JAKARTA, Bisnistoday- Gelombang panas yang memecahkan rekor di Eropa kian meluas. Selain Belanda dan Inggris, kini fenomena itu juga melanda Italia dan kawasan Balkan.
Selain menewaskan ratusan orang, cuaca panas yang membuat suhu melonjak hingga di atas 40 derajat ini memicu kekhawatiran akan kebakaran hutan dan mengganggu kehidupan sehari-hari di seluruh Eropa.
Pada Senin (29/6/2026) waktu setempat atau Selasa WIB, pemerintah Italia mengeluarkan peringatan panas untuk 22 kota, dari Bolzano di utara hingga Palermo di pulau Sisilia selatan.
Di Vatikan, para peziarah menggunakan kipas dan payung untuk melindungi diri dari panas saat Paus Leo menyampaikan pesan Angelus dari balkon pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, hari libur di Roma.
Di kawasan Balkan, badan layanan cuaca Kroasia mengeluarkan juga peringatan serupa untuk beberapa wilayah, termasuk ibu kota, Zagreb, dan kota-kota wisata Split dan Dubrovnik.
Di Pulau Vis di Laut Adriatik, udara panas memicu kebakaran hutan. Puluhan petugas pemadam kebakaran, didukung oleh empat pesawat, berjuang memadamkan api yang melahap hutan pinus sekitar 55 km (35 mil) barat daya Split.
Sebagian besar Balkan juga masih dilanda panas ekstrem, dengan suhu di atas 35C (95F) diperkirakan terjadi di beberapa bagian Kroasia, Serbia, Rumania, dan Hongaria.
Di Albania yang bertetangga, petugas pemadam kebakaran berhasil mengendalikan kebakaran hutan yang melanda semak-semak dan pohon zaitun di dekat desa Klos di selatan.
“Dengan panas ekstrem, risiko kebakaran hutan meningkat, tetapi kita juga melihat banyak badai hujan, yang jelas mengurangi risiko tersebut,” kata presiden Masyarakat Meteorologi Italia, Luca Mercalli, kepada Reuters. Namun, ia mencatat bahwa badai bersifat lokal dan jumlah curah hujan akan bervariasi dari satu tempat ke tempat lain.
Para peramal cuaca mengatakan fenomena cuaca panas ini mungkin berlangsung lama. Ahli meteorologi Angkatan Udara Italia, Daniele Mocio, mengatakan suhu saat ini diperkirakan akan bertahan, tetap delapan hingga 10 derajat Celcius di atas rata-rata selama beberapa hari lagi.
Mercalli mengatakan gelombang panas lainnya diperkirakan akan terjadi mulai 5 atau 6 Juli, yang akan memengaruhi Prancis, Spanyol, Jerman, Italia, Swiss, dan sebagian Inggris.
Gelombang panas di Eropa, yang dimulai pada 20 Juni, telah membebani sistem perawatan kesehatan, merusak infrastruktur, dan mengganggu pembangkit listrik.
Mayoritas Manula
Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan sekitar 1.300 kematian telah dilaporkan di seluruh benua biru sejak 21 Juni.
Prancis telah melaporkan 1.000 kematian lebih yang terkait dengan gelombang panas. Badan kesehatan masyarakatnya mengatakan sebagian besar korban adalah orang lanjut usia. Mereka juga memperingatkan bahwa jumlahnya diperkirakan akan meningkat.
Media Prancis melaporkan bahwa rumah duka di Paris dan wilayah sekitarnya kesulitan menangani jumlah jenazah.
Para ilmuwan mengatakan gelombang panas ini “hampir tidak mungkin” terjadi tanpa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, yang membuat suhu malam hari yang ekstrem minggu ini 100 kali lebih mungkin terjadi daripada dua dekade lalu.
Dalam unggahan di X pada hari Minggu, Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan Eropa adalah benua yang paling cepat memanas di Bumi, dengan pemanasan dua kali lipat dari rata-rata global.
“Tekanan panas sering disebut sebagai ‘pembunuh senyap’,” tulisnya. “Rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini.”//





































