CAPE TOWN, Bisnistoday – Kelas Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Cape Town, Afrika Selatan, kembali diselenggarakan. Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, pada kesempatan ini menjelaskan pentingnya program BIPA bagi pengembangan Bahasa Indonesia.
Menurut Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, tiga konteks penting program BIPA. Pertama, meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia bagi pemerhati bahasa, diaspora Indonesia, dan masyarakat internasional di luar Indonesia agar lebih mahir dan percaya diri berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
Kedua, kata Mu’ti, memperkuat peran bahasa Indonesia dalam diplomasi antarbangsa, mengingat bahasa ini telah diakui sebagai bahasa resmi dalam Sidang Umum UNESCO. Ketiga, memperkenalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengungkap keindonesiaan, baik dari unsur budaya maupun ilmu pengetahuan, antara lain, melalui karya sastra, karya ilmiah, dan tradisi lisan, seperti pantun.
Kegiatan pembukaan kelas BIPA ini, juga Konsul Jenderal RI di Cape Town, Tudiono; Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Prof. M. Amin Abdullah; serta Pejabat Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KJRI Cape Town, Daddy Yuliansah.
Lebih lanjut Mu’ti mengutarakan, seseorang yang bisa berbicara bahasa Indonesia, dapat pula berkomunikasi dengan sekurang-kurangnya warga di lima negara selain Indonesia, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam serta sebagian warga di Singapura, Filipina, dan Thailand. Bahasa Indonesia juga menjadi salah satu bahasa populer di Australia sehingga telah diajarkan sejak 1986. Bahasa Indonesia terus berkembang di berbagai negara dan juga diminati untuk dipelajari di kawasan Eropa.
Bahasa Diplomasi
Abdul Mu’ti menambahkan, bahasa Indonesia merupakan bahasa diplomasi sekaligus bahasa persahabatan yang mendekatkan masyarakat lintas negara. Ia juga berharap, dengan belajar bahasa Indonesia melalui program BIPA, warga dunia makin mengenal bangsa dan budaya Indonesia.
Konsul Jenderal RI di Cape Town, Tudiono, menjelaskan bahwa program BIPA di Cape Town telah berlangsung sejak 2022 melalui kerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen. Setiap kelas diikuti 20–50 peserta, dan pada periode ini terdapat 35 peserta yang terbagi ke dalam enam kelas serta satu kelas khusus anak-anak. Karena dilaksanakan secara daring, peserta tidak hanya berasal dari Afrika Selatan, tetapi juga dari Inggris dan Peru./


