JAKARTA, Bisnistoday, Jazz Goes To Campus (JGTC) kembali menggebrak industri musik tanah air dengan memperkenalkan format bertajuk “The City Series” yang direncanakan berlangsung di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki pada 25 April 2026 mendatang. Langkah inovatif ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan menuju usia emas festival tersebut, di mana penyelenggara berusaha menciptakan sinergi antara edukasi melalui ruang diskusi dan kemegahan pertunjukan musik dalam satu kesatuan pengalaman yang tidak terlupakan.
Fenomena ini menandai pergeseran penting dalam cara masyarakat mengapresiasi musik jazz, dari yang sekadar hiburan menjadi sarana refleksi budaya yang lebih dalam dan relevan dengan dinamika perkotaan saat ini. Kehadiran acara ini di jantung ibu kota diharapkan mampu menarik minat lintas generasi, sekaligus memperkuat fondasi festival sebelum menyentuh tonggak sejarah 50 tahun pada 2027 mendatang serta menyambut perayaan 500 tahun Kota Jakarta.
Penyelenggara menekankan bahwa konsep ini adalah upaya untuk membawa aliran musik ini lebih luas ke tengah masyarakat urban. Salah satu poin penting yang ditegaskan adalah bahwa, “The City Series menjadi langkah JGTC untuk memperluas jangkauan audiens, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu festival jazz yang terus berkembang tanpa meninggalkan akar artistiknya,” ujar Untung Pranoto, pihak penyelenggara saat jumpa pers di Parle Senayan, Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Berita Terkait: BNI Java Jazz Festival 2025 Bikin Cuan, Nasabah BNI Bawa Pulang Emas Hingga Motor
Salah satu panelis Jazz Goes To Campus “The City Series”, Candra Darusman, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai rangkaian kegiatan yang berjalan paralel dengan Jazz Goes To Campus di kampus dan dikemas dalam format berseri.
“The City Series ini dirancang sebagai rangkaian kegiatan yang berjalan paralel dengan Jazz Goes To Campus di kampus. Formatnya berseri, dan kami rencanakan seri berikutnya akan kembali hadir pada akhir Juli. Kami juga ingin menegaskan bahwa jazz tidak hanya terbatas pada jazz pop, tetapi juga mencakup spektrum yang lebih luas, termasuk mainstream jazz. Tahun ini, penyelenggaraan The City Series juga memiliki keterkaitan dengan momentum perayaan HUT DKI Jakarta,” ujar Candra di tempat yang sama.
Perjalanan acara akan dimulai tepat pada pukul 18.30 WIB dengan sesi talkshow mendalam yang dirancang sebagai pembuka wawasan bagi para audiens yang hadir di Teater Besar. Diskusi ini tidak hanya sekadar formalitas, melainkan sebuah forum intelektual yang menghadirkan tokoh-tokoh besar seperti Candra Darusman, Rano Karno, Chico Hindarto, Sri Hanurga, hingga Agus S. Basuni di bawah panduan moderator Kepra Prasetyo.
Para narasumber ini akan membedah secara komprehensif mengenai pencapaian JGTC selama hampir setengah abad dan bagaimana harapan festival ini untuk terus beradaptasi di tengah perkembangan industri musik yang semakin kompetitif. Topik yang diangkat pun cukup berani, mulai dari skeptisisme publik terhadap musik jazz hingga upaya asimilasi genre ini dengan identitas lokal, termasuk unsur kebudayaan Betawi yang menjadi akar dari Kota Jakarta.
Melalui dialog ini, audiens diajak untuk melihat jazz bukan sebagai entitas asing, melainkan elemen yang mampu memperkaya ekosistem kreatif dan berkontribusi langsung pada perkembangan kota. Penyelenggara menyakini bahwa “Talkshow menjadi pembuka yang memperkaya perspektif audiens sebelum menikmati pertunjukan musik, menjadikan pengalaman yang tidak hanya artistik, tetapi juga reflektif.”
Setelah wawasan audiens diperkaya melalui diskusi, agenda berlanjut secara kronologis ke puncak acara yakni konser utama yang menampilkan format pertunjukan berskala besar namun tetap terasa intim. Panggung Teater Besar akan menjadi saksi kolaborasi luar biasa dari jajaran arranger kenamaan Indonesia, termasuk Erwin Gutawa, Tohpati, Ari Renaldi, dan Adra Karim yang telah mempersiapkan aransemen khusus untuk malam tersebut.
Kemegahan suara akan dihadirkan melalui iringan Bandung Jazz Orchestra yang memberikan tekstur musik big bandyang padat, berpadu harmonis dengan vokal dari Alonzo dan Rose Maryjane. Perpaduan antara musisi senior dan talenta muda ini mencerminkan visi JGTC dalam menjaga kontinuitas genre jazz di Indonesia agar tetap segar dan bisa diterima oleh telinga generasi masa kini.
Secara teknis, konser ini menjanjikan kualitas produksi yang sangat tinggi dengan sentuhan visual modern dan artistik yang disesuaikan dengan tema setiap aransemen lintas genre yang dibawakan.
Kehadiran para maestro ini menegaskan bahwa “The City Series” bukan sekadar konser biasa, melainkan sebuah pernyataan seni bahwa jazz tetap bisa tampil megah sekaligus inklusif di ruang publik yang prestisius seperti Taman Ismail Marzuki.
Pada tahap akhir perhelatan ini, JGTC ingin meninggalkan pesan kuat mengenai inklusivitas musik yang selama ini mungkin dianggap eksklusif oleh sebagian kalangan masyarakat. Dengan mengusung tema yang lebih dekat dengan dinamika kota, acara ini diposisikan sebagai ruang dialog yang mampu menyatukan berbagai latar belakang audiens melalui bahasa musik yang universal.
Strategi ini dilakukan untuk memastikan bahwa jazz tidak hanya berhenti di atas panggung, tetapi juga menjadi bagian dari denyut kehidupan harian warga Jakarta yang sedang menyongsong usia ke-500. Upaya mendekatkan diri dengan audiens dilakukan melalui konsep interaktif di mana jarak antara penampil dan penonton diminimalisir guna menciptakan keterikatan emosional yang lebih kuat selama pertunjukan berlangsung.
Pada akhirnya, “The City Series” diharapkan menjadi katalis bagi pertumbuhan komunitas jazz yang lebih luas dan berkelanjutan di masa depan. Hal ini sejalan dengan misi besar penyelenggara yang menyatakan bahwa “Jazz Goes To Campus ingin menghadirkan jazz sebagai bagian dari denyut kehidupan kota—bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dipahami dan dirayakan bersama.”(Adit)


