MEDAN, Bisnistoday – Kemendikbudristek melakukan pendampingan untuk merespons tantangan implementasi Kurikulum Merdeka. Selama dua tahun ini, Kemendikbudristek berupaya memberikan penyederhanaan kurikulum, memulihkan pembelajaran melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan organisasi profesi.
Zulfikri mengatakan untuk meluruskan miskonsepsi implementasi Kurikulum Merdeka di antara guru dan tenaga kependidikan (GTK) di Kota Medan Provinsi Sumatra Utara (Sumut), diadakan lokakarya yang mengusung tema ‘Sosialisasi Kurikulum Merdeka untuk Memulihkan Pembelajaran.’
“Setiap anak mempunyai peran penting dalam kehidupan, untuk itu sebagai pendidik memiliki tanggung jawab untuk mengolah hati, mengolah rasa, dan mengolah karya anak untuk berkembang sesuai kodratnya,” ungkap Pelaksana tugas (Plt.) Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Zulfikri saat membuka lokakarya di Kota Medan, baru-baru ini.
Ia meyakini, lewat Kurikulum Merdeka potensi peserta didik dapat dikembangkan sejak dini sesuai minat dan bakatnya. Sebab, kurikulum ini memberikan kemerdekaan kepada guru untuk fokus kepada materi esensial serta mengurangi beban administrasi.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Atas (Kabid. Pembinaan SMA), Basir S. Hasibuan menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung proses pemulihan pembelajaran di wilayah Sumut.
Basir mengatakan bahwa pola pikir dalam menyikapi Kurikulum Merdeka penting untuk dipahami oleh seluurh warga ekosistem. Ia menilai, Kurikulum Merdeka berjalan sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini diperlukan untuk menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045.
“Selain itu, kami cukup berbangga, karena saat ini Provinsi Sumut masuk di dalam 10 besar peringkat provinsi teratas yang menuntaskan penggunaan akun belajar.id. Capaian ini merupakan hasil sinergi antara Balai Besar Guru Penggerak, pemerintah daerah kabupaten/kota, Kapten dan co-Kapten belajar.id, serta pemangku kepentingan pendidikan di Sumut,” sambungnya.
Pembelajaran Berbasis Proyek
Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Sofyan Tan mengatakan, implementasi Kurikulum Merdeka telah terwujud lewat berbagai pembelajaran berbasis proyek. Contohnya, proyek pengolahan sampah secara sederhana di Kota Medan.
Sofyan menilai penting untuk para pendidik menyesuaikan proses pembelajaran dengan perkembangan situasi dunia. Termasuk menyiapkan generasi untuk menyikapi tantangan teknologi informasi yang berubah secara cepat. “Karena guru adalah promotor siswa,” tegas Sofyan./








































