www.bisnistoday.co.id
Senin , 24 Agustus 2026
Home EKONOMI Kebijakan The Fed Naikkan Suku Acuan Persulit Negara Berkembang
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kebijakan The Fed Naikkan Suku Acuan Persulit Negara Berkembang

ANGGARAN BI: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memperkirakan dalam Rencana Anggaran Tahun Bank Indonesia (RATBI) anggaran bank sentral akan mengalami defisit sebesar Rp19,99 triliun
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,5 persen dinilai semakin mempersulit negara berkembang untuk bisa pulih dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo dalam acara Leader’s Insight Kuliah Umum BI di Jakarta, Senin (21/3) mengatakan, negara berkembang harus mengatasi dampak dari rambatan global, ketidakpastian, dan kenaikkan suku bunga tersebut terhadap arus modal ke negara berkembang.

Selain itu, lanjut Perry, kenaikan suku bunga acuan The Fed turut membatasi kemampuan negara berkembang dalam merumuskan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masing-masing.

Oleh karenanya, ia menyebutkan normalisasi kebijakan moneter menjadi salah isu yang diangkat dan disampaikan pada Presidensi G20 di Indonesia, terutama mengenai perlunya normalisasi negara maju dikalibrasi secara baik, direncanakan dengan baik, dan dikomunikasikan dengan baik.

Seluruh hal tersebut harus dilakukan agar dampak normalisasi kebijakan pada perekonomian global dan negara berkembang bisa dimitigasi dengan baik.

Perry menyebutkan normalisasi kebijakan di negara maju sudah mulai berlangsung dan kemungkinan akan lebih cepat dibanding negara lainnya.

“Kita sudah melihat bahwa Fed sudah mulai menaikkan suku bunga, semula kami perkirakan lima kali kenaikan, tapi dengan inflasi yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang cepat, kemungkinan akan mendorong bank sentral AS menaikkan tujuh kali, termasuk bulan ini,” ungkapnya.

Dirinya menyampaikan kenaikan suku bunga AS akan berdampak pada kenaikan suku bunga global dan persepsi risiko global.

Maka dari itu, normalisasi kebijakan tersebut menjadi salah satu tantangan di tengah pola pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia yang tak seimbang.

Selain normalisasi kebijakan, Perry berpendapat tantangan lainnya adalah dampak panjang ‘luka memar’ atau scarring effect akibat pandemi dan konflik Rusia dan Ukraina./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Java Kopi
Ekonomi & Bisnis

Ekspor Kopi Jawa Barat Senilai Rp2,64 Miliar Dilepas Menuju ke Inggris

BANDUNG, Bisnistoday - Kementerian Perdagangan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyaksikan pelepasan...

EKONOMI

OJK Sebut Kota Bandung Layak Jadi Role Model Pemberdayaan UMKM dan Pemberantasan Rentenir

BANDUNG, Bisnistoday - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat menilai Kota Bandung layak...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

LPDB Koperasi Komitmen Tingkatkan Kapasitas Usaha Pengrajin Lurik Prasojo

JAKARTA, Bisnistoday - Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi berkomitmen terus meningkatkan...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kemenkop Anugerahkan Koperasi Award kepada Gen Z hingga Tokoh Nasional

JAKARTA, Bisnistoday - Kementerian Koperasi (Kemenkop) menganugerahkan Koperasi Award kepada sejumlah tokoh...