JAKARTA, Bisnistoday – Kepala BPOM Prof. Taruna Ikrar terkejut dengan kecanggihan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam dunia kecantikan yang mampu menganalisis kulit hingga tingkat nanometer.
Hal itu disampaikan setelah dirinya melihat langsung penggunaan robot pintar dan juga penggunaan AI beauty di labratorium Paragon. Prof. Taruna mencoba langsung teknologi tersebut untuk mengukur tingkat keasaman dan minyak di wajahnya.
Dia ingin memastikan keauratan teknologi AI beauty dalam memberikan analisis kulit yang lebih akurat dan personal dibanding metode konvensional. Prof. Taruna menegaskan, inovasi semacam ini akan membawa standar baru dalam industri skincare Indonesia.
“Ini bukan investigasi, tapi eksplorasi menyenangkan terhadap kemajuan industri kecantikan kita,” ujar Prof. Taruna, di acara SKINVERSE CLINIC 2025, di Jakarta, baru-baru ini.
“Dari pengukuran tingkat minyak hingga analisis mendalam, teknologi ini membuktikan kosmetik Indonesia tak kalah dengan produk global,” sambungnya.
Acara SKINVERSE CLINIC 2025 sukses memukau publik dengan menghadirkan enam teknologi AI terkini dalam event skincare yang digelar selama 17 hari di Jakarta. Acara ini berhasil menarik 23.300 pengunjung dan meraih rekor MURI untuk pemanfaatan AI terbanyak.
“Kami ingin transformasi industri kecantikan dengan integrasi AI dan dermatologi,” ujar dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO Paragon Corp. Kolaborasi dengan 46 dermatolog bersertifikat menghasilkan 187 jam konsultasi dan 1.428 pengalaman perawatan kulit personal.
Enam inovasi unggulan yang dipamerkan termasuk AI Apothecary Robot Skin yang membuat serum personal secara real-time dan Skin Age Mirror yang memprediksi kondisi kulit 10 tahun ke depan. Teknologi ini memungkinkan diagnosa akurat tanpa prosedur invasif.
“Edukasi berbasis sains harus mudah diakses masyarakat,” ungkap dr. Herliyani M. Purba dari PERDOSKI. Kolaborasi dengan Wardah membuktikan sinergi dunia medis dan industri bisa tingkatkan literasi skincare masyarakat.
Acara ini memberikan penghargaan kepada 15 dermatolog dan konten kreator, termasuk Prof. Dr. dr. Sandra Widaty dan dr. Amanda Wardani, atas kontribusi mereka dalam edukasi skincare digital. Kategori penghargaan mencakup Innovative Dermatologist hingga Skin-Tech Content Creator.



