www.bisnistoday.co.id
Selasa , 25 Juni 2024
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis Kosmetik Jadi Pusat Perhatian Pameran Bisnis Peritel
Ekonomi & Bisnis

Kosmetik Jadi Pusat Perhatian Pameran Bisnis Peritel

WANITA Tengah Mempersiapkan Penggunaan produk kecantikan, belum lama ini.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Perdagangan mendorong bisnis produk kecantikan dalam negeri agar semakin menguasai pasar domestik. Untuk itu, Kemendag menggelar Forum Bisnis Peritel Indonesia yang mempertemukan peritel dalam negeri dengan produsen kosmetik lokal, pada Selasa (5/9) di Jakarta. Forum tersebut mengambil tema “Connecting the Booming of Local Cosmetics with Domestic Retailing”.

“Kita perlu bekerja sama menjalankan strategi untuk menjadikan produk kosmetik lokal makin dikenal masyarakat. Salah satunya adalah mengembangkan pasar produk kosmetik dalam negeri melalui sektor ritel. Kami harap para pelaku usaha ritel dengan jaringan distribusi yang kuat dapat membantu pengembangan pasar produk kosmetik Indonesia,” ujar Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Didi Sumedi, di Jakarta.

Forum Bisnis Peritel Indonesia hari ini menjadi bagian dari rangkaian sinergi oleh Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) untuk mendukung industri penunjang modest fashion. Forum bisnis tersebut digagas Kemendag bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika (PPAK), dan Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi).

Hadir sebagai narasumber dalam forum tersebut yaitu Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey, Ketua Umum PPAK Solihin Sofian, dan Sekretaris Jenderal Perkosmi Yanne Sukmadewi.

Potensi Pasar Global

Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag Miftah Farid menyampaikan, McKinsey & Company pada 2017 memperkirakan permintaan global produk kecantikan mencapai USD 580 miliar. Perkiraan itu sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan kulit dan kecantikan.

“Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan permintaan terhadap makanan dan minuman serta alas kaki. Fenomena serupa berlaku pula di Indonesia yang memiliki jumlah populasi wanita mencapai 136 juta jiwa,” kata Miftah saat memberi sambutan.

Miftah menambahkan, di balik potensi tersebut produk kosmetik lokal harus bersaing ketat dengan produk kosmetik impor yang semakin bermunculan di pasar Indonesia. Produk-produk kosmetik Indonesia bersaing dengan produk-produk dari Jepang dan Korea Selatan dengan citra mereka sebagai ikon kosmetik Asia.

Menurut Miftah, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan konsumen terhadap kosmetik impor. Salah satu hal tersebut adalah keamanan produk yang ditandai oleh sertifikasi dan pencantuman komposisi.

“Selain itu, reputasi jenama kosmetik impor di pasaran serta harga produk juga sangat menentukan bagi konsumen sebelum membeli suatu produk. Konsumen terkadang masih memilih produk impor bukan karena ragu terhadap produk lokal, tapi mereka kurang mengetahui atau mengenal produk lokal,” ungkap Miftah.

Potensi Pasar Menggiurkan

Sementara itu, data Euromonitor pada 2022 mencatat bahwa terdapat 3,98 juta unit ritel di Indonesia. Jumlah ini terdiri atas lebih dari 41 ribu ritel toserba, 1.500 pasar swalayan, dan 298 unit jenis hypermarket. Penjualan ritel mencapai Rp1.526,2 trilliun atau meningkat 8,6 persen dari 2021. Hal ini menunjukan bahwa pasar domestik semakin meningkat dan penjualan ritel merupakan salah satu jaringan pemasaran bagi penjualan produk kosmetik di Indonesia.

“Untuk itu, kami berharap forum bisnis kali ini dapat menjadi langkah awal bagi industri kosmetik dan industri ritel untuk menjalin kerja sama dalam meningkatkan pemasaran di dalam negeri, dan selanjutnya hingga mancanegara,” jelas Miftah.

Sementara itu, Ketua Umum PPAK Solihin menuturkan, pada 2022, pasar kecantikan seperti perawatan kulit, wewangian, tata rias, dan perawatan rambut menghasilkan pendapatan sekitar USD 430 miliar secara global. Sejak melewati puncak pandemi Covid-19, pasar kecantikan diperkirakan akan mencapai nilai sekitar USD 580 miliar pada 2027. Proyeksi pertumbuhan diperkirakan 6 persen per tahun.

Begitupun di Indonesia, laporan Statista pada 2023 menunjukkan bahwa pendapatan di pasar kosmetik berjumlah USD 1,85 miliar pada 2023 dan diperkirakan akan tumbuh setiap tahun sebesar 5,26 persen.

Etalase Produk Ritel

Menurut Solihin, etalase toko dibutuhkan untuk terus meningkatkan pasar kosmetik di dalam negeri. Etalase menjadi kebutuhan penting agar para pemakai kosmetik dapat melihat produk secara langsung. “Menggunakan toko sebagai etalase untuk produk kosmetik adalah strategi penting dalam bisnis. Etalase yang menarik dan efektif dapat membantu menarik perhatian pelanggan, membangun citra merek yang kuat, dan meningkatkan penjualan produk,” kata Solihin.

Pada kesempatan yang sama, Sekjen Perkosmi Yanne menjelaskan tentang daya saing kosmetika Indonesia dan potensinya yang besar. Menurut Yanne, kosmetik tematik di Indonesia memperkaya khasanah dunia kosmetika dan dapat menjadi keunikan tersendiri. Selain itu, kosmetik halal di Indonesia memberi nilai lebih sehingga dapat mengisi pasar mancanegara yang memiliki penduduk muslim.

Di samping itu, gaya hidup masyarakat masih terus berkembang. Kebutuhan untuk tampil cantik dan menarik juga semakin tinggi. Klinik kecantikan tumbuh tidak hanya di kota-kota besar. Selain gaya hidup, cara berdagang kosmetik juga berkembang mengikuti perubahan zaman. Salah satu indikasinya adalah peningkatan penjualan kosmetik secara daring.

“Pemerintah dan pemangku kepentingan industri kosmetik secara berkesinambungan perlu mendukung sekaligus mengawasi sektor ini. Dibutuhkan juga peraturan yang sejalan dengan zaman dan upaya menjaga daya saing industri lokal agar bisa kompetitif di pasar,” tambah Yanne.

Stimulus Pasar Lokal

Ketua Umum Aprindo sekaligus ketua umum asosiasi ritel di asia pasifik atau Federation Asia Pacific Retail Association (FAPRA), Roy Nicholas Mandey, mengatakan jaringan yang dibangun Aprindo bisa dimanfaatkan produk lokal Indonesia ke pasar global.

“Kita bisa memanfaatkan networking FAPRA untuk memasarkan produk-produk unggulan ke pasar global. FAPRA memiliki posisi penting untuk memengaruhi kebijakan, sehingga produk lokal bisa masuk ke pasar global melalui kerja sama business to business (B-to-B). Kegiatan B-to-B ini perlu dukungan fasilitasi pemerintah Indonesia, khususnya Kemendag, agar produk kosmetik lokal bisa masuk ke jaringan FAPRA. Aprindo memimpin FAPRA hingga 2025, sehingga masih ada waktu dua tahun lagi untuk berkolaborasi,” ungkap Roy.

JMFW 2024 akan dilaksanakan pada 19—21 Oktober 2023 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang. Selain menampilkan ajang fesyen dan produk modest fashion Indonesia, JMFW 2024 juga akan menghadirkan produk kosmetik buatan Indonesia yang sudah dikenal masyarakat.//

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Happy Anniversary Bisnistoday.co.id

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

Ekonomi & Bisnis

Regulasi TKDN Jadi Berkah bagi Pelaku Industri Mebel dan Kerajinan Nasional

SLEMAN, Bisnistoday  – Regulasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang diterapkan oleh...

Menperin
Ekonomi & Bisnis

Indonesia dan Jepang Perkuat Kerja Sama Sektor Industri

TOKYO, Bisnistoday - Hubungan kerja sama ekonomi Indonesia-Jepang semakin diperkuat melalui berbagai...

Kerupuk Gatas
Ekonomi & Bisnis

Kerupuk Getas Pangkalpinang Menjangkau Pasar Global

PANGKALPINANG, Bisnistoday – Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengunjungi pabrik getas milik...

Ekonomi & Bisnis

Usung Konsep 2 in 1, Harvest City Luncurkan Ruko Savoy Commercial Hub

JAKARTA, Bisnistoday - Sukses dengan pencapaian penjualan ruko tipe Hana Business Square...