JAKARTA, Bisnistoday – Realisasi investasi Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan kinerja solid di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Total investasi tercatat mencapai Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dan melampaui target pemerintah hingga 101,3 persen. Kinerja ini terutama ditopang lonjakan investasi domestik yang tumbuh 26,6 persen YoY, sekaligus menegaskan perannya sebagai jangkar ketahanan ekonomi nasional.
Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mengatakan bahwa dominasi investasi dalam negeri mencerminkan efektivitas penyaluran dana BPI Danantara yang mencapai Rp81,5 triliun, dengan sekitar 80 persen dialokasikan ke sektor domestik, khususnya sektor prioritas dan padat karya. “Investasi ini berkontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja, dengan estimasi 9.000–11.000 tenaga kerja untuk setiap Rp1 triliun investasi,” ujarnya di Jakarta, Senin (19/1).
Meski demikian, Jessica mengingatkan bahwa menjaga momentum pertumbuhan hingga 2026 tidak akan mudah. Setiap 1 persen pertumbuhan PDB diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp800 triliun, sehingga pemulihan foreign direct investment (FDI), terutama dari mitra utama seperti Amerika Serikat dan China, menjadi kunci untuk mendorong produktivitas, ekspor, serta pembiayaan valas jangka panjang.
Tekanan Global Picu Arus Keluar Modal
Di sisi pasar keuangan, Indonesia menghadapi tekanan pada awal 2026. Pada pekan kedua Januari, tercatat arus keluar portofolio bersih sebesar Rp7,7 triliun, terutama berasal dari Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI, seiring meningkatnya sentimen risk-off global. Meski demikian, arus masuk ke pasar saham sebesar Rp3,1 triliun sedikit menahan tekanan tersebut.
Tekanan eksternal juga tercermin pada nilai tukar. Rupiah melemah sekitar 1,2 persen secara year-to-date (YTD) ke level Rp16.885 per dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di Asia. Pelemahan ini terjadi seiring penguatan indeks dolar AS (DXY) dan lonjakan harga emas yang menandakan meningkatnya permintaan aset lindung nilai (safe haven).
Sejalan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah ikut meningkat. SUN tenor 10 tahun naik 18 basis poin YTD ke level 6,25 persen, memperlebar spread dengan obligasi AS (UST) menjadi sekitar 210 basis poin. Meski demikian, persepsi risiko Indonesia dinilai masih terjaga, tercermin dari Credit Default Swap (CDS) 5 tahun yang tetap rendah di kisaran 71.
BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga
Jessica mempekirakan, Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan kebijakan moneter yang berhati-hati. Hal ini tercermin dari lelang SRBI yang meski mencatat permintaan tinggi hingga Rp59,3 triliun, namun penyerapan dibatasi hanya Rp7 triliun dengan yield yang turun ke kisaran 4,6–4,7 persen. Kebijakan ini menunjukkan fokus BI pada stabilitas nilai tukar di tengah volatilitas rupiah yang masih berlanjut.
“Dengan transmisi penurunan suku bunga sepanjang 2025 yang masih terbatas ke sektor riil, serta pertumbuhan kredit yang belum mencapai target 8–11 persen, peluang pelonggaran lanjutan dalam waktu dekat relatif kecil,” jelas Jessica. Oleh karena itu, BI diperkirakan akan menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada rapat kebijakan mendatang.
Dalam kondisi ketidakpastian global yang masih tinggi, PT Mirae Asset merekomendasikan investor untuk mencermati SBN tenor pendek hingga menengah yang dinilai menawarkan keseimbangan risiko dan imbal hasil lebih menarik di tengah fluktuasi makroekonomi dan nilai tukar./




