www.bisnistoday.co.id
Selasa , 22 September 2026
Home NASIONAL & POLITIK Lingkungan Penerapan Lingkungan Hijau di Tempat Ibadah Belum Membudaya
Lingkungan

Penerapan Lingkungan Hijau di Tempat Ibadah Belum Membudaya

Diskusi Paramadina
KAJIAN reguler Universitas Paramadina, di Jakarta./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Konsep kekhalifahan tentang ekologi yang diadopsi, dimana agama merupakan penyebab krisis lingkungan yang diungkapkan oleh teolog bernama Lim White. Hal ini kemudian banyak disanggah oleh teolog lain yang berpendapat bahwa krisis lingkungan terjadi karena ekosistem bukanlah agama.

Hal ini disampaikan oleh Budhy Munawar-Rachman, dalam diskusi yang diselenggarakan Paramadina Institute of Ethics and Civilizations (PIEC)  bertema “Isu-Isu Kontemporer Ekoteologi: Tafsir Atas Naskah Kalam Kekhalifahan dan Reformasi Bumi Prof. Dr. Nurcholish Madjid” yang diselenggarakan secara luring di Universitas Paramadina Cipayung, baru-baru ini.

Budhy yang juga Direktur Paramadina Center for Religion and Philosophy ini  juga menyoroti bahwa Isu ekologi belum menjadi isu penting saat ini karena masih jarangnya pembicaraan mengenai krisis lingkungan di masjid-masjid. Saat ini belum ada komunitas yang bergairah dalam menulis mengenai ekologi Islam, dan muncul hanya karena tuntutan administratif semata.

“Saat ini masyarakat belum memiliki repons yang kuat mengenai ekologi. Sehingga harus dikembangkan, saya berharap  Universitas Paramadina juga bisa menjadi pioner kampus hijau.” Ujarnya.

“Kalam dan sejarahnya, terutama pertumbuhannya yang dipicu oleh kemakmuran dan stabilitas politik di bawah pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid berfungsi sebagai cara untuk memperdebatkan dan membela doktrin Islam, seringkali dalam konteks dialog fiqih, falsafah dan tasawuf. Pertumbuhan kalam menyoroti sebagai bentuk menghadapi dan merespons berbagai tantangan intelektual, baik dari dalam maupun dari luar islam.” Imbuhnya.

“Sebenarnya kalam memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman dan penerapan ajaran islam dalam konteks sosial, politik dan lingkungan yang lebih luas” kata Budhy.

“Ekologi transformatif berisi tentang spiritualitas bumi atau ekologi, adanya ilmu pengetahuan tentang ekologi didasarkan adanya iman, ilmu, amal dalam pemikiran cak Nur. Dalam ekoteologi Cak Nur menawarkan perspektif yang mendalam dan transformatif secara menyeluruh tentang hubungan manusia dengan ciptaan dan penciptanya” tuturnya.

Ekoteologi tak hanya dari aspek biologis atau kimia, tetapi sebagai sebuah sistem yang kompleks dan dinamis dimana segala aspek kehidupan saling terkait keadilan, etika dan spiritualitas. Perlu keterlibatan aktif dari tiap individu untuk merenungkan bagaimana tindakan mereka dapat mempengaruhi dunia di sekitar mereka dan bagaimana mereka dapat berkontribusi pada pemulihan dan pelestarian alam.

“Dengan ini ekoteologi Cak Nur mengajak tiap komunitas untuk tidak hanya terlibat dalam aktivitas pelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam skala yang lebih besar” tegasnya.//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Lingkungan

Dari Abu Bakar ke Pupuk Organik: Transformasi Petani Hutan Binaan JTB di Bandungrejo

BOJONEGORO, Bisnistoday – Di balik kokohnya fasilitas operasi gas Jambaran–Tiung Biru (JTB)...

Lingkungan

Ubah Sampah Jadi Berkah: Warga Bojonegoro Sukses Bayar PBB dan Produksi BBM Pertasol

BOJONEGORO, Bisnistoday – Persoalan sampah seringkali menjadi tantangan pelik di kawasan padat...

Lingkungan

Dari Daun Kelor hingga Solar Panel: Cara JTB Zona 12 Merajut Ekonomi dan Lingkungan di Bojonegoro

BOJONEGORO, Bisnistoday- PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 melalui proyek Jambaran...

Kerja Sama IATPI
Lingkungan

Fokus Peningkatan Kualitas Konsultan, IATPI dan INKINDO DKI Jakarta Sepakati MOU Strategis

JAKARTA, Bisnistoday - Permintaan jasa konsultan teknik lingkungan terus melonjak tajam! Tak...