JAKARTA, Bisnistoday- Sekreataris Kementerian Koperasi dan UKM, Arif Rahman Hakim mengatakan, Kementerian Koperas dan UKM manargetkan kontribusi koperasi terhadap pendapatan domestik broto (PDB) nasional sebesar 5,5 persen dan pengembangan 500 koperasi modern hingga tahun 2024.
“Terget tersebut tercantum dalam Rencana Pembangan Jangka Panjang Nasional (RPJMN) 2020-2024,” kata Arif dalam Webinar Hari Koperasi bertajuk “Menciptakan Ekosistem Koperasi Berbasis Anggota Menuju Koperasi Modern” di Jakarta, Sabtu (10/7).
Untuk mewujudkan target tersebut, kata Arif, pihakna telah menerapkan sejumlah strategi. Di antaranya, strategi pengembangan yang dilakukan antara lain dengan pengembangan model bisnis koperasi melalui koperasi pangan.
Selanjutnya, penguatan kelembagaan dan usaha anggota koperasi melalui strategi amalgamasi seperti pengembangan grup koperasi integratif yang dipraktikkan di NTB. Melalui strategi tersebut, koperasi melakukan diversifikasi usaha yang semula koperasi kredit menjadi berbagai lini usaha lain.
Strategi berikutnya adalah pengembangan factory sharing dengan kemitraan terbuka agar terhubung dalam rantai pasok. “Kemenkop UKM telah berhasil menghubungkan antara offtaker (pembeli) dengan koperasi untuk pemenuhan sejumlah komoditas seperti beras dan pisang,” ungkapnya.
Berikutnya, lanjut Arif, pengembangan koperasi multipihak, yaitu koperasi yang memiliki minimal dua jenis anggota yang berbeda untuk mengagregasi kepentingan serta memberi manfaat yang wajar dan berkeadilan. Kami juga sedang menyiapkan regulasi terkait dengan koperasi multipihak ini,” imbuhnya.
Pemerintah, lanjut Arif, juga mendukung inovasi pada koperasi dengan meluncurkan IDXCOOP yang mendokumentasikan berbagai gagasan dan praktik inovasi perkoperasian.
Ia menambahkan, pola pikir kewirausahaan (entrepreneurship) dari koperasi juga dinilai perlu diubah. Khususnya koperasi simpan pinjam (KSP), perlu melakukan transformasi bisnis dengan mulai masuk membiayai sektor-sektor produktif. “Koperasi simpan pinjam juga harus melakukan inovasi diversifikasi bisnis usaha,” ujar Arif.
Masih Rendah
Terkait dengan kontribusi kontribsi koperasi terhadap PDB, Arif mengakui bahwa saat ini kontribusi koperasi terhadap perekonomian nasional tercatat baru mencapai 5,1 persen. Rendahnya kontribusi koperasi itu membuat koperasi belum sepenuhnya menjadi pilihan utama kelembagaan ekonomi masyarakat.
Padahal, lanjut Arif, koperasi memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, selain meningkatkan ekonomi anggota. Koperasi juga diharapkan menjadi lembaga sosial dan lembaga pendidikan bagi anggota dan masyarakat.
Ia menambahkan selain kontribusinya yang rendah terhadap perekonomian nasional, partisipasi masyarakat untuk menjadi anggota koperasi juga masih rendah.
Partisipasi anggota koperasi di Indonesia baru sekitar 8,41 persen, jauh di bawah rata-rata dunia yang mencapai 16,31 persen.
“Ini tentu juga tantangan buat kita semua, masih banyak ruang-ruang bagi kita untuk turut berpartisipasi dalam memajukan koperasi,” katanya./




