energi kotor yang sangat nyata merusak lingkungan. Secara ekonomi, membangun pembangkit listrik baru dari energi terbarukan semakin murah daripada mengoperasikan pembangkit listrik tenaga batu bara baru.

Industri juga dapat mengurangi biaya penanggulangan lingkungan akibat emisi batubara. “Ini adalah bagian dari upaya membangun ekonomi berkelanjutan, meningkatkan kualitas hidup manusia, dan menyelamatkan bumi dari krisis iklim,” pungkas Siti Shara./

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menkop dan Agrinas Konsolidasi Rencana Operasional Kopdes Merah Putih

JAKARTA, Bisnistoday – Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono melakukan pertemuan dengan  Direktur...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menkop Tegaskan Komitmen Pemerintah Bangun Ekonomi Rakyat Dari Desa

JAKARTA, Bisnistoday – Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan komitmen pemerintah mengembalikan koperasi...

Semen Merah Putih
EKONOMI

Rumah Tetap Aman Saat Mudik Lebaran, Simak Tips Penting Ini

JAKARTA, Bisnistoday - Tradisi mudik menjelang Lebaran selalu menjadi momen yang dinanti jutaan...

EKONOMIGLOBALKawasan Global

Tiongkok Siapkan Peta Jalan untuk Jadi Negara Sosialis Modern

BEIJING-Bisnistoday: Para anggota parlemen nasional Tiongkok menyetujui cetak biru pembangunan untuk periode...