JAKARTA – Pemerintah secara resmi mengumumkan penghentian total kebijakan impor Bahan Bakar Minyak jenis Solar yang berlaku mulai bulan ini. Langkah bersejarah dalam sektor energi nasional ini berhasil diwujudkan berkat percepatan implementasi program mandatori biodiesel dengan bauran nabati yang lebih tinggi.
Pencapaian strategis tersebut dipaparkan langsung oleh kepala negara di sela-sela agenda peninjauan sektor pangan dan pertanian di daerah Jawa Timur. Keberhasilan memproduksi bahan bakar berbasis kelapa sawit secara mandiri menempatkan posisi tawar Indonesia semakin diperhitungkan di kancah internasional.
“Sebelumnya kita berhasil menjadi negara pertama di dunia yang menghasilkan B50. Sekarang kita hasilkan Solar dari kelapa sawit, jadi dari mulai Juli ini kita tidak impor Solar lagi dari luar negeri,” kata Presiden Prabowo Subianto saat memimpin Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI di Malang, Jawa Timur yang disiarkan secara daring, Jumat (17/7/2026).
Prabowo menegaskan bahwa lompatan besar di sektor hilirisasi komoditas perkebunan ini menjadi fondasi utama dalam memutus ketergantungan pasokan energi dari luar negeri. Komitmen penguatan ketahanan energi tersebut dipastikan akan terus berlanjut ke jenis bahan bakar kendaraan bermotor lainnya.
Otoritas eksekutif kini tengah mematangkan cetak biru untuk mengintegrasikan bauran bahan bakar nabati jenis etanol ke dalam formula bensin reguler. Berdasarkan hasil kajian dan pameran teknologi terkini, kemampuan domestik diklaim sudah siap untuk mengadopsi standar pencampuran awal berbasis tebu.
“Saya melihat pameran tadi sudah mampu menuju E10, etanol 10, jadi bensin nanti dicampur 10% etanol, tapi tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20,” jelas Prabowo.
Guna mengejar ketertinggalan dari negara berkembang lain seperti India dan Brasil yang telah lebih dulu mengadopsi bioetanol skala besar, infrastruktur kilang domestik akan segera dirombak. Target pembangunan puluhan unit pabrik pengolahan baru dicanangkan guna menjamin stabilitas pasokan bahan baku secara nasional.
Langkah akselerasi yang baru saja diresmikan di koridor industri Jawa Barat pekan lalu ini diproyeksikan mampu menyelamatkan devisa negara dalam jumlah yang masif. Penguatan tata kelola energi terbarukan diyakini menjadi modal krusial bagi terwujudnya kedaulatan ekonomi dan ketangguhan nasional yang berkelanjutan.E2









































