MAMUJU, Bisnistoday– Pemprov Sulawesi Barat menyiapkan makanan siap saji bagi ribuan pengungsi dampak dari Gempa berkekuatan 5,8 magnitudo yang berada di Kabupaten Mamuju, Rabu (8/6).
“Pemerintah Sulbar telah melakukan rapat koordinasi bersama dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk penanganan pengungsi gempa di wilayah Kabupaten Mamuju,” kata penjabat Gubernur Sulbar, Akmal Malik, di Mamuju, Rabu (8/6).
Menurut Akmal Malik, Pemprov Sulbar dan Pemerintah Kabupaten Mamuju segera melakukan langkah cepat membantu masyarakat di pengungsian dengan melakukan tanggap darurat bencana.
Akmal mengatakan, makanan siap saji untuk pengungsi segera disiapkan termasuk membantu tenda darurat bagi masyarakat dan memberikan terpal dan selimut.
“Pemerintah segera membantu warga mendirikan posko pengungsian di sejumlah titik pengungsian di wilayah Kabupaten Mamuju, menyiapkan makanan siap dan kebutuhan lainnya karena masyarakat sangat butuh di tengah bencana ini,” katanya.
Menurut dia, masyarakat Sulbar masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 15 Januari 2021, dan pemerintah akan terus berupaya bersama masyarakat memberikan bantuan bagi mereka yang berada di pengungsian.
Ribuan Pengungsi
Stadion Manakarra Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat dipenuhi sebanyak 11.000 warga mengungsi, pascagempa bermagnitudo 5,8 mengguncang wilayah itu pada Rabu (8/6) siang sekitar pukul 13.32 Wita.
Kapolda Sulbar Irjen Polisi Verdianto I Bitticaca pada rapat koordinasi pascagempa M 5,8 bersama Pemprov Sulbar, Pemkab Mamuju dan unsur Forkopimda setempat Rabu malam mengatakan, terdapat tiga titik pengungsian warga yang terdampak gempa bumi di daerah itu.
“Ada beberapa titik pengungsian, yakni di Jalur II jalan poros Mamuju-Kalukku terdapat sekitar 500 orang mengungsi, di Stadion Manakarra sebanyak 11.000 orang dan di posko Lapangan Ahmad Kirang sebanyak 105 orang,” kata Verdianto.
Sementara, Penjabat Gubernur Sulbar Akmal Malik mengatakan, yang harus disiapkan saat ini adalah makanan siap saji bagi masyarakat, termasuk persediaan selimut dan tenda.
“Tolong tenda-tenda segera disiapkan. Saya minta alokasikan anggarannya karena kita tidak bisa deteksi kapan bencana datang,” ujar Akmal Malik.
Sedangkan Bupati Mamuju Sitti Sutinah Suhardi menyampaikan, telah mengerahkan dapur bergerak untuk menyiapkan makanan cepat saji kepada warga yang mengungsi.”Kami menyiapkan makanan siap saji bagi pengungsi,” kata Sitti Sutinah Suhardi.
Gempa Destruktif Sulbar
Data BMKG mengungkapkan Gempa Mamuju terjadi pada hari Rabu, (8/6) pukul 12.32.36 WIB dengan magnitudo 5,8. Episenter gempa terletak pada koordinat 2,77° LS – 118,56° BT, tepatnya di laut pada jarak 26 KM arah Barat Tapalang Barat, Mamuju, Sulawesi Barat dengan kedalaman 10 km.
Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono mencatat bahwa pesisir Sulawesi Barat merupakan kawasan paling aktif terjadi gempa destruktif.
Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu, Daryono mengungkap bahwa BMKG mencatat sejak 1915 di Pesisir Sulawesi Barat sudah terjadi 9 Gempa Merusak dan Tsunami.
Sejumlah gempa terjadi di wilayah tersebut, terjadi pertama pada 23 Desember 1915, kedua pada 11 April 1967 M6,3 Tsunami, ketiga pada 23 Februari 1969 M6,9 Tsunami, keempat pada 6 September 1972 M5,8 Tsunami, kelima pada 8 Januari 1984 M6,7, keenam pada 7 November 2020 M5,3, ketujuh pada 14 Januari 2021 M5,9, kedelapan 15 Januari 2021 M6,2, dan kesembilan 8 Juni 2022 (5,9).
Gempa terakhir dirasakan sangat kuat di Mamuju dan berdampak menimbulkan kerusakan pada sejumlah bangunan rumah warga dan bangunan lainnya.Gempa ini juga dirasakan di Majene, Pinrang, Palopo, Palu, Sidrap, Pangkep, Makassar dan Masamba. Gempa Mamuju juga dirasakan hingga jauh di Paser dan Samarinda, Kalimantan Timur.
“Gempa Mamuju ini memiliki karakteristik ‘lack of aftershocks’ atau miskin gempa susulan, semoga fenomena ini menjadi pertanda baik,” ujar Daryono./Ant









































