JAKARTA, Bisnistoday – Penutupan perdagangan, Jumat (3/4) kemarin, memperlihatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung tertekan. Tekanan jual tidak terbendung, hingga IHSG rela turun 2,2% menuju 7.026. Tampaknya, foreign investor masih melepas saham di BEI. Hal tersebut diungkapkan Analis Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto di Jakarta, Senin (6/4). “Harga minyak di atas USD110 per barel, PMI melemah, saatnya tetap defensif di IHSG,” urainya.
Ia berkomentara, IHSG terkoreksi tajam pada perdagangan akhir pekan, dengan foreign net sell sekitar IDR864 miliar, masih terkonsentrasi di big banks seperti BBRI dan BMRI, sementara BBCA justru mencatat net buy sekitar IDR134 miliar.
“Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen aktivitas manufaktur yang mulai mendingin, tercermin dari penurunan PMI Indonesia Maret ke 50,1 dari 53,8, level terendah sejak September 2025, yang berpotensi menekan ekspektasi pertumbuhan 2Q26.”
Dari sisi kebijakan,menurut Rully Arya Wisnubroto, BEI merevisi aturan minimum free float menjadi 15% dari sebelumnya 7,5% secara bertahap, yang berpotensi menjadi overhang bagi emiten besar dengan free float rendah seperti MYOR, BREN, dan GEMS. “Secara eksternal, tekanan tetap datang dari kenaikan harga minyak, dengan Brent kembali di atas USD110 per barel dan WTI bahkan sudah diperdagangkan di sekitar USD114,7 per barel.’
Sejumlah Isu Pasar
Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa menguraikan sejumlah isu yang dicermati pasar. Setimen yang dimaksud adalah kebijakan tarif AS Section 232 sebesar 100%, kebijakan SAL 2026, serta Yield Obligasi yang mulai merespon positif jangka pendek. Jessica menguraikan, Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif Section 232 sebesar 100% untuk farmasi berpaten yang akan berlaku dalam 120–180 hari nanti.
Sementara, Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah masih memiliki buffer fiskal kuat (SAL IDR 420 tr) untuk merespon ketidakpastian global dan tekanan subsidi energi. Namun, kapasitas SAL bersifat terbatas dan hanya jangka pendek.
Sementara, Jessica menambahkan, pasar obligasi Indonesia menunjukkan perbaikan sentimen, dengan investor asing mencatatkan net inflow IDR3,9tr di SBN, mendorong kepemilikan menjadi 12,6% meski risiko global masih tinggi. Perbaikan ini juga tercermin dari peningkatan permintaan SRBI (+29% WoW) dan yield yang stabil, menunjukkan kepercayaan investor serta efektivitas kebijakan stabilisasi BI.//


