www.bisnistoday.co.id
Minggu , 16 Agustus 2026
Home OPINI Gagasan Mengemas Hasrat sebuah Tontonan
GagasanSport & Health

Mengemas Hasrat sebuah Tontonan

Tiket laga Argentina versus Inggris dijual rata-rata US$2.841 (Rp51 juta)—lebih dari dua kali lipat dari harga pertandingan Prancis-Spanyol.

Calon penonton mencari tiket Piala Dunia (Dok:David Ramos/Getty/AFP/AlJazeera)
Calon penonton mencari tiket Piala Dunia (Dok:David Ramos/Getty/AFP/AlJazeera)
Social Media

PIALA Dunia bukan sekadar panggung akbar tempat para bintang sepak bola beraksi. Ia adalah wadah harapan dan kenangan, dikemas menjadi teater pertunjukkan untuk memenuhi hasrat manusia. Di saat turnamen ini mencapai fase semi final, di luar lapangan kontestasi lain berlangsung dengan iming-iming; siapa yang berkesempatan menyaksikan momen spesial, langka, dan bersejarah.

Empat tim elite, Prancis dan Spanyol, Inggris kontra Argentina, akan menjadi aktor sentral pertunjukkan ini. Pertemuan Prancis, tim peringkat satu dunia dan Spanyol yang dua tingkat di bawah, membuat laga ini tentu saja menjanjikan keseruan. Di atas kertas, ini adalah salah satu tontonan yang mungkin terbaik sepanjang turnamen.

Namun, di pasar, prestise saja tidak menentukan nilai.  Menurut ticketData,com, harga iket untuk pertandingan tersebut rata-rata sekitar US$1.325 atau sekitar Rp23 juta, setelah turun 26% selama tiga hari terakhir. Harga itu, kalah jauh jika dibandingkan tiket laga Argentina versus Inggris yang dijual rata-rata US$2.841 (Rp51 juta)—lebih dari dua kali lipat dari harga pertandingan Prancis-Spanyol.

Hal ini menggambarkan prinsip utama pasar kapitalis: harga mencerminkan permintaan dan kualitas. Nama besar Argentina, dengan ‘boneka jualannya’, Lionel Messi, menjelaskan fenomena tersebut. Apalagi, di Atlanta (tempat digelarnya pertandingan), budaya sepak bola sudah berakar kuat melalui klub Major League Soccer, Atlanta United FC. Klub ini memiliki basis penggemar imigran latin yang lumayan banyak sejak arsitek asal Argentina, Gerardo ‘Tata’ Martino, menangani klub tersebut.

Rayuan Gombal

Bagi banyak pendukung atau suporter, tontonan ini bukan sekadar membeli kursi di stadion; itu akan memberi pengalaman emosional langka terkait tradisi leluhur, kebanggaan nasional, dan momen olahraga yang tak terlupakan. Begitulah kira-kira rayuan gombal para makelar pertunjukkan olahraga ini.

Bayangkan, harga tiket naik 34% hanya dalam tiga hari, sempat mencapai US$2.966 sebelum sedikit turun setelah akhir pekan namun tetap dengan aktivitas pembelian yang intens. Setiap pergerakan harga tiket ini mencerminkan gejolak hasrat ribuan orang, yang oleh filsuf Prancis, Jean Francois Lyotard, disebut sebagai libidonomics.

 “Para pembeli tiket itu tidak hanya berinvestasi dalam sembilan puluh menit pertandingan, tetapi juga momen yang akan mereka kenang seumur hidup,” begitulah kira-kira prinsip jualannya.

Tapi, kita yang tinggal di Indonesia dan sedang termehek-mehek menanggung beban ekonomi, tak perlu kecil hati. Kita bisa menyiasati hegemoni kapitalisme ini dengan logika gramscian; cukup dengan secangkir kopi, kacang goreng, sambil selonjoran menontonnya di rumah atau di pos ronda. //

oleh: Adiyanto, wartawan Bisnistoday.co.id

 

 

 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Para pemain Manchester City berlatih. (dok:Mancity)
Sport & Health

Langkah Baru Manchester City tanpa Guardiola  

JAKARTA, Bisnistoday - Selama satu dekade terakhir, Manchester City nyaris tak bisa...

PosIND Pelembang
Gagasan

Ekonomi Belah Ketupat, Mimpi Besar Prabowo Memperkuat Kelas Menengah

JAKARTA, Bisnistoday - Tujuan bangsa ini berdiri, seperti dinyatakan dalam konstitusi oleh...

WINGS Food
Sport & Health

WINGS Nutrition Perluas Akses Nutrisi Berkualitas bagi Masyarakat

JAKARTA, Bisnistoday - WINGS Nutrition sebagai lini bisnis nutrisi WINGS Group menyiapkan...

Logo BI
Gagasan

Independensi Bank Indonesia dan Arah Angin Politik

INDEPENDENSI Bank Indonesia (BI) sering kali disalahpahami sebagai kebebasan untuk berjalan tanpa...