Barangkali telinga rakyat sudah terlalu letih mendengar kata politisi saat ini. Kata itu bagai serbuk pahit yang menempel di lidah, meninggalkan getir yang tak mudah hilang.
Di tengah perekonomian yang kian terengah, mereka justru sibuk mempertontonkan gemerlap, rumah bak istana, mobil yang berkilau, serta tunjangan yang menderas bagai sungai emas.
Ironisnya, mereka sempat-sempatnya berjoget di depan kamera, lalu menebarkan gambarnya ke sudut-sudut negeri yang masih diselimuti lapar. Nir empati, nyaris tak berjiwa.
Padahal bukan itu yang diminta rakyat. Yang diharapkan dari seorang politisi adalah kemewahan yang tak kasat mata, yaitu integritas yang teguh, kecerdasan yang tajam, kepiawaian berdebat tanpa dusta, serta nalar yang jernih.
Indonesia, pada masanya, pernah mengenal politisi dengan kemewahan semacam itu. Di tahun 1950-an, lahir para negarawan muda dari rahim kelas menengah yang tumbuh gagah pasca-kemerdekaan.
Nama-nama seperti Mohammad Natsir, Sutan Sjahrir, Sukiman Wirjosandjojo, Wilopo, dan sederet nama lainnya, berdiri kokoh laksana mercusuar. Mereka mewah bukan karena gemerlap benda, melainkan karena keluasan akal budi.
Mereka memiliki privilese seorang politikus, yakni kemewahan berpikir, kemewahan menyampaikan pendapat, kemewahan menjaga marwah bangsa. Mereka tumbuh dari akar yang dalam, sehingga batangnya tegar dan buahnya ranum.
Ungkapan lama masih relevan: the right man in the right place. Politisi sejatinya lahir dari kapasitas, bukan sekadar dari panggung popularitas. Dan biarlah badut tetap berada di panggung sirkus, jangan dipaksa duduk di kursi kekuasaan.
Dhany Bagja (Wartawan Senior)
















![Seorang petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di wilayah Lege-Cap-Ferret, Prancis barat, pada 24 Juli 2026 [Caroline Blumberg/AP]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/07/Karhutla-680x533.jpg)





















