JAKARTA, Bisnistoday – Kawali Indonesia Lestari (Kawali) menyesalkan atas tindakan aparat Kepolisian saat pengamanan kegiatan pengukuran tanah di Desa Wadas, Kac. Bener, Purworejo, Jawa Tengah. Kejadian tersebut merupakan tanda lunturnya demokrasi di Indonesia. Penolakan masyarakat mengemuka, saat tanahnya bakal dipergunakan untuk
pembangunan bendungan dan proyek pertambangan.
Pegiat lingkungan, Fatmata Juliansyah sebagai Manager Advokasi dan Kampanye KAWALI Nasional dalam keteranganya di Jakarta, Rabu (9/2), menyatakan, stop tindakan represif dan pembatasan bersuara dan berekspresi.
“Ketika tidak ada lagi rasa aman dalam menyampaikan pendapat, maka saat itu lah kebebasan dalam menyampaikan pendapat dan berekspresi dibatasi, yang membuat lunturnya nilai-nilai demokrasi,” tukas Fatmata Juliansyah.
Menurutnya, penolakan masyarakat terhadap rencana pembangunan bendungan dan pertambangan dibalas dengan tindakan represif dari aparat kepolisian yang bertugas mengawal pengukuran tanah yang dilakukan oleh tim pengukur dari Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Ia menambahkan, tindakan penangkapan tanpa alasan, pengepungan, serta penyerbuan kepada masyarakat penolak dengan memakai dan menggunakan senjata yang lengkap telah membuat warga merasa tidak aman dan nyaman dalam menyampaikan suaranya.
“Sangat disayangkan mengapa hal ini terjadi, padahal yg dihadapi adalah kaumnya sendiri, mereka adalah masyarakat dan penduduk asli desa wadas, bukan teroris,” tukasnya.
Fatmata mengaskan, ketika suatu negara penganut asas demokrasi tidak lagi memegang teguh nilai-nilai demokrasi, maka kemunduran yang luar biasa dialami oleh negara tersebut.
“Maka kawali sangat menyayangkan kejadian yg terjadi di desa wadas, dan mengecam keras tindakan represif yang dilakukan aparat kepolisian terhadap warga. Tidak sepantasnya aparat kepolisian sebagai aparat penegak hukum yang seharusnya mengayomi masyarakat melakukan tindakan represif kepada warga,” ujarnya.
Selain kejadian sebagai cermin lunturnya nilai demokrasi, menrut Fatmata, kejadian ini juga akan menimbulkan trauma bagi para penduduk setempat, terlebih bagi kaum perempuan dan anak-anak kecil yang sangat rentan terhadap kekerasan.
“Kesehatan mental anak-anak sangat penting untuk diperhatikan, mengingat mereka adalah generasi penerus yang akan melahirkan calon-calon pemimpin masa depan,”tambahnya./




