BALI, Bisnistoday – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP) mendorong percepatan pendaftaran 12 varietas lokal salak khas Karangasem. Langkah ini dilakukan untuk memberikan perlindungan hukum sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan Bali tersebut.
Kegiatan pendampingan teknis yang berlangsung di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Karangasem (9/9), merupakan tindak lanjut dari program Optimalisasi Pengelolaan Varietas Tanaman di Denpasar sehari sebelumnya. Fokus utama adalah mempercepat pendaftaran ke-12 varietas agar segera mendapat pengakuan resmi.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem, I Made Sugiartha, menyebut pendaftaran varietas lokal ini tidak hanya bermanfaat bagi perlindungan plasma nutfah, tetapi juga untuk mendukung pengembangan agrowisata.
“Melalui pendaftaran varietas tanaman ini, kami ingin mengangkat potensi Desa Sibetan sebagai pusat keanekaragaman salak, sekaligus mendorong pelestarian budaya bertani yang telah diwariskan turun-temurun,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat PVTPP, Leli Nuryati, menegaskan bahwa percepatan pendaftaran menjadi penting untuk mendukung Karangasem dalam ajang internasional.
“Kami berharap proses pendaftaran ini dapat dilakukan akselerasi, sehingga saat mendapatkan GIAHS dari FAO, 12 varietas salak ini sudah resmi terdaftar dan menjadi milik Kabupaten Karangasem,” jelasnya.
Menurut Leli, pengakuan resmi tidak hanya sebatas administrasi, tetapi juga memperkuat daya saing, membuka peluang ekonomi baru, serta meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
Keanekaragaman Salak Karangasem
Hingga kini, Bali telah mendaftarkan 68 varietas tanaman lokal ke PVTPP, mulai dari padi, durian, manggis, hingga tanaman hias. Dari Karangasem, terdapat 12 varietas salak yang sedang dalam proses pendaftaran, yaitu: Salak Ketewel, Salak Manas, Salak Barak, Salak Mesui, Salak Penyalin, Salak Layu, Salak Nyuh, Salak Toris, Salak Maya, Salak Gondok, Salak Pada, dan Salak Muani.
Keanekaragaman ini menjadi daya tarik tersendiri. Misalnya, Salak Barak dengan daging buah merah, Salak Gondokberukuran besar dan berair, serta Salak Ketewel yang memiliki aroma khas mirip nangka. Ada pula varietas unik seperti Salak Layu yang kini hanya tersisa dua pohon, serta Salak Muani yang hanya menghasilkan bunga jantan.
Target Sebelum Ajang GIAHS FAO
PVTPP menargetkan ke-12 varietas tersebut sudah resmi terdaftar dalam satu bulan ke depan, sebelum penyerahan penghargaan Globally Important Agricultural Heritage Systems (GIAHS) dari FAO di Roma, Italia, pada 31 Oktober 2025.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga keragaman hayati sekaligus memperkuat identitas daerah. Selain melindungi plasma nutfah, pendaftaran varietas juga membuka peluang pengembangan ekonomi, memperluas pasar agrowisata, serta menjaga warisan budaya bertani Bali.
Dengan begitu, Karangasem tidak hanya semakin dikenal sebagai sentra salak Bali, tetapi juga siap menempatkan kekayaan lokalnya di panggung pertanian dunia.//

