JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Pengamat pasar saham menilai peristiwa reshuffle kabinet Merah Putih tidak banyak mendapat respon pasar saham. Keberadaan nilai tukar rupiah, UST Yield serta foreign flow masih menjadi isu sensitive terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan, Kamis (1/10), kemarin IHG tergolek lemas 1,01% atau anjlok 61,63 poin ke level 6.009,50.
“Untuk saat ini, Rupiah, UST yields, dan foreign flows tetap lebih menentukan arah IHSG,” urai Rully Arya Wisnubroto, Analis Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, melalui keterangan di Jakarta, Jumat (2/10).
Menurut Rully, IHSG anjlok di level 6.010, bahkan sempat menembus ke bawah level psikologis 6.000 hingga menyentuh 5.973 secara intraday.
“Foreign net sell pasar reguler mencapai Rp240bn, terutama pada BMRI, GOTO, dan BBRI. Tekanan eksternal tetap dominan: Rupiah kembali mendekati Rp18.000/USD, sementara UST10Y menyentuh sekitar 5,32%.”
Rully menambahkan, bahwa reshuffle kabinet menjadi perhatian domestik baru bagi pasar saham. Pembentukan Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi mempertegas prioritas pemerintah pada hilirisasi, sementara perubahan pada Kementerian Perindustrian, Kemenlu. Sedangkan, penambahan pejabat di Kemenko Perekonomian dan Kemenkeu memperluas perubahan tim ekonomi.
Bagi Rully Arya Wisnubroto, dalam jangka pendek, pasar kemungkinan menunggu kejelasan koordinasi dan eksekusi kebijakan. Namun, fokus hilirisasi yang lebih kuat dapat menjadi katalis apabila diterjemahkan menjadi investasi dan proyek konkret./









































